BREAKING NEWS

Thursday, 27 December 2018

Merambah Hutan Alami, Komunitas Jeep dan Motor Trail Butuh Regulasi Khusus


SULAWESI DIARI. Aktivitas petualangan dengan mobil jelajah dan motor trail saat ini sedang marak hampir di seluruh daerah di Indonesia. Dalam tiga tahun belakangan, eksistensi para petualang yang disebut "Off Roader" ini meningkat pesat. Ribuan komunitas penggeber mesin ini bermunculan dari berbagai daerah. Sepintas tampak positif karena banyak wilayah terpencil dalam hutan rimba yang kini tereksplorasi dan terbuka dari hasil kegiatannya.

Seiring makin menterengnya desain otomotif adventure, peminatnya pun semakin membludak. Saking banyaknya komunitas mereka, sudah tak terhitung jumlah turnamen yang digelar untuk memuaskan animo para pelakunya. Kawasan hutan dan pegunungan seolah tak satu pun luput di jelajahi. Alhasil suasana hutan alami yang dulunya sepi dan damai, kini setiap waktu terusik dengan ratusan suara mesin kendaraan yang meraung-raung.

Menjamurnya peminat petualang "urban" tersebut belakangan ini khususnya pengendara motor trail ibarat dua sisi mata uang.  Sisi satunya, keberadaan mereka terbukti mampu membuka akses wilayah yang terisolir namun di sisi lain juga berpotensi merusak habitat atau ekosistem alami dalam kawasan hutan. 

Dari penelusuran penulis, umumnya dalam komunitas Off Roader punya aturan-aturan yang disepakati tentang etika menjaga lingkungan alam dan aspek sosial dan budaya. Namun apakah ada sanksi khusus jika aturan "tak tertulis" itu dilanggar? Apalagi diketahui jika sebagian besar dari para penjelajah bermesin itu tidak memiliki dasar pengetahuan dan etika yang biasanya dipegang oleh aktifis alam bebas. Boleh dibilang, mereka baru mengenal alam ketika menjajal mesin mobil atau motornya dalam kawasan hutan.

Ketika puluhan bahkan ratusan pengendara mobil atau motor jelajah itu ramai-ramai menggeber mesinnya masuk jauh ke dalam hutan, sangat berpotensi
mengacaukan aspek sosial dan dinamika konservasi alam. Warga desa yang tinggal dalam kawasan hutan sudah mengeluhkan hal ini. Menurut mereka, kegiatan off-road dan motocross dalam kawasan hutan menyebabkan kerusakan jalan produksi pedesaan terutama jalur-jalur perkebunan mereka. Suara yang dihasilkan motor trail ataupun mobil jeep juga sangat mengganggu ketenangan satwa liar.





Belum usai berbagai masalah sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari kalangan komunitas "Backpacker", komunitas Off Roader ini pun muncul menambah kekisruhan. Belum ada regulasi pemerintah yang mengatur hal-hal tersebut apalagi menyangkut aktivitas rutin komunitas Off Road dan Motocross dalam kawasan hutan. Namun berdasarkan UU Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan disebutkan bahwa setiap orang dilarang merusak sarana dan prasarana perlindungan hutan. Pelanggarnya diancam pidana penjara paling singkat satu tahun, atau denda paling sedikit Rp 200 juta.

Di kutip dalam sebuah artikel media nasional, saat ini di Jawa Timur dan Jawa Tengah, aktivitas penjelajahan Off Road dan Motocross dalam kawasan hutan sudah mulai dibatasi. Larangan tersebut memang bermula dari pola tingkah para rider trail yang bersikap liar dan kerap tidak mengundang rasa simpati dari masyarakat. Ada pula rider yang bersikap bodoh dan mengabaikan aspek alam. Menyikapi larangan tersebut, beberapa komunitas berusaha melakukan evaluasi untuk merubah sikap dan perilaku komunitas.

Namun melarang total aktivitas komunitas petualang ini juga dianggap sebuah kesalahan. Perilaku buruk pengendara trail tidak bisa disamaratakan. Sebab banyak komunitas yang bersikap tertib menyangkut pelestarian alam. Peranannya tidak bisa lepas sebagai pembuka akses dan mempromosikan potensi sebuah kawasan khususnya pariwisata daerah.

Dari pengamatan penulis, regulasi yang ketat untuk aktivitas Off Road dan Motocross dalam kawasan hutan memang diperlukan. Bisa dibayangkan betapa porak porandanya kondisi alam jika kawasannya terus menerus dirambah ratusan mobil Jeep dan motor trail. Kerusakan kontur alaminya bisa mencapai puluhan kilometer. Bagaimana jika dilakukan secara rutin dan berulang-ulang? Hanya untuk kesenangan segelintir orang, daya rusaknya berdampak kepada alam dan mengganggu penghidupan warga sekitar hutan.

Perlu dilakukan sistem Zonasi dan pembatasan jumlah peserta. Tidak perlu membuat jalur baru selain  yang sudah ditetapkan kecuali untuk kebutuhan survey (berizin). Selain itu, diterapkan pula sistem penetapan waktu kegiatan agar kawasan hutan yang sudah dirambah mobil atau motor itu setidaknya punya waktu untuk merehabilitasi diri secara alami.

Penetapan aturan standar itu diharapkan bisa dibuat dalam undang-undang khusus oleh instansi terkait seperti BKSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Peraturan itu kemudian disosialisasikan kepada semua komunitas penggiat Off Road dan Motocross se-Indonesia agar disepakati demi menjaga pelestarian hutan. Selain itu bisa meminimalisir terjadinya masalah-masalah sosial khususnya untuk warga yang hidup dalam kawasan hutan.


BUMI ADALAH KITA.

Tuesday, 25 December 2018

Cacing Laut : Sumber Gizi Murni dari Laut



SULAWESI DIARY. Cacing laut atau yang lebih dikenal dengan nama Cacing Kacang (Sipunculus Nudus/Peanut Worm) rupanya menjadi salah satu alternatif makanan utama. Kandungan Proteinnya melebihi berbagai jenis ikan (Maksimal 40%; Ikan Tenggiri 22%). Selain kandungan proteinnya cukup tinggi, biota laut yang hidup di pasir dan padang lamun ini juga mengadung kadar air 76,57%, Karbohidrat s/d 10%, lemak 1,70%, serat kasar 1,05% pun mengandung mineral dan kalsium.




Faktanya biota laut ini belum populer bagi masyarakat Indonesia (seharusnya menjadi menu khusus diberbagai restoran) berbanding terbalik dengan realita kebutuhan kuliner di luar negeri. Cacing Kacang yang telah dikeringkan ternyata sudah menjadi produk untuk diekspor khususnya ke Jepang dan China, dan menjadi makanan yang sangat mahal disana.






Saat ini, biota laut yang dikenal masyarakat Kendari dengan nama Sipou ini telah menjadi sumber rezki baru bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

(Sumber : Indra Andari/ Toli-toli Giant Clam Concervation Sulawesi Tenggara)

Sunday, 7 October 2018

Dibalik Gempa Bumi dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah


Para ilmuwan masih mencoba menentukan penyebab pasti gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada hari Jumat pagi (28/9/2018) di Sulawesi Tengah. Bencana dahsyat itu diasumsikan para ahli, bukan gempa dorong seperti jenis sebagian besar tsunami di mana lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun yang memindahkan air. Fenomena bencana di Palu adalah disebabkan oleh apa yang dikenal sebagai kesalahan strike-slip, di mana lempeng tektonik bergerak secara horizontal.

Menurut Phil Cummins, seorang profesor bencana alam di Australian National University, gempa bumi seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah itu biasanya hanya menyebabkan tsunami yang sangat lemah.

Telah dikemukakan bahwa gempa bumi tersebut menyebabkan tanah longsor bawah laut yang besar dan menggantikan beban air. Tanah longsor bawah laut ini diperkirakan terjadi di teluk Palu, dekat dengan pantai, atau lebih jauh ke laut.

Umumnya tsunami disebabkan oleh gempa bumi ratusan mil dari pantai, dan getarannya jarang dirasakan di darat. Seperti yang dicatat oleh Cummins mengenai bencana di Palu, “Adalah tidak biasa untuk melihat bencana ganda seperti ini.” Dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bawah air untuk menentukan penyebabnya.

Ada klaim bahwa badan meteorologi dan geofisika Indonesia, BMKG, telah menghapus peringatan tsunami terlalu dini, sebelum gelombang menghantam pantai Palu. Dikabarkan pula bahwa pelampung laut yang mendeteksi gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dari sistem peringatan dini belum diperbaiki selama enam tahun tidak berfungsi.

Namun, Cummins dan Adam Switzer, ketua sekolah lingkungan Asia di Nanyang Technological University di Singapura, sepakat bahwa bencana itu bukan kegagalan teknologi tetapi minimnya edukasi.

Berbeda dengan tsunami 2004 yang menghancurkan Asia selatan, gelombang ini tidak didorong oleh gempa bumi yang terjadi ratusan mil di laut. Sebaliknya yang terjadi di Palu adalah tsunami lokal akibat gempa dekat pantai. Diperkirakan bahwa gelombang tsunami menghantam Palu hanya 30 menit setelah gempa. "Bagi orang-orang di pantai dan di kota, gempa itu seharusnya menjadi peringatan dini," kata Switzer.

Switzer mengatakan bahwa dampak awal tsunami menyebabkan kerusakan paling besar, meskipun pergerakan puing ketika gelombang ditarik kembali juga terbukti mematikan. “Kehancuran terbesar dari tsunami umumnya adalah kekuatan air yang menabrak benda-benda ketika menghantam pantai. Air tsunami yang mengalir di antara bangunan juga mempercepat kerusakan, ”katanya.


Switzer mengatakan: "Ada sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu, yang panjangnya sekitar 200km. Peristiwa seperti ini pernah terjadi pada tahun 1937 dan peristiwa lainnya di awal 1900-an. Meskipun tidak jelas apakah itu menyebabkan tsunami. Sebuah makalah yang pernah diterbitkan pada tahun 2013 di mana disebutkan bahwa bentuk sesar Palu, lurus dan sangat panjang, memiliki potensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak. Namun dokumen tersebut seolah terabaikan.

Dr Kerry Sieh, dari Earth Observatory of Singapore, mengatakan: "Telah diketahui bahwa patahan di Palu telah menyimpan strain dan mengakumulasi regangan pada beberapa sentimeter setiap tahun. Kondisi ini merupakan kesalahan sistematik yang sangat cepat terjadi selama bertahun-tahun."

Cummins mengatakan: “Fokus pada titik kegagalan teknologi di sini adalah salah arah karena ini adalah tsunami lokal. Dalam hal ini tidak dapat mengandalkan sistem peringatan agar orang-orang bisa menyelamatkan diri. Mereka tidak sanggup menunggu sirene atau peringatan, mereka harus bergerak cepat. Masalahnya adalah, dari apa yang saya lihat dari rekaman, banyak orang tampaknya tidak melakukan itu. ”

Dia menambahkan: “Entah mereka tidak tahu apakah perlu melakukan itu atau mereka tidak percaya apa pun yang akan terjadi? dalam kasus yang mengatakan orang-orang di Sulawesi tidak berpendidikan tentang apa yang perlu mereka lakukan dalam situasi ini. Itulah yang membunuh orang. ”

Pertanyaan tentang seberapa jauh jarak laut dimana tsunami berasal, dan seberapa besar kecepatannya? beberapa perkiraan telah menyebutkan bahwa tsunami di Palu bergerak di 500km/jam di teluk Palu dan melambat secara substansial sebelum menghantam pantai. Ombak setinggi enam meter di beberapa tempat dan mencapai hingga satu kilometer ke daratan.

Telah disebutkan bentuk sempit teluk Palu terkonsentrasi dan diperkuat kekuatan gelombang. "Bentuk teluk di Palu memainkan peran," kata Cummins. “kondisi ini dapat menyalurkan energi tsunami makin besar dan berpusat di ujungnya. Membuat tsunami bisa bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sumber: The Guardian

Saturday, 29 September 2018

Data manual SAR, Data Korban Gempa dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah







Friday, 7 September 2018

Sisemba : Tradisi saling Menendang dalam Masyarakat Toraja


Matahari pagi masih redup mengintip di antara pekat kabut yang menyelimuti pegunungan Tikala Kandeapi kabupaten Toraja Utara. Di saat udara masih sangat dingin, tampak ratusan orang berbondong-bondong jalan beriringan di tengah hamparan sawah yang baru saja usai di panen.

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyaksikan sebuah perayaan tahunan panen raya yang dikenal dengan pesta Sisemba ', Sisemba adalah sebuah tradisi masyarakat Toraja yang unik dimana melibatkan orang banyak saling terjang dan menendang secara massal. Umumnya pesta rakyat Sisemba ini dihadiri ratusan orang yang datang dari berbagai desa di kawasan tersebut.

Di Tikala Kande Api kabupaten Toraja Utara, tradisi budaya Sisemba masih dilestarikan dengan baik terutama dalam merayakan panen raya.

Para wanita yang juga datang dengan membawa berbagai jenis makanan tradisi khas Toraja. Salah satu yang utama adalah nasi bambu atau Piong. Nasi bambu merupakan penganan utama dalam pesta-pesta besar masyarakat Toraja. Begitu pesta panen raya akan digelar, berbagai makanan khas menjadi wajib untuk disajikan, pertunjukan tari-tarian Toraja, serta tradisi menumbuk padi yang dikenal sebagai ma'lambuk. Semua keunikan tradisi tersebut menjadi serangkaian acara utama.

Puncak dari pesta panen yang paling ditunggu adalah Sisemba'. Sisemba' dalam bahasa Toraja berarti saling menendang. Prosesnya dilakukan oleh ratusan orang dalam sebuah lapangan terbuka. Uniknya, tradisi ini seolah berlangsung tanpa aturan dan terkesan brutal dimana orang saling menerjang dan menendang untuk menjatuhkan lawannya.

Sepanjang sejarah pertunjukan Sisemba, banyak orang yang sudah menderita luka dan patah tulang. Meski begitu, tradisi Sisemba masih terus memikat generasi-generasi selanjutnya.

Ketika Sisemba digelar, semua orang pasti datang dari berbagai daerah. Mereka berkumpul dan membentuk sendiri kelompoknya masing-masing. Tidak ada kegiatan pembuka yang macam-macam. Setelah aba-aba dari panitia, spontan semua orang langsung saling terjang. Bunyi pukulan pun terdengar di sana sini tanpa henti disertai dengan teriakan keras.

Tradisi sisemba mengandalkan kuda-kuda serta kekuatan kaki untuk masing-masing saling menjatuhkan lawan. Masing-masing peserta berpasangan dan berpegangan tangan untuk mendapatkan kekuatan terjangan. Mereka mencoba menjatuhkan lawan dari berbagai arah dan posisi bahkan saling memukul secara bersamaan.

Meski terkesan brutal, tradisi Sisemba memiliki aturan ketat yang tidak tertulis dan telah disepakati secara adat. Salah satu aturannya adalah ketika lawan sudah terjatuh di tanah, ia tidak bisa lagi diserang sampai ia kembali berdiri.

"Ketika saya kena tendangan, 100%, tubuh pasti sakit, tetapi tidak apa-apa, ini jelas merupakan risiko jika ikut acara Sisemba," kata Yohanis, salah satu peserta Sisemba‘.

Tradisi Sisemba merupakan tuntutan adat bagi masyarakat di kawasan Tikala. Tujuannya adalah meneguhkan hati yang memberi keyakinan untuk panen berlimpah di masa depan. Jika Sisemba tidak dilakukan, pesta panen berikutnya diyakini akan gagal. “Ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada alam yang susah dilakukan sejak nenek moyang. Jika ma’semba ditiadakan, biasanya hasil panen padi berikutnya akan menurun ”kata Isaak Padang Sulle, tokoh masyarakat Kandeapi.

Para pemimpin masyarakat tradisional selalu turun campur tangan jika ada peserta Sisemba' yang dianggap melanggar aturan. Makanya, meski banyak peserta yang terluka, tetapi emosi mereka hanya sebatas dalam arena Sisemba'. Jika acara sudah berakhir, para peserta akan bubar tanpa membawa kebencian satu sama lain.

Budaya Sisemba' adalah bentuk tradisi di mana sportivitas ditegakkan secara nyata. Kekerasan dalam prosesnya adalah bentuk filsafat yang menunjukkan bagaimana manusia harus menghadapi hidup dengan keras, tetapi tetap harus berjalan sesuai dengan aturan.

(reporter: Yahya maulana / editor: Indra Mae / photo: letmeshowyouaround)

Friday, 31 August 2018

Ada Apa dengan Langkanya Tabung Gas 3 kg?


Belakangan ini mulai tampak kelangkaan gas elpiji 3 kg di berbagai daerah di Indonesia. Banyak konsumen rumah tangga menjerit karena harus mengantri cukup lama bahkan tidak mendapatkannya. Hal ini sebenarnya lagu lama yang acap terjadi dan terbukti merugikan konsumen karena harus membeli dengan harga yang melambung. Pernyataan Pertamina bahwa kelangkaan ini dipicu oleh permintaan yang naik menjelang Natal dan Tahun Baru, adalah tidak cukup rasional.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dan musabab apa sehingga gas elpiji 3 kg menjadi langka?

Ada beberapa hal untuk menyorot hal itu, baik dari sisi harga, distribusi dan juga kebijakan subsidi.

Pemicu pertama kelangkaan gas elpiji 3 kg adalah adanya disparitas harga yang sangat jomplang antara gas elpiji 3 kg dengan gas elpiji 12 kg. Akibat dari disparitas harga yang seperti ini adalah banyak pengguna gas elpiji 12 kg berpindah menjadi pengguna gas elpiji 3 kg. Selain murah, banyak konsumen 12 kg yang berpindah ke 3 kg karena dianggap praktis, mudah dibawa. Konsumen menengah keatas pun tak malu-malu menggunakan gas elpiji 3 kg karena alasan ini.

Penyebab kedua, terjadi penyimpangan distribusi gas elpiji 3 kg. Semula pola distribusi gas elpiji 3 kg bersifat tertutup, artinya konsumen yang berhak saja yang boleh membelinya. Sekarang distribusi tersebut bersifat terbuka/bebas, sehingga siapa pun bisa membelinya. Ini menunjukkan adanya inkonsistensi pola distribusi oleh pemerintah.

Akibat dari disparitas harga dan penyimpangan distribusi itu maka terjadi migrasi/perpindahan dari pengguna 12 kg menjadi pengguna 3 kg. Tak kurang dari 20 persen pengguna 12 kg yang berpindah ke 3 kg, karena harga 12 kg dianggap sangat mahal sementara harga 3 kg sangat murah, karena disubsidi.

Kondisi ini makin parah manakala terjadi penyimpangan/pengoplosan oleh distributor dan atau agen nakal. Mereka mengoplos demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Dari sisi kebijakan subsidi kelangkaan ini juga dipicu oleh sinyal bahwa pemerintah akan mencabut subsidi gas elpiji 3 kg. Hal ini diawali dengan pemangkasan slot kuota gas elpiji 3 kg yang semula sebanyak 6.5 metrik ton dipangkas menjadi 6.1 metrik ton, berkurang 400 ribuan metrik ton. Sementara permintaan gas elpiji 3 kg malah naik mengakibatkan suplai berkurang alias langka. Pemerintah makin limbung saat subsidi gas elpiji 3 kg terus melambung karena penggunaan gas elipiji 3 kg terus meningkat.

Oleh karena itu, jika pemerintah memang serius untuk memasok konsumen menengah bawah dengan subsidi gas elpiji, maka pengawasan terhadap potensi penyimpangan distribusi mesti dimaksimalkan. Pemda harus harus turun kelapangan untuk melakukan pengawasan lebih intensif, jangan hanya berpangku tangan saja.  Berikan sanksi tegas bagi oknum distributor yang terbukti melakukan malpraktik distribusi dan melakukan pengoplosan. Kepolisian harus lebih tegas untuk melakukan law enforcemen. 

PT Pertamina juga harus tegas untuk memutus kerjasama dengan distributor nakal. Tanpa hal itu maka penyimpangan distribusi dan pelanggaran hak-hak konsumen menengah akan semakin besar. Mendapatkan gas elpiji dengan harga terjangkau adalah hak konsumen yang harus dijamin keberadaannya.

Referensi : YLKI

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates