BREAKING NEWS

Saturday, 31 August 2019

Kenapa Minyak Jelantah dilarang Keras Peredarannya?


Tahukah kita jika minyak goreng bekas atau jelantah sangat berbahaya dan beresiko bagi kesehatan? Minyak goreng yang sudah dipakai berkali-kali telah diteliti menjadi sarang perkembangbiakan berbagai jenis bakteri, memicu radikal bebas penyebab kanker, memicu penyakit kronis seperti penyakit jantung, parkinson dan berbagai penumpukan penyakit komplikasi lainnya.

Penggunaaan minyak goreng idealnya hanya bisa digunakan sampai 3 kali penggorengan. Lebih dari itu, disebut minyak jelantah yang manfaatnya sudah tidak ada sama sekali.

Namun, seperti yg kita tahu, hampir semua warung kecil dan pedagang kaki lima memanfaatkan minyak goreng bekas untuk dagangannya. Jelas, karena harganya jauh lebih murah dibanding minyak goreng kemasan. Pedagang gorengan dan warung-warung makan kelas jalanan seperti sari laut yang umumnya digemari masyarakat menengah kebawah, sebagian besar positif menggunakan minyak jelantah untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Bisa dibayangkan berapa banyak jumlah manusia yg beresiko terkena dampak merugikan dari penggunaan minyak jelantah itu.

Sejak tahun 90-an, peredaran minyak jelantah sudah dilakukan secara masif. Bahannya mudah ditemukan dan harganya murah. Produsen minyak jelantah adalah hotel dan restoran-restoran besar yang setiap harinya menghasilkan buangan minyak bekas ribuan liter. Dari situ, minyak goreng bekas ditampung oleh segelintir orang untuk diolah sedemikian rupa. Hasilnya kemudian diedarkan keberbagai daerah untuk diperjualbelikan secara ilegal. Melihat potensi keuntungan yang besar, industri gelap pun bermunculan berebut pasar dan membuka peluang kerja bagi para mafia dan sindikat perdagangan bermain di pasar-pasar sendal jepit (tradisional).

Kendati pemerintah melalui keputusan menteri (KEPMEN) sudah mengeluarkan beberapa undang-undang perlindungan peredaran menyangkut standar pangan sehat, namun peredaran minyak jelantah tetap berlangsung mulus hingga saat ini. Belum ada satupun pemerintah daerah yang menetapkan peraturan pelarangan edar minyak jelantah disaat jutaan ribu liter sudah masuk menguasai pasar seluruh wilayah di Indonesia.

Berdasarkan hasil riset dari sebuah lembaga di Makassar bernama yayasan Gema Nusa, pemerintah kota Makassar akhirnya mengetuk palu Perwali No. 99 tahun 2017 untuk melarang peredaran minyak jelantah di kota Makassar. Peraturan yang ditetapkan itu mengacu dari temuan yayasan Gema Nusa sejak tahun 2015 yang berhasil melacak peredaran minyak jelantah di kota Makassar dimana telah mencapai 250 ribu liter setiap bulan. Mengalahkan jumlah peredaran minyak jelantah di Jakarta.

Perwali No. 99 tahun 2017 pemerintah kota Makassar untuk melarang distribusi minyak jelantah menjadi peraturan yang diterapkan pertamakali di Indonesia. Makassar menjadi satu-satunya daerah yang berani terang-terangan menentang permainan spekulasi mafia dan sindikat perdagangan gelap minyak jelantah diwilayahnya.

Dalam rangka sosialisasi yang digelar Dinas Perdagangan kota Makassar 27 Agustus 2017, penetapan aturan Perwali No. 99 tahun 2017 kembali ditegaskan dalam forum yang dihadiri puluhan pelaku bisnis kuliner dan lembaga masyarakat. Inti dari sosialisasi itu adalah pengolahan ulang, distribusi, dan jual beli minyak jelantah adalah perbuatan melanggar hukum.

Tuesday, 20 August 2019

Jenis Predator Langka Hantui Budidaya Tambak Udang Windu


Udang windu diketahui pernah berjaya diera 1980-an –1990-an. Popularitasnya sebenarnya masih terdengar, dan masih banyak orang yang mencoba-coba untuk kembali membangkitkannya dengan berbagai cara. Bahkan metodenya sudah tidak peduli dengan efek lingkungan dan kesehatan pangan.

Lalu, wabah white spot virus merebak. Virus ini terlebih dahulu menghantam industri udang di negara-negara tetangga, yang akhirnya jebol juga dan menular di Indonesia. Tambak-tambak bermodal besar, dengan sistem intensif maupun semi intensif, satu persatu tumbang. Udang windu semakin sulit dipelihara sehingga para investor pun menyerah dan mengalihkan modalnya ke bisnis yang lain. Ribuan hektar tambak di Indonesia menganggur dan tersia–siakan.

Budi daya udang windu kini hanya bisa bertahan di tambak–tambak tradisional. Itu pun dalam kuota terbatas. Pengelolaan seadanya dan tanpa target. Udang windu, yang dikelola secara tradisional, daya hidupnya sangat rendah. Apalagi kualitas lingkungan pun semakin buruk.

Berapa tahun belakangan ini, beberapa bentuk tehnologi dan metode terbaru berusaha diterapkan untuk menjadi solusi budi daya udang windu. Banyak inovasi yang menawarkan aplikasi organik, tidak butuh modal besar dan ramah lingkungan.

Kendati butuh waktu, upaya tersebut mulai berjalan dan menampakkan hasil yang signifikan. Dalam proses pertumbuhannya, para petambak udang windu kini mulai menghadapi momok yang lebih menakutkan dibanding virus dan kerusakan lingkungan. Momok menakutkan tersebut adalah munculnya kembali gangguan dari jenis predator purba yang dikenal sebagai pemangsa ganas dan pemburu yang sangat agresif.

Predator tersebut sudah ada pada masa prasejarah. Mereka diketahui bergerak dalam kelompok kecil dan sangat efisien sehingga sulit terlihat. Perburuannya tidak mengenal waktu, sangat fokus mengejar mangsa dan kejam. Jika predator ini mulai mengintai, bisa dipastikan semua udang windu akan lenyap seketika tanpa jejak.

Para ahli dan pengamat budidaya tambak sudah lama telah mengidentifikasi bentuk dan perilakunya. Jenisnya berjalan dengan dua kaki, sangat ahli menggunakan jala atau jaring dan memiliki senjata khas seperti parang atau senjata besi lainnya. Predator ini bisa menyamar dengan sempurna tanpa diketahui. Mereka tidak segan menjarah bahkan menciderai petambak.

Kemunculan predator berkaki dua ini telah menimbulkan keresahan sosial dalam revitalisasi kehidupan masyarakat petambak. Kondisi ini akan tetap berlangsung selama pemegang kebijakan ditiap daerah tidak merespon dengan baik proses pertumbuhan tambak–tambak tradisional masyarakat diwilayahnya. Sosialisasi bimbingan psikologi masyarakat yang minim dan belum ada langkah efektif untuk membuka ruang kerjasama bagi para pelaku perubahan.

Wednesday, 13 March 2019

Pertama Kali dalam Sejarah, Server Facebook "Drop" di Seluruh Dunia


Sejak Rabu (13/03/2019), untuk pertama kali dalam sejarahnya, facebook dan pasangannya, Instagram mengalami masalah teknis yang serius. Kondisi ini merupakan bencana yang luar biasa bagi media sosial raksasa ini ketika semua pengguna di seluruh dunia, ramai-ramai melaporkan kejadian tersebut melalui media sosial kompetitornya sejak hari Rabu siang.

Meski demikian, pihak Facebook ikut memberi pernyataan yang juga diposting ke Twitter untuk meyakinkan pengguna bahwa situs itu akan kembali online. Mereka memastikan pemadaman sistem itu sama sekali tidak terkait dengan serangan DDoS (serangan hacker)

"Kami menyadari bahwa beberapa orang saat ini mengalami masalah dalam mengakses kumpulan aplikasi Facebook. Kami sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah sesegera mungkin," kata akun Facebook di Twitter.

Menurut downdetector.com, pengguna Facebook di Amerika Serikat melaporkan masalah dengan posting, fitur streaming langsung, dan banyak kesulitan teknis lainnya.

Peta pemadaman langsung di situs downdetector.com menunjukkan pemadaman yang tersebar di A.S.

Sebagian besar melaporkan mengenai waktu pemuatan yang lebih lambat atau ketidakmampuan untuk mengirim pesan, beberapa mengatakan mereka tidak bisa masuk ke situs sama sekali atau menggunakan aplikasi.

Pengguna Facebook diseluruh dunia pun ramai-ramai berkicau ke Twitter untuk melaporkan masalah (dan tentunya membuat lelucon #FacebookDown tradisional.)

Sejak rabu siang, pengguna Facebook yang masuk ke situs melaporkan menerima pesan yang menyatakan bahwa situs itu melakukan "pemeliharaan yang diperlukan." Menurut pesan itu, Facebook akan aktif dan berjalan "dalam beberapa menit" tetapi orang-orang masih melaporkan bahwa masalah dengan situs tersebut sudah melewati batas waktu yang disebutkan.

Beberapa yang melaporkan masalah dengan pemuatan aplikasi yang lambat, tidak bisa melakukan "refresh" dan beberapa tidak bisa masuk sama sekali. Kondisi yang sama juga terjadi pada Instagram, meski tidak separah Facebook.

Sebagian besar pengamat media berspekulasi bahwa besar kemungkinan server facebook melakukan "refresh" dengan tempo yang tidak semestinya menyesuaikan tekanan semakin tingginya arus lalu lintas data dari pengguna di seluruh dunia.

Friday, 8 March 2019

Sisa Peradaban Purba di Minahasa, Sulawesi Utara


Wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, sejak dahulu adalah merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996).

Pada masa lalu, wilayah ini menjadi bagian dari route perjalanan migrasi fauna dan manusia beserta kebudayaannya. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di dalam migrasi fauna prasejarah pernah melewati dan singgah di wilayah ini adalah ditandai dengan adanya fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara (Husni, 1996/1997, 1999), dan geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, serta fosil-fosil binatang purba lainnya di Cabenge di Sulawesi Selatan.

Sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi ditemukan di Liang Tuo Mane’e kabupaten Talaud dan di daerah lain di Sulawesi Utara. Disamping itu ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud dan di Bukit Kerang Passo di Minahasa, serta peninggalan budaya megalitik (kebudayaan yang mengenal penggunaan batu-batu besar) tersebar di wilayah kepulauan Sulawesi dan kepulauan Maluku Utara (Bellwood, 1978).



Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi, benda-benda yang terbuat dari batu-batu besar (megalitik) dan penguburan dengan menggunakan tempayan tanah liat.

Warisan budaya purba itu banyak ditemukan peninggalannya di Sulawesi Utara. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta yang sebelum pemekaran wilayah daerah itu termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara. Demikian juga benda-benda megalitik banyak ditemukan di Sulawesi Utara dalam bentuk kubur batu waruga, batu bergores watu pinabetengan, menhir ‘watu tumotowa’, kubur tebing batu Toraut dan lesung batu, yang umumnya ditemukan di Tanah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Sedangkan kubur tempayan tanah liat ditemukan di beberapa daerah seperti di Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas Minahasa, di Liang Buiduane Salibabu, di Tara-tara, Kombi dan di beberapa daerah lainnya.


Kapak Lonjong Kapak zaman ini disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong. Ukurannya ada yang besar ada yang kecil. Alat digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan memotong kayu atau pohon. Jenis kapak lonjong ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.


Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di gua Liang Sarru di Pulau Salibabu.

Bukti yang lain menunjukkan adanya kehidupan sekitar 6.000 tahun lalu di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas dan 4.000 tahun yang lalu sampai awal Masehi di gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa di Pulau Karakelang. Kemudian muncul kebudayaan megalitik berupa kubur batu ‘waruga’, menhir ‘watutumotowa’, lumpang batu dan lain-lain sejak 2.400 tahun yang lalu sampai abad 20 Masehi di Bumi Minahasa.

Ada sembilan sub-etnis di Minahasa, yang menjelaskan jumlah 9 di Manguni Maka-9 yakni Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan pasan (Bentenan), Ponosakan, Babontehu, Bantik.

Delapan dari kelompok-kelompok etnis juga kelompok-kelompok linguistik terpisah. Nama Minahasa itu sendiri muncul pada saat Minahasa berperang melawan Bolaang Mongondow.

Sumber : Aun Islandar

Asal Mula Munculnya Nama Sorowako di Luwu Timur


Sorowako di daerah Luwu Timur merupakan wilayah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Sorowako juga memiliki danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Danau Matano terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter di bawah permukaan laut.

Sorowako masuk di wilayah Kecamatan Nuha. Ini kota kecil, di Kabupaten Luwu Timur. Luas seluruh wilayah untuk kecamatan sekitar 863 km­­ persegi, jumlah penduduknya 19.778 jiwa (data pemerintah Kecamatan Nuha, Maret 2007). Beberapa pendapat menyebutkan luas Sorowako hanya sekira 2 km persegi.

Perekonomian Sorowako ditopang oleh PT. Vale (dahulu PT. inco) salah satu perusahaan tambang nikel terbesar dunia dengan investasi Kanada. Inco melepas 60 persen saham miliknya pada tahun 2008 ke Vale. Pelepasan saham itu, menurut beberapa catatan, karena alasan krisis Amerika pada tahun yang sama dan harga nikel jatuh di pasaran dunia. Vale adalah perusahaan gas dan mineral dari Brasil.

Di kota ini, sulit mencari orang-orang asli Sorowako. Mereka adalah minoritas. Entah di warung rumahan, warung-warung makan yang berjejer di pasar Magani serta pasar Sorowako dekat danau Matano, yang ditemukan adalah orang dari Rongkong, Toraja, Bugis, atau Jawa.

Sorowako adalah kota asing dari identitas utama mereka. Serbuan para pendatang membuat ruang sosial berubah. Ada penjual sayuran keliling, penjual makanan, pemilik toko, hingga penjual ikan di pasar, selalu menyapa dengan kata ‘Mas’.

Tahun 1950-an ketika DI/TII bergejolak di Sulawesi Selatan, wilayah Sorowako tak lepas dari gempuran. Suku-suku asli melarikan diri karena tak tahan pemaksaan untuk memeluk Islam. Orang Sorowako pada mulanya memeluk kepercayaan animisme.

Jika ingin mengklasifikasi populasinya dengan perkiraan realita, diperkirakan saat ini suku yang paling banyak mendiami Sorowako adalah Rongkong, Toraja, Jawa, Bugis, yang mendiami beberapa daerah sekitar.

Sebenarnya saya rindu mendengar dialeg Sorowako asli. Saya bahkan buta sama sekali dengan bahasa Sorowako. Referensi saya tentang daerah ini sangat sedikit, hanya membaca sepintas, diantara laporan OXIST di buku Kedatuan Luwu dan Cristian Pelras di Manusia Bugis-nya.

Beberapa waktu lalu saya menelpon, Iwan Sumantri, seorang Arkeolog Universitas Hasanuddin. Dia sahabat dan kawan saya, sekaligus mentor pribadi yang kawakan. Menurut Iwan, kata Sorowako berasal dari ucapan pasukan bantuan dari Rongkong – sekarang Kabupaten Luwu Utara. Pada masa itu, terjadi peperangan di daerah Sorowako melawan Mekongga dari Sulawesi Tenggara.


Kala itu orang-orang lokal terpukul mundur dan mulai kalah. Bantuan Rongkong datang dan menyeru, "Jangan ada yang mundur" atau dalam bahasa Suku Rongkong adalah SOROAKO. Seruan itu bersifat tekanan, harus berani dan tak boleh lari. Apapun yang terjadi.

Kini orang-orang Sorowako itu semakin sedikit. Realitanya, disaat wilayahnya berkembang dengan pesat, malah sungguh sudah terpukul mundur. Suaranya kini semakin tak terdengar.

(Eko Rusdianto)


Thursday, 7 March 2019

Sistem Pemerintahan Raja-raja di Bone


Bone sebagai satu kerajaan diperintah oleh seorang raja yang disebut Mangkau'e ri Tana Bone (yang berdaulat di Bone).

Nama-Nama Raja/Mangkau Bone :

1. Manurungnge ri matajang/ Mata Silompo'e, 1326-1358.
2. La Umasse' Petta Panre Bessie To mulaiye Panreng, 1358-1424.
3. La Saliyu Kerempeluwa Pasadowekki Arung Palakka, 1424-1496.
4. We Banri Gau Daeng Marowa Arung Majang Makkaleppie Mallajangnge Ri Cina, 1496-1516.
5. La Tenri Sukki Mappajungnge, 1516-1543.
6. La Uliyo Botee Matinroe Ri Itterrung, 1543-1568.
7. La Tenri rawe' Bongkangnge Matinroe ri Gucinna, 1568-1584.
8. La Inca Matinroe ri Addenenna, 1584-1595.
9. La Pattawe Daeng Soreang Matinroe ri bettuing, 1595-1602.
10. We Tenri Patuppu Matinroe Ri Sidenreng, 1602-1611.
11. La Tenri Rua Arung Palakka Matinroe ri Bantaeng, 1611- 3 bln Arung Pattiro masuk Islam.
12. La Tenri Pale To Akkapeang Matinroe ri Tallo, 1611-1625.
13. La Maddaremmeng Opunna Pakokoe Matinroe ri Bukaka, 1625-1640.
14. La Tenri Aji To Sanrina Matinroe ri Siang , 1640-1643.
15. Jennang To Bala, 1643-1660.
16. La Saketti Arung Amali, 1660-1667.
17. La Tenri Tatta To Unru Arung Palakka Petta To Ri Sompae Datu Mario Ri Wawo/ Sultan Saaduddin Daeng Serang Malampe'e Gemme'na ri Bone Matinroe ri Bontoala, 1667-1696.
18. La Patau Matanna Tikka Matinroe Ri Nagauleng, 1696-1714.
19. We Batari Toja Daeng Talaga Matinroe ri Tippulu'na, 1714-1715.
20. La Padassajati To Appaware Matinroe ri Beula, 1715-1718.
21. La Pareppai To Sappewali Matinroe Ri Somba Opu, 1718-1721.
22. La Panaongi To Pawawoi, 1721-1724.
23. We Batari Toja Daeng Talaga Matinroe Ri Tippulu'na ( per 2), 1724-1749.
24. La Tammassonge To Appewaling, 1749-1775.
25. La Tenri Tappu To Appewaling, 1775-1812.
26. La Mappasessu To Appatunru, 1812-1823.
27. I manning Arung Data, 1823-1835.
28. La Mappaselling Arung Panyili, 1835-1845.
29. La Parenrengi Arung Ugi', 1845-1857.
30. We Tenri Waru Pancaitana, 1857-1860.
31. La Singkerru Rukka Arung Palakka, 1860-1871.
32. We Fatimah Banri Gau, 1871-1895.
33. La Pawawoi Petta Sigeri, 1895-1905.
34. La Tenri Sukki Mappanyukki, sampai 1946.
35. La Pabbenteng Petta Lawa, 1946-1951.
(Sketsa Wajah Para Mangkau Bone dapat di Lihat di beranda saya.)

Kemudian dilanjutkan Masa Pemerintahan Kepala Daerah Yaitu :
1.Abdul Rahman Daeng Mamangung 1951.
2. Andi Pangerang Petta Rani, 1951-1955.
3. Ma'Mung Daeng Mattiro, 1955-1957.
4. H. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Matinroe Ri Gowa, 1957-1960.
5. Kol. H. Andi Suardi, 1960-1966.
6. Andi Djamuddin, 1966.
7. Andi Tjatjo, 1966-1967.
8. Andi Baso Amir, 1967-1969.
9. H. Suaib, 1969-1976.
10. H. P. B. Harahap, 1976-1982.
11. H. Andi Made Ali, 1982-1983.
12. Andi Syamsu Alam, 1983-1988.
13. Andi Syamsoel Alam, 1988-1993.
14. Andi Muhammad Amir, 1993-2003
15. H. Andi Muhammad Idris Galigo, 2003-2013.
16. Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Pajalangi, M.si, 2013- sekarang.

(Jika ada kesalahan atau kekeliruan mohon di kritik dan di benarkan.)

Raja menjalankan kekuasaan sehari-hari di dampingi oleh pembesar-pembesar kera­jaan, serupa dengan menteri - menteri kerajaan yang terdiri dari :

1. To makkadangie Tana, adalah semacam
Mangkubumi, atau Perdana Menteri.
Dialah yang memimpin  penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan dan membagi kekuasaan untuk diselenggarakan atau dijalankan oleh pêmbesar-pembesar lainnya  dalam kerajaan Dia pulalah  bertindak sebagai Wakil Raja,
2. To-marilaleng, dialah yang memim­pin Dewan exekutif kerajaan yang disebut "Ade' pitu Tana Bone".
3. Ade' pitu, pada' awal kejadiannyaadalah 7 kepala wanua (negeri) yangmenggabungkan negerinya masing-masing, membentuk Tana Bone pada perkembangan selanjutnya, ke-7 kepala wanua itu, dengan membawa nama wanuanya duduk dalam dewan kerajaan
dengan membagi tugas pemerintahan
sbb :
1.) Arung Macege', urusan pemerintahan/administrasi umum kerajaan.
2.) Arung Ponceng, urusan keamanan/
pertahanan kerajaan.
3.) Arung Tibojong. 'urusan kehakiman.
4.) Arung Tanete ri Attang. urusan-
Pembangunan/Pekerjaan forum.
5.) Arung Tanete ri Awang. imigrasi ge-
uangan/Ekonomil "
6.) Arung Ta', urusan pendidikan dan pengajaran.
7.) Arung ujung urusan Agama dan Penerangan.

4. To marilaleng Lolo. dia mengawasi daerah-daerah bawahan yang diperintah oleh Raja - raja bawahan (Arung Palili).
5. Ponggawa, Panglima Angkatan Perang Kerajaan, menyusun kekuatan perta­hanan dan perlawanan.

Nama-Nama Ponggawa Lompoe Ri Bone.

1.Baso Abdul hamid pagilingi Petta Ponggawa.
2. La Ballo pasalai ri bulu pattimpa.
3. Petta PonggawaE laowe ri luwu (La Massellomo).
4. La Temmu Page Arung Paroto Ponggawa Bone.
5. Petta Ponggawae matinroe ri kaluku bodo.
6. Syarif maulana Iskandar al aydid petta janggo
7. La Palettei pasalai ri ajatappareng.
8. La Temmasonge Datu Baringeng.
9. La Pottokati Datu Baringeng.
10. La Mandacini Petta Ponggawa Pakkenyarang.
11. La Tenri sau Arung Mare.
12. Opu To Juma'.
13. Generale Van Bontoriu.
14. Karaeng Kanjilo.
15. Karaeng Popo.
16. La Patau Matanna Tikka.
17. Larumpang megga arung lamuru.
18. Karaeng pakkanre ate matinroe ri Sigeri.
19. Syech Ahmad (Alif Putih).
20. Lapawawoi Karaeng Sigeri.
21. Raja Lewa arung amali.
22. La Massarassa Arung Pallengoreng.
23. La Gau’ Arung Pattojo Ponggawa Bone.
24. To Ancalo Arung Amali.
25. La Kasi Daeng Majarungi Puanna La Tenro Ponggawa Bone.
26. La Cibu To LebaE Ponggawa Bone.
27. La Mappaewa Arung Lompu To Malompo ri Bone.

Jadi nama-nama tersebut belum berurut cuma saya berusaha mencari semua nama-nama Ponggawa Bone, mulai dari masa Raja Pertama sampai terakhir. (Dan jika ada kesalahan dalam penulisan nama silahkan dikoreksi  dan dilengkapi).
Dibawah pimpinan Ponggawa ini. terdapat tiga orang Panglima bawahan, yang disebut Dulung, antara lain :
1.Dulung Awang Tangka'.
2.Dulung Ajang Ale.
3.Dulung Lamuru.
Wilayah Tana Bone dibagi kedalam
beberapa Negeri (bawahan ) yang disebut Wanua. Kepala-kepala wanua itu disebut Arung Palili. Wanua—wanua itu dibagi atas desa.
Desa - désa di Bonè itu disebut pada umumnya Kampong. Kampong itu' dipimpih oleh seorang Kepala Kampüng, yang biasanya disebut Jennang, Macóa, Kapala, To'do dsbnya.
Dalam kekuasaan Hindia Belanda, Bone
menjadi daerah Swapicaja Zelfbesturende lansohappen dalam status administratif Onder afdeling Bone, dalam lingkungan Afdeling Bone.  Raja Bone dalam menja­lankan pemerintahan disamping terdapat seorang pengontrol Belanda yang menjadi superviser.

(Andi Muhammad Zulkarnain)
 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates