BREAKING NEWS

Wednesday, 14 February 2018

Posko Aduan bagi yang merasa dirugikan oleh Abu Tour


Polda Sulsel membuka posko aduan bagi jemaah umrah Abu Tours, di Mapolda Sulsel jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Senin (12/2/2018). Posko ini dibuka guna menampung laporan warga yang menjadi korban travel haji dan umrah tersebut.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menghimbau seluruh jemaah Abu Tours yang merasa dirugikan dapat datang langsung melapor ke posko pengaduan.
“Seluruh masyarakat yang merasa dirugikan dan dikecewakan, yang dijanji diberangkatkan tapi tidak jadi, silahkan melapor ke tim penyidik Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) di Mapolda,” ujar Kombes Dicky.
Dicky menjelaskan, alasan penyidik Ditreskrimsus Polda membuka posko aduan, karena selama dua hari terakhir ini banyak jemaah mulai mendatangi kantor Abu Tours.
“Silahkan bagi masyarakat yang mau melapor karean nerasa kecewa. Karena hari ini Abu Tour memberangkatkan 45 orang , adahal janjinya 16 ribu bisa berangkat dalam waktu 5 hari,” kata Dicky.
Lebih lanjut Dicky menjelaskan, bagi Masyarakat yang hendak melapor, cukup membawa bukti pembayaran. “Itu bukti kalau mereka akan mengikuti kegiatan umroh. Dari hasil laporan ini, kita lakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap travel Abu tour ini,” ungkap Dicky.
Saat ini, sekitar 16 ribu lebih jamaah sudah melunasi biaya paket umrah murah Abu Tour. Mereka bisa diberangkatkan dengan syarat ada tambahan biaya, antara Rp5 Juta hingga Rp15 Juta, ditambah mengajak jamaah baru.
Disamping itu, pihak Abu Tour and travel tidak memberikan opsi pengembalian uang atau refund kepada jamaah.
Wakil Ketua Komisi V DPRD Sulsel Syaharuddin Alrif bersama Kabid Penyelenggara Ibadah Haji dan Umroh Kemenag Sulsel Kaswad Sartono, juga menyidak Kantor Biro Perjalanan Umroh Abu Tours Tarvels, di Jalan Kaka Tua Makassar, Senin (12/2/2018).
Sidak ini dilakukan menyusul banyaknya aduan yang diterima komisi E DPRD Sulsel.
(Islamuddin Dini/Pojoksulsel / foto: media indonesia)

Saturday, 9 December 2017

Kenapa Pinisi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia?



Oleh : Shaifuddin Bahrum

Setelah Unesco (badan dunia untuk urusan kebudayaan) menetapkan sejumlah Budaya Tak-Benda menjadi Warisan dunia yang harus dilindungi maka tibalah giliran Perahu Pinisi melewati penilaian dan persidangan yang rumit di Sidang Tahunan Unesco di Kota Jeju, Korea Selatan pada 4-6 Desember 2017.

Untuk sampai ke persidangan di Jeju. Pinisi telah melakukan perjalanan panjang untuk mendapatkan predikat Warisan Dunia ini. Perjalanan itu dimulai pada tahun 2010 ketika Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Balai Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar  yang waktu itu di pimpin oleh Bapak  Suriadi Mappangara melakukan pencatatan dan inventarisasi Budaya Tak-benda yang ada di daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Saat itu penulis terlibat sebagai pencatat dan pengisi formulir awal tersebut.

Tiga tahun kemudian (2013) Pinisi diusulkan oleh Balai Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisi Makassar bersama Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi-Selatan untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Tentu saja bersama dengan karya budaya lainnya.

Oleh sebuah tim penilai dan verifikasi  dari Direktorat Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI yang beranggotakan sejumlah pakar budaya dan diketuai oleh Dr, Muklis PaEni, menetapkan Pinisi sebagai Warisan Nasional 2013. Tentu dengan dengan berbagai pertimbangan dan penilaian yang disesuaikan dengan penilaian Unesco.

Perjalanan Pinisi tidak berhenti di sana, tim Kementerian RI kemudian mengusulkannya ke Unesco untuk dijadikan Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangeble Culture Heritage/ICH).

Maka pada tahun 2014 dimulailah pengisian formulir Unesco. Pengisian dan Pengusulan Formulir ke Unesco bukanlah hal yang mudah, karena berbagai aspek yang harus diperhatikan dalam penilaian Unesco. Terutama pada nilai dan materi budaya yang akan diwariskan. Untuk itulah tim kemudian melibatkan sejumlah ahli  dan masyarakat pendukung kebudayaan (Pinisi) untuk membuat rumusan-rumusan dalam formulir isian.

Di tahun itulah berkumpul sejumlah pakar budaya terutama yang konsen pada dunia maritim dan perkalapan, dan juga sejumlah tokoh masyarakat dan budayawan dari Bulukumba di Makassar, untuk menyatukan visi dan rumusan dalam pengisian formulir tersebut. Maka lahirlah sebuah judul “ Pinisi; The Art of Boatbuilding in South Sulawesi'.

Persidangan UNESCO semestinya berlangsung setiap tahun dan menetapkan warisan-warisan dunia, akan tetapi pada tahun 2015 terjadi kebijakan baru di Unesco dan persidangan dilakukan secara regional. Tahun 2016 semestinya Pinisi sudah masuk persidangan akan tetapi persidangan untuk Regional Asia-Pasifik baru bisa terlaksana ditahun 2017 ini. Maka barulah Pinisi ditetapkan sebagai Warisan Budaya-Tak-Benda Dunia menyusul warisan budaya yang sudah lolos terlebih dahulu, yakni: Keris (2008), Wayang (2008), Batik (2009), Best Practice Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken Papua (2012), Tiga Genre Tarian Tradisional Bali (2015), dan tahun ini Perahu Pinisi (2017)

Pinisi: Budaya Benda atau Tak-Benda?
Secara harfiah kita melihat dengan mata telanjang perahu Pinisi adalah sebuah hasil karya (budaya) manusia yang terdiri dari sejumlah susunan kayu dan di pakai berlayar di lautan samudra  dengan menggunakan 7 helai layar. Lalu apa luar biasanya  perahu pinisi  disbanding perahu-perahu lainnya di buat oleh suku bangsa lainnya?

Ternyata  setelah dilakukan kajian, yang luar biasa pada Perahu Pinisi adalah proses pembuatannya. Disanalah terkandung sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi  tradisional yang dimiliki oleh para Panre Lopi, yang bisa bersaing dan bertahan dengan sistem pembuatan perahu modern.

Pengetahuan dan teknologi itu telah termiliki sejak dahulu oleh nenek-moyang orang Bugis-Makassar, khususnya yang berada di Bulukumba. Selain itu dalam pembuatannya mereka masih berpatokan sistem kepercayaan tradisional yang ada, sehingga dalam pembuatannya selalu ditemukan ritual-ritual.

Kemudian ketika perahu pinisi sudah lahir/ maujud, perahu inipun dilayarkan oleh-pelaut ulung dengan sistem navigasi tradisional dan sangat sederhana akan tetapi mampu mengarungi samudra luas  hingga merapat ke dermaga yang paling jauh.

Semua aspek yang tidak terjamah (intangible) yang menjadi lebih penting untuk diwariskan ketimbang sebuah pisik sebuah perahu Pinisi yang terlalu mudah untuk dilapukkan oleh waktu… Akan tetapi ilmu pengetahuan-teknologi, ilmu navigasi, astrologi, system kepercayaan, tradisi, dan lain-lainnya telah teruji oleh zaman dan bisa bertahan hingga saat ini melalui pewarisan secara turun temurun.

Sesungguhnya nama “Pinisi” adalah merupakan “general name” untuk system pembuatan badan (lambung) perahu. Pinisi hanya mewakili system budaya-takbenda dalam pembuatan lambung perahu tradisional di Sulawesi Selatan, ia juga mewakili system bembuatan  perahu   palari,  lambo, baqgoq, pattorani, padewakkang, pajala,dll, yang masing-masing bentuk lambungnya berbeda. Hanya saja perahu tradisional yang paling popular dari Sulawesi Selatan adalah ‘Pinisi”.

“Orang hanya tahu Pinisi…Yah nama itu saja…” Kata kawanku Horst Liebner, yang orang Jerman ahli perkapalan itu.

Thursday, 30 November 2017

Komunitas Mahadipa, Menanam Cinta di Gunung Bawaraeng


Saya menemukan sebuah kalimat di Mongabay.com yang bernada satire, menuliskan, “Di Jepang, bicara tentang Gunung Fuji semua masyarakat sangat antusias. Bagi orang Makassar, bicara Bawakaraeng pun sama membanggakan. Bedanya hanya di mulut. Hampir sama sekali tak ada perhatian,".

Itulah kenyataan sosial yang terjadi dalam masyarakat kita tentang gunung Bawakaraeng. Sampai saat ini, sulit menemukan informasi mengenai kondisi terakhir menyangkut vegetasi dan kondisi habitat gunung yang berada di Kabupaten Gowa ini, bahkan di Google sekalipun, selain dari ribuan artikel yang berlomba-lomba menceritakan kebanggaan para pendaki gunung dengan beraneka macam gaya foto selfie-nya. Dari data faktual di lapangan, ratusan orang mengunjungi gunung Bawakaraeng setiap minggunya. Bahkan setiap tahun menjelang bulan Agustus, kerap dilaksanakan pendakian massal dan massif dari ribuan komunitas pendaki yang beramai-ramai menapak kawasannya. Ribuan orang ini datang untuk sekedar seremoni upacara bendera dan membuat foto sendiri untuk dipamerkan di media sosial. Efeknya? Sungguh ironis. Saat ini, jumlah sampah yang bertahun-tahun terabaikan dalam kawasan gunung Bawakaraeng disinyalir sudah mencapai volume ribuan ton. Dampaknya sangat buruk terhadap habitat dan ekosistem yang sejak dulu tidak pernah dijaga dengan baik. Ditambah dengan maraknya pembalakan liar dan alih fungsi lahan perkebunan mengakibatkan kondisi hutan Bawakaraeng kini berada dalam titik kritis yang mengkhawatirkan.

Bawakaraeng adalah sumber utama ketersediaan air di tujuh wilayah kabupaten antara lain: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Bawakaraeng adalah hulu. ia seperti payung dalam menjaga wilayah-wilayah itu. Jutaan orang bergantung padanya setiap waktu. Hingga ketinggian 2.000 m dpl, hutan Bawakaraeng adalah vegetasi hutan sekunder. Beberapa saksi mata mengungkapkan, vegetasi hutannya mulai tak berbentuk, terlihat lapang dan mulai tandus. Banyak pohon kering dan mati. Jika vegetasi sudah terbuka, pasokan air ke DAS akan bermasalah. 

Dikutip dari hasil penelitian WALHI, Dalam satu dekade terakhir, luasan hutan di Sulawesi Selatan terus berkurang dari 2,1 juta hektar menjadi 1 juta hektar. Degradasi lahan itu dipicu alih fungsi dan pembalakan liar. Salah satu alih fungsi lahan secara besar-besaran terjadi di areal hulu Sungai Jeneberang, dimana hutan di lereng Gunung Bawakaraeng dikawasan tersebut kini tinggal 8.259 hektar atau hanya 13,3 persen dari total luas wilayahnya. Meski defisit areal hutannya sudah mencapai jutaan hektar, pemerintah setempat malah tidak menempatkan perlindungan hutan sebagai prioritas. Beberapa komunitas Pecinta Alam di Makassar yang pernah melakukan kegiatan penghijauan di Bawakaraeng juga nampak berakhir dengan kesan sekedar seremonial belaka.

Beruntung masih ada segelintir pemerhati alam peduli dengan nasib buruk gunung Bawakareng itu, salah satunya adalah Mahadipa, Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam di STIMIK Dipanegara Makassar. Mahadipa mewujudkan ide menanam pohon di Bawakaraeng yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Rencana besar itu diwujudkan pada pertengahan bulan november 2017. Sebelumnya, rutinitas Mahadipa adalah program mangrove, dimana beberapa hektar pesisir pantai kritis di kabupaten Jeneponto sukses direhabilitasi dengan penanaman Mangrove secara kontiniu.

Tahun 2017, program rehabilitasi alam itu dialihkan ke gunung Bawakaraeng. Mahadipa mengkampanyekan slogan "Menanam cinta di Bawakaraeng" sebagai bentuk pernyataan prihatin atas kondisi gunung Bawakaraeng. Ratusan anggota Mahadipa merespon program ini dengan sukacita, hingga angkatan almamaternya. Tema  "Menanam cinta di Bawakaraeng" dikampanyekan untuk menggugah elemen pemerintah dan semua pelaku penggiat alam agar mengalihkan perhatian ke gunung Bawakaraeng dalam bentuk kegiatan yang nyata berupa penghijauan massal dengan menanam pohon serta menyalurkan donasi sebagai bentuk dukungan.





Pelaksanaan kegiatan "Menanam Cinta di Bawakaraeng", dilakukan oleh ratusan anggota Mahadipa melalui tradisi pendakian bersama di gunung Bawakaraeng, ditengah musim hujan bulan November yang kelabu serta maraknya even-even seremonial beraroma "penghabisan anggaran" akhir tahun. Di video kegiatan yang dirilis di Youtube, nampak kegiatan para anggota Mahadipa menyusur jalur pegunungan mulai dari kawasan pos (shelter) 3 Bawakaraeng, dimana para anggota Mahadipa menyebar di setiap area yang dianggap berpotensi terancam tandus. Aksi penanaman pohon Mahadipa juga sekaligus melakukan aksi bersih gunung dengan menyingkirkan sampah-sampah yang berserakan dijalur-jalur utama. Untuk memudahkan mobilisasi ribuan bibit pohon yang akan ditebar di kawasan gunung, Mahadipa membuka sebuah jalur khusus dari Bulu Ballea ke Pos 5 bawakaraeng. Dari pos 5 itulah, Bibit-bibit pohon berjumlah 5000 bibit ditebar ke wilayah-wilayah hutan yang kritis. Jenis bibit pohonnya adalah Sengon dan Pinus yang menjadi target awal bisa menghijaukan kawasan seluas 7 hektar.



Dalam Fanspage Mahadipa, dijelaskan bahwa kegiatan  "Menanam cinta di Bawakaraeng" bukan satu hal yang serta merta bisa membalik keadaan yang terjadi di gunung Bawakareng. Bibit pohon yang jumlahnya kurang lebih 5000-an yang ditanam, juga tidak bisa dikatakan dapat mengganti kerusakan yang sudah bertahun-tahun mengendap. Tapi  "Menanam cinta di Bawakaraeng" adalah bagan dari ihktiar, dari pada terus menerus mengungkapkan rasa prihatin, mengeluh, berwacana, maka  "Menanam cinta di Bawakaraeng" adalah wujud nyata. Menanam satu pohon, itu jauh lebih baik daripada terus menerus menyalahkan keadaan. Tema cinta yang dikampanyekan Mahadipa bukan tanpa sebab, dasarnya adalah tidak ada satupun yang sanggup menolak jika atas nama cinta, dan kecintaan manusia pada alam adalah wujud rasa syukur terhadap penciptaNya.


BUMI LESTARI, ALAM DAN MANUSIA DAMAI

Sumber foto : Grup FB Mahadipa

Wednesday, 25 October 2017

Perahu Kuno Khas Sulselbar kembali Muncul di Eropa


Selama empat bulan mulai Oktober 2017, negara-negara di Eropa akan disuguhi keindahan keragaman budaya Indonesia dalam acara dua tahunan yang dijuluki Europalia Arts Festival 2017.

Dilansir di the Jakarta Post, 460 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul untuk menampilkan acara budaya sebanyak 228 festival, termasuk 69 pertunjukan tarian dan teater, 71 pertunjukan musik, 36 literatur karya, 38 karya film dan 14 jenis pameran.

Festival seni Europalia adalah sebuah platform untuk menyajikan seni kontemporer dan tradisional diantaranya budaya Indonesia. Indonesia dikatakan sebagai negara Asia keempat dan yang pertama di Asia Tenggara menjadi tamu kehormatan Europalia yang diselenggarakan sejak tahun 1969.

Sebagai tamu kehormatan dalam acara Europalia, Indonesia memamerkan salah satu kekayaan maritim Nusantara yakni perahu kuno bernama padewakang. Padewakang dipamerkan dengan ukuran skala sesuai besaran aslinya.

Perahu Padewakang setelah dirakit ulang dalam gedung musium La Boveria Liege, Belgia.
Foto : Rara Balasong

Dalam situs europalia.id dijelaskan bahwa sejarah perahu Padewakang kurang dikenal, bahkan oleh masyarakat Indonesia. Padewakang merupakan perahu pendahulu perahu pinisi yang diketahui baru digunakan kurang 150 tahun terakhir, sedangkan padewakang, sudah dikenal sejak 1000 tahun lalu.

Perahu padewakang banyak digunakan oleh pelaut-pelaut Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar) untuk pelayaran jarak jauh. Konon jenis padewakang-lah yang mendominasi armada dagang jarak jauh yang digunakan pelayar-pelayar Nusantara, khususnya dari Makassar dan Mandar dalam perdagangan rempah-rempah. Layar Padewakang memiliki bentuk khas Austronesia seperti yang tergambar pada relief candi Borobudur.

Baca selengkapnya : 

Perahu padewakang yang diboyong ke musium La Boveria Liege Belgia, sebelumnya telah dibangun di Tana Beru Bulukumba selama 2 bulan. Badan kapal sepanjang 12 meter dirakit kembali dalam gedung musium selama 2 minggu oleh 4 orang ahli perahu dari Bulukumba. Properti pendukung seperti layar diproduksi ditanah Mandar. Proyek perahu Padewakang dipimpin dan diarahkan oleh seorang ahli maritim asal Jerman, Horst Liebner. Horst bahkan mengawal Padewakkang ke Liege hingga pengerjaannya rampung dan siap untuk pajangan musium.

Saturday, 14 October 2017

Mengenal Ustad Khalid Basalamah Dalam Bisnis MLM


Saya mengenal ustad Khalid Basalamah akhir tahun 98, ketika seorang teman kebetulan mengundang saya untuk datang dalam sebuah pertemuan. Saya menyanggupi dan tidak mau tahu tujuan pertemuannya. Niatku datang hanya untuk menghargai undangan itu saja.

Sepulang dari kampus, saya pun menyempatkan diri untuk singgah karena kebetulan jalur pulangku memang melewati tempatnya. Sebuah fasilitas ruko depan Mal M-tos Makassar.

Saya kaget ketika masuk dalam ruangan pertemuan yang ternyata sudah dipenuhi perempuan berjilbad besar dan laki-laki bergamis. Bagaimana tidak, rambutku yang masih panjang, pakai kemeja planel dan celana jeans yg belel, membuat saya jelas sekali berbeda dengan semua peserta dalam pertemuan itu. Mendadak saya menjadi makhluk paling aneh di ruangan itu, saya jadi tidak nyaman dan kebingungan, ini pertemuan apa? Diskusi agama? Pengajian? Rapat Lembaga dakwah? Saya betul-betul kaget dan merasa terjebak. Meski begitu, saya tidak berniat meninggalkan ruangan, karena selain menjaga perasaan teman yang mengundang, rasanya tidak etis menjauhkan diri dari sebuah forum Ukhuwah Islamiyah. Begini-begini, saya masih menghargai agamaku. Apa boleh buat, jadilah saya peserta pertemuan itu. Temanku hanya senyum-senyum melihat saya salah tingkah, ditengah manusia bergamis dan berkerudung.

Tidak berapa lama, seorang bertubuh gempal, berjenggot dengan gamis panjang masuk dalam ruangan. Rupanya dia yang ditunggu dalam pertemuan ini. Temanku bilang, itu pemilik tempat ini, namanya Khalid Basalamah, lulusan universitas di Madinah. Orangnya visioner dan ahli dalam bisnis. Dia lagi study S2 di UMI. Mendengar itu, saya malah makin bingung, saya pun balik bertanya, "trus, pertemuan apa ini?"
"Saya mau kau buka wawasanmu dengan bisnis ini, Multi Level Marketing untuk pemasaran produk-produk Islami," jawab temanku.
"Olalaa... MLM..!" dugaanku betul, saya kena jebakan temanku. Ini jenis bisnis yang selama ini tidak pernah bisa kupahami. Dan saya ada dalam pertemuan rencana bisnisnya.

Hampir satu jam saya mengikuti presentase dalam pertemuan itu. Semua presenternya sangat meyakinkan saat menjelaskan tentang berbagai produk Islam yang digunakan berbisnis. Nama perusahaan MLM-nya adalah Ahad Net, sebuah perusahaan marketing yang memasarkan berbagai produk Islami populer berlabel Wardah. Ahad Net pada masa itu merupakan salah satu MLM sukses selain MW dan CNI.

Setelah satu jam yang sangat "menyiksa" itu, nama saya pun dimasukkan dalam daftar member. Jadilah saya member MLM Ahad Net dibawah "line" temanku. Saya pulang dengan beberapa produk jualan dalam tas yang pada akhirnya hanya menjadi konsumsi sendiri. Saya menjadi anggota pasif.

Satu tahun, temanku tetap getol memberi semangat kepada saya untuk aktif di Ahad Net. Hingga pada akhirnya, ia pindah kota dan saya tidak pernah berhubungan lagi.

Belakangan Khalid Basalamah muncul, kini menjadi seorang ustad yang sangat populer. Ia memang pandai berceramah, retorikanya bagus. Ditambah dengan ilmu pengetahuan agamanya yang semakin mumpuni, maka tidak heran ia bisa menjadi ulama papan atas di negeri ini. Salah satu ceramahnya yg saya temukan di internet, adalah ternyata ia sudah menolak bisnis yg pertama kali mengarahkan ia menjadi seorang pendakwah. Ia baru sadar bisnis MLM lebih banyak mudharatnya setelah 9 tahun ia geluti.

Monday, 9 October 2017

ILMUWAN PENIPU TERBESAR DALAM SEJARAH SAINS DI INDONESIA


Indonesia dipertengahan tahun 2015 sempat dihebohkan dengan munculnya seorang ilmuwan muda berbakat bernama Dwi Hartanto. Nama mahasiswa yang tengah menjalani program doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft Belanda ini melambung di tanah air ketika ia diberitakan bersama timnya telah merancang bangun Satellite Launch Vehicle. Namanya semakin mengkilap ketika ia juga diketahui termasuk tim inti perancang jet tempur paling canggih generasi ke-6 dan merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delft Aerospace Rocket Engineering).

Gencarnya pemberitaan berbagai media tanah air tentang prestasi gemilang Dwi Hartanto dibidang sains internasional membuat Kedutaan besar Republik Indonesia di Belanda menganugrahkan penghargaan tertinggi negara kepadanya. Dwi Hartanto bahkan dianggap sebagai ilmuwan paling berbakat di Asia. Kehebatan prestasi Dwi Hartanto juga sampai menarik perhatian khusus mantan Presiden RI ke-3, BJ Habibie yang rela terbang ke Belanda hanya untuk bertemu dengan dirinya.

2017, nama Dwi Hartanto kembali melambung dan menjadi buah bibir, namun sayangnya, kali ini bukan karena berbagai “prestasi’nya yang dahsyat. Dia malah dikabarkan telah melakukan sebuah penipuan luar biasa dan manipulasi status. Kebohongan Dwi terbongkar oleh seorang ilmuwan yang juga dari Indonesia dan menemukan fakta bahwa Dwi Hartanto telah menipu bangsa Indonesia.

Ilmuwan tersebut adalah Deden Rukmana, seorang Professor dan koordinator Urban Studies and Planning di Savannah State University, Savannah, AS. Deden mengetahui kebohongan Dwi Haryanto ketika ia menerima rangkaian pesan dari WA group Pengurus pelajar internasional yang membahas tentang prestasi Dwi. Pada tanggal 10 September 2017 lalu, salah seorang anggota pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisikan investigasi terhadap beragam klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto.

Dokumen pertama terdiri 33 halamam berisikan beragam foto-foto aktivitas Dwi Hartanto termasuk dari halaman Facebook-nya, link ke berbagai website tentang Dwi, transkrip wawancara Dwi dengan Mata Najwa pada bulan October 2016 dan korespondensi email dengan beberapa pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim oleh Dwi Hartanto.

Dokumen kedua sebanyak 8 halaman berisikan ringkasan investigasi terhadap klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto termasuk latar belakang S1, usia, roket militer, PhD in Aerospace, Professorship in Aerospace, Technical Director di bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan media international, dan kompetisi riset.

Kedua dokumen tersebut disiapkan oleh beberapa ilmuwan Indonesia di TU Delft yang mengenal Dwi Hartanto secara pribadi. Melalui berbagai dokumen dan jejak digital Dwi, Deden memastikan pembohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan.

Keterlibatan Dwi Hartanto dalam kegiatan Visiting World Class Professor lalu adalah kerugian yang mesti ditanggung oleh pembayar pajak dan seluruh warga Indonesia. Perjalanan akademiknya ke Indonesia dibiayai oleh panitia dan diberikan honor atas aktivitasnya di dalam kegiatan tersebut.

Kebohongan luar biasa yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dinilai telah merusak nama baik ilmuwan Indonesia secara umum. Bilamana kebohongan ini berlanjut dan Dwi Hartanto diberikan posisi di bidang Aerospace Engineering yang bukan merupakan keahliannya, tentunya akan sangat membahayakan keselamatan jiwa banyak orang.

Para ilmuwan Indonesia diluar negeri segera membuat kesepakatan tertulis untuk mendesak Dwi Hartanto agar segera mengklarifikasi pengakuannya dengan membuat pernyataan resmi. Dalam surat bermaterai dan permohonan maaf tertanggal Sabtu (7/10/2017), Dwi Hartanto pun menjelaskan status dan posisinya, bahwa ia ternyata tidak lebih hanya dari bagian proyek amatir mahasiswa di kampusnya.

Dalam surat pengakuan bermaterai yang dimuat laman resmi PPI Delft yang berjudul klarifikasi dan permohonan maaf oleh Dwi Hartanto, Dwi mengakui antara lain, "Tidak benar bahwa Bapak B.J. Habibie yang meminta untuk bertemu. Sebelumnya saya telah meminta pihak KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan Bapak B.J. Habibie.

Kabar terakhirnya, semua penghargaan yang diberikan telah dicabut dan Dwi Hartanto harus menghadapi sidang etika di institusinya. Besar kemungkinan ia mendapatkan sanksi profesi.

Hal positif yang ditemui di kasus ini adalah bahwa masyarakat Indonesia saat ini memang sedang haus dengan berita inspiratif tentang warga Indonesia yang berprestasi tinggi di luar negeri.

Namun menurut Deden, “Heboh kebohongan publik yang dilakukan Dwi Hartanto ini terjadi karena pembiaran yang dilakukan pada saat kebohongan publik pertama terjadi akibat berita di Detik.com pada tanggal 12 Juni 2015. Kebohongan ini sudah terjadi lebih dari dua tahun. Pada tanggal tersebut, laman detik.com memuat penuh berita wawancara dengan Dwi Hartanto di Delft, Belanda.

Ketua Dewan Pers Indonesia, Stanley Adi Prasetyo, mengatakan, " Media di Indonesia, saat ini miskin verifikasi. Apalagi ditambah masyarakat suka heboh dan pemerintah yang kerap memuji prestasi para diaspora,”.

Dia menyoroti kerja media yang ikut-ikutan gencar memberitakan prestasi Dwi sebagai ilmuwan Indonesia berprestasi tanpa ada usaha "Cross Check" dan klarifikasi.

“Banyak orang gumunan, suka takjub pada hal-hal yang belum dibuktikan. Di tengah situasi ini, pers mestinya bisa merawat akal sehat publik,” kata Stanley.

Sumber :

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates