BREAKING NEWS

Monday, 13 August 2018

Sulsel Mulai diguncang Gempa


Selasa, tanggal 14 Agustus 2018 pukul 05:27:24 Wita telah terjadi gempabumi tektonik di daerah Luwu Timur dan sekitarnya.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi yang terjadi berkekuatan M = 3.4 Skala Richter. Lokasi pusat gempa berada di darat, 18 Km Barat laut Luwu Timur pada koordinat 2,42 LS – 121.15 BT pada kedalaman 10 km. Ditinjau dari lokasi episentrum dan kedalaman sumber gempa penyebab gempa ini diperkirakan akibat aktivitas Sesar Matano.
Dari hasil pemodelan shakemap, getaran gempabumi diperkirakan dirasakan pada skala I SIG (Skala Intensitas Gempabumi) BMKG atau setara I – II MMI di Sorowako dan daerah disekitarnya yang berdekatan dengan lokasi sumber gempabumi. Pada skala ini digambarkan getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.
Berdasarkan informasi masyarakat yang diterima di BMKG, getaran gempabumi dirasakan lemah-sedang (I SIG BMKG / I-II MMI) di Sorowako.
Terkait dengan peristiwa gempabumi tersebut, masyarakat disekitar lokasi sumber gempa bumi dihimbau tetap tenang dan tetap menunggu informasi dari BMKG.
(Fado mbojo/ foto: dronestagram)

Friday, 13 July 2018

Akankah Karir Zohri Terbunuh di Indonesia?


Kurang dari dua puluh empat jam, sprinter Indonesia ini sudah menjadi selebritis. Semuanya ingin memanfaatkan dia.

Orang berlomba-lomba meromantisasi kemiskinannya dan membuatnya menjadi cerita Cinderella. Dia memang anak yatim piatu yang tinggal di gubuk berdinding gedeg. Video-video yang memperlihatkan rumahnya dibagikan di media sosial. Tulisan-tulisan mengharubiru dibikin. Cerita-cerita soal kemiskinannya, termasuk tidak mampu membeli sepatu, bisa ditemui di berbagai media.

Tentu tidak lupa, politisi dan kekuatan-kekuatan politik menawarkan segala macam hal. Tukang-tukang plintir bekerja di semua front dengan memanfaatkan status selebritas Zohri yang bahkan belum berumur 24 jam. Mereka memelintir cerita untuk kepentingan majikannya.

Mereka yang bercita-cita mengganti presiden mempersoalkan tidak ada bendera. Tidak ada perhatian dari pemerintah kepada atlitnya, kata mereka. Sementara, para pendukung presiden berusaha menghubungkan Zohri dengan gubernurnya yang merapat ke presiden.

Pendeknya, tidak perlu waktu terlalu lama, selebritas Zohri juga menjadi pertikaian partisan. Sementara di medan lain, orang berlomba memberi ini dan itu. Tentu, sebagaimana layaknya pemberian, ia adalah juga pertukaran. Yang memberi harus juga mendapat.

TNI-AD paling cepat tanggap. Dalam hitungan jam, Danrem setempat melakukan bedah rumah. TNI-AD dengan sigap memperbaiki rumah Zohri. TNI juga  menawarkannya dispensasi untuk Zohri menjadi tentara. Namun ada juga berita bahwa Presiden sudah memerintahkan menteri PU untuk memperbaiki rumah Zohri.

Kalangan agama juga tidak mau kalah. Hidayat Nur Wahid, politis PKS yang juga Wakil Ketua MPR menghubungkan prestasi Zohri sebagai remaja/pemuda Muslim. Dia menulis di twitter: "Remaja AS pertama, Ahmed B Muhammad,Juarai Lomba Baca AlQuran di Dubai, kalahkan peserta dari 100’negara lainnya. Dan Lalu M Zohri, pemuda Indonesia pertama Juara Dunia lari 100 M kalahkan pelari2 unggulan termasuk yg dari AS. Tanda apa? Remaja/Pemuda Muslim Bisa.#Jum’atBerkah."

Lain dengan politisi, seorang ustadz langsung memberikan hadiah berupa umroh gratis kepada Zohri. Sementara, partai yang paling cepat dalam menangkap peluang, sudah mengeluarkan poster dengan Zohri sebagai bintang.

Dua puluh empat jam yang lampau saya mengungkapkan kecemasan saya tentang Zohri. Nampaknya, kecemasan ini sudah menjadi kenyataan. Saya tidak menampik bahwa kemenangan ini patut diapresiasi. Kisah hidup Zohri memang perlu diketahui banyak orang untuk menjadi inspirasi, bukan untuk menjadi bahan kagum plonga-plongo. Dia juga perlu dibantu secara ekonomi.

Namun, prestasi Zohri ini adalah prestasi awal. Dia memang juara dunia. Walaupun catatan waktunya tidak yang terbaik. Dia adalah atlit pemula dengan masa depan yang sangat panjang. Yang dia butuhkan saat ini adalah pelatih dan manajer yang baik. Kompetisi yang reguler. Latihan yang berdisiplin dan terus menerus.

Semua perhatian yang berlebihan, apalagi dengan undangan sana-sini, hanya akan membunuh karirnya sebagai atlit.

Keberhasilan Zohri selain memperlihatkan bahwa kita juga punya peluang untuk bertarung di kelas dunia, juga membuka kelemahan yang paling mendasar. Kita tidak punya klub-klub olahraga dengan pelatih yang standar. Kita tidak punya manajemen olahraga yang berbasis komunitas. Kita tidak punya sarana-sarana untuk berlatih.

Asosiasi-asosiasi olahraga kita dikuasai politisi dan pengusaha. Kepentingan mereka bukan untuk memajukan olahraga tapi supaya terpilih menjadi penguasa atau mendapatkan keuntungan ekonomis.

Masyarakat kita sendiri tidak menaruh perhatian terhadap olahraga, kecuali sebagai penonton, petaruh, dan pengikut fanatik (ingat pendukung klub sepak bola yang berani bunuh-bunuhan?).

Awal piala dunia kemarin, saya membaca esei apik yang ditulis pemain sepakbola Argentina, Ángel di Maria. Dia juga bercerita (tanpa sedikitpun nada romantik yang mengeksploitasi kemiskinannya!). Di Maria bercerita tentang keluarganya sebagai pembuat arang. Ayahnya yang bangkrut. Dia menggambarkan bagaimana ibunya harus bersepeda setiap sore mengantarnya main bola, dalam dingin dan hujan. Juga bagaimana pertandingan pertamanya keluar negeri harus menumpang pesawat angkut militer.

Esei yang berjudul "In the Rain, In The Cold, In The Dark" itu menyadarkan saya. Dalam olahraga, bakat saja tidak cukup. Dukungan keluarga, dukungan masyarakat, sistem kompetisi yang teratur dan baik. Menjadi seorang atlit itu sama seperti menjadi artis yang serius. Dia membutuhkan latihan keras, terus menerus, disiplin, dan keseriusan.

Anda boleh bilang bahwa saya nyinyir. Tapi sekali lagi, saya ingin menekankan, kita membunuh karir Zohri dengan menghujaninya berbagai macam hadiah dan upacara. Biarlah dia berlatih. Berilah dia pelatih yang baik. Kesempatan berkompetisi yang seluas-luasnya. Itu yang lebih dibutuhkan seorang atlit.

(Made Supriatma)

Wednesday, 4 July 2018

BATAS KISAH KAPAL BESI TUA DAN KETABAHAN ORANG PULAU


Jarak antara Bira di Bulukumba dan Pamatata di Pulau Selayar berkisar 2 jam pelayaran menyeberangi Selat Selayar. Inilah perairan yang menghubungkan Laut Jawa di bagian Selat Makassar dengan Laut Arafura di bagian Teluk Bone. Di sinilah konon perahu Sawerigading, tokoh mitologis Bugis, terhempas dan pecah.

Orang Selayar dibesarkan oleh suara ombak dengan badai angin musim Barat dan musim Timur yang silih berganti menerjang Pulau sepanjang 90 km itu.

Ketika kecil kami diajarkan berenang dengan cara dilempar dari atas perahu yang berlayar di air dengan kedalaman melebihi tinggi badan kami.

Lihatlah ekspresi orang Selayar ketika ferry tua karatan yang mereka tumpangi akan tenggelam. Begitu tenang. Karena mereka siap menghadapi saat ketika badan kapal itu pelan-pelan dipenuhi air laut.

Lihat foto:  https://fotosulawesi.blogspot.com/2018/07/batas-akhir-kapal-besi-tua-dan.html?m=1

Kematian memang tak terelakkan. Dan satu kematian sudah cukup menyesakkan. Ada dukacita yang luas. Mungkin nanti ada yang harus bertanggung jawab, birokrasi buruk yang memberangkatkan kapal yang konon tak layak.

Lalu pada saatnya orang Selayar akan kembali menyeberangi Selat itu. Mereka tak kan gentar karena mereka dibesarkan oleh deru ombak dan badai angin.

(Farid Ma'ruf Ibrahim)

Friday, 15 June 2018

Video: Seorang Warga dimangsa Ular saat Menjelang Lebaran


Warga Desa Lawela, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang baru selesai Salat Id, dihebohkan dengan penemuan seekor ular piton yang telah memangsa seorang warga setempat, Jumat (15/6/2018) pagi. Korban bernama Watiba (54) yang hilang sejak Kamis (14/6/2018), ditemukan masih utuh dalam perut ular piton sepanjang 7 meter.

Detik-detik penemuan korban terlihat dalam video amatir yang direkam warga. Informasi dari warga Desa Lawela, Watiba awalnya pamit pada keluarga hendak ke kebunnya, Kamis (14/6/2018) sore. Namun, Watiba tidak kunjung pulang ke rumah hingga tadi pagi.

Keluarga yang khawatir akhirnya mencari korban bersama warga usai Salat Id, Jumat pagi. Namun, mereka tidak menemukannya di perkebunan. Warga hanya menemukan senter, parang, dan sandal milik korban di semak belukar.

Tak lama warga menemukan ular piton dengan kondisi perut yang besar dan menggembung. Warga yang curiga kemudian menangkap ular tersebut beramai-ramai. Setelah memastikan ular piton sudah mati, warga membelahnya. Warga pun terkejut menemukan jasad korban di perut ular tersebut. Jasadnya masih utuh. Dari kondisi jasad korban, ular piton tersebut diduga belum lama memangsanya.

Kejadian ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian setempat. Polisi dibantu warga mengevakuasi jenazah korban ke rumah duka untuk dimakamkan pihak kelurga. Kejadian ini membuat warga sekitar menjadi khawatir karena diduga masih ada ular piton yang berkeliaran di desa itu. (iNews.id)

Repost Video; Muhammad Rajeb Khalik

Monday, 11 June 2018

Melawan Pengusaha Tambang, Dunia Menghormati Wanita Desa ini


Sebagian besar masyarakat Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air. Ketiga unsur ini menjadi simbol marga dan martabat bagi warga setempat.
Karena itu, mereka terusik ketika wilayahnya terancam akibat penambangan batu marmer secara besar-besaran dari investor swasta. 
Salah satu masyarakat Mollo yang berdiri di garda terdepan membendung gempuran perusahaan besar itu adalah Aleta Baun atau sering dipanggil Mama Aleta. Marga Baun sendiri diambil dari unsur air.
Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, Aleta Baun juga dikenal sebagai pemimpin pergerakan masyarakat adat Mollo dalam melawan arogansi perusahaan tambang yang merusak sumber hidup dan kehidupan mereka.
Ia menyebutkan, selama 13 tahun, bersama kelompok organisasinya berjuang secara keras melawan penguasa dan pengusaha yang menghancurkan lingkungan di daerah Mollo, TTS.
“Saya, anak seorang Amaf (raja), tetapi saya perempuan. Menurut adat saya tidak punya hak untuk bersuara dan tidak berhak menjadi pemimpin. Tetapi saya tak bisa tinggal diam, saya memimpin perjuangan menolak tambang. Kami, laki-laki dan perempuan harus berjuang untuk menyelamatkan tubuh kami,” ujarnya.
Aleta dan rakyat Mollo menghadapi intimidasi dan kekerasan oleh preman yang dibayar perusahaan. Aleta bahkan harus mengungsi membawa bayinya berumur 2 bulan, keluar masuk kampung dan sembunyi di hutan.
"Kami berjuang selama 13 tahun [1999-2012] menutup tambang marmer. Kami berikrar untuk tidak lagi membiarkan pembangunan dan ekonomi yang merusak alam. Kami berikrar untuk mandiri. Hingga saat ini kami masih berjuang memulihkan alam," ujar Aleta. 

Tindakan tersebut disampaikan Aleta sebagai bentuk kepedulian rakyat Mollo pada alam. Dia mencontohkan batu marmer di Mollo yang diperlihatkan lewat foto.

"Batu ini sudah tidak utuh, salah satu yang paling mudah memahami isu lingkungan, alam itu seperti tubuh manusia. Batu itu tulang, air itu darah, tanah itu daging dan hutan itu sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Jadi merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri," tuturnya.
Berkat kegigihannya menjaga lingkungan, Aleta Baun mendapat penghargaan sebagai pejuang lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM) dari yayasan Yap Thiam Hien, sebuah lembaga yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia.
Sebelumnya perempuan  kelahiran  Lelobatan, 16 Maret 1966 ini meraih penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 atas jasa-jasanya di bidang konservasi alam.
Mama Aleta menerima langsung Goldman Environmental Prize 2013 dalam satu upacara khusus di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, pada Senin 15 April 2013.
Kali penghargaan kembali disematkan padanya berkat kegigihannya memperjuangkan lingkungan dari gempuran tambang  di Mollo, TTS, Nusa tenggara Timur (NTT).
Aleta Baun menjadi panutan dan pemimpin dari sebuah gerakan untuk menyelamatkan alam, menyelamatkan martabat manusia, menyelamatkan lingkungan dan hak asasi manusia dari serbuan komersialisme industrialisasi, dari serbuan kerakusan dan ketamakan dunia usaha yang tidak peduli dengan lingkungan.

Thursday, 24 May 2018

Pengakuan Mantan Teroris, Ahli Perakit Bom, Ali Fauzi Manzi


Ratusan burung beterbangan di dalam sangkar di halaman rumah. Perasaannya tak enak. Dia sadar ada orang yang masuk ke rumahnya. Dia lalu keluar melalui pintu samping. Di depan pintu utama rumahnya, Dia mendapati sebuah kotak terbungkus rapi. Instingnya mengatakan, ini.... Bom.

***
Sekelompok orang tidak senang saat dirinya menyatakan berhenti dari dunia teroris. Dia lalu diteror. Di media sosial dan di dunia nyata. Oleh mantan kelompoknya, Dia dipanggil dengan sebutan murtad. Lebih syetan dari thoghut. Namanya Ali Fauzi Manzi. Adik dari terpidana mati kasus bom Bali, Amrozi dan Ali Imran ini dianggap sebagai penghianat.

Suatu ketika Ali Fauzi mendapat kiriman bom di depan rumahnya. Bom high explosive. Siap meledak dengan pemicu tekanan tertentu. Beruntung Ali Fauzi memiliki latar belakang keilmuan tentang bom. Dengan sigap dan hati-hati, mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) ini mengurai rangkaian bom itu. Satu per satu kabel dia runut. Hanya menggunakan alat seadanya. Kaos tangan, gunting dan pisau cutter. Dia mendapati wire yang berhubungan dengan  detonator yang dipasang di pintu utama rumahnya. "Pemicunya adalah tekanan pintu rumah. Jika saya mendorong pintu itu, bom ini akan meledak. Mungkin mereka lupa, klo saya ini mantan guru perakit bom",ungkapnya dengan sedikit tertawa. Setelah merasa aman dia lalu menghubungi petugas jihandak.

Sepenggal cerita itu menjadi bahan ceramah Ali Fauzi. Mantan teroris jaringan Al Qaeda di Asia Tenggara. Dia berceramah di hadapan ribuan prajurit TNI AD di Masjid Sultan Hasanuddin Makodam XIV Hasanuddin, Selasa, 22 Mei. Pangdam XIV Hasanuddin dan Kasdam XIV Hasanuddin, Mayjend TNI Agus Surya Bakti dan Brigjen TNI Budi Sulistijono turut hadir, duduk bersila di saf depan. Para prajurit begitu antusias. Mereka ingin mendengar langsung pengalaman hidup seorang teroris paling diburu. Masjid besar itu bahkan tak cukup menampung semua prajurit. Beberapa diantaranya menggelar tikar di halaman masjid.

"Kakak saya --Amrozi dan Ali Imran, dieksekusi di Nusakambangan. Saya sendiri yang memandikan, mengkafani, men-salat-kan, dan kirim jenazahnya pulang ke kampung saya, Lamongan", ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Dia menceritakan bahwa rangkaian teror dalam kurun waktu tahun 1999 - 2010 di Indonesia merupakan ulah jaringan kelompoknya. Termasuk serangkaian ledakan ribuan kilogram bahan peledak di Kuta dan Jimbaran, Bali, yang menewaskan ratusan orang. "Kami memang mengincar orang bule (turis asing), simbol-simbol barat, kedutaan atau konjen", tegas mantan pasukan elit camp militer Moro Islamic Liberation Front (MILF) ini. MILF adalah pasukan elit yang dilatih khusus ilmu kemiliteran di Mindanao, Filipina Selatan. Teroris tenar macam, Noordin M Top dan DR Azhari alumninya.

Ali Fauzi menceritakan, saat keluar dari penjara dia tak tahu harus berbuat apa. Pengangguran, tidak ada penghasilan. "Saya merasa terpuruk. Keluarga saya, istri dan anak saya tidak bisa makan", kenangnya. Hidupnya kembali ke titik nol. Bahkan minus. Namun ibarat kata, setelah hujan badai akan ada pelangi. Dia kemudian bertemu Agus Surya Bakti. Kala itu, Agus masih menjabat sebagai Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT RI.

"Di sinilah titik balik kehidupan saya", sebutnya.
"Saya bahkan menganggap beliau sebagai seorang Brama Kumbara. Sosok pejuang, yang berwibawa, penolong dan baik hati". Dia menambahkan, "Dahulu ia musuh saya, sekarang sahabat saya", sambung dosen STIT Lamongan ini disambut tawa dan tepuk tangan ribuan prajurit seakan mencairkan suasana.

Saat ini Ali Fauzi sering tampil di televisi. Diundang sebagai pembicara pengamat bom dan terorisme. Pernah menjadi pembicara di Lemhanas. Diangkat menjadi Duta Google Ideas Save, Didaulat menjadi Duta Perdamaian Aliansi Indonesia Damai, dan menjabat sebagai Direktur Lingkar Perdamaian.

Bagi Ali Fauzi, tak ada orang baik yang tak punya masa lalu, begitupun tak ada orang jahat yang tak punya masa depan.

Sumber :
Abe Bandoe/Wartawan Foto Harian FAJAR

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates