BREAKING NEWS

Sunday, 7 October 2018

Dibalik Gempa Bumi dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah


Para ilmuwan masih mencoba menentukan penyebab pasti gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada hari Jumat pagi (28/9/2018) di Sulawesi Tengah. Bencana dahsyat itu diasumsikan para ahli, bukan gempa dorong seperti jenis sebagian besar tsunami di mana lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun yang memindahkan air. Fenomena bencana di Palu adalah disebabkan oleh apa yang dikenal sebagai kesalahan strike-slip, di mana lempeng tektonik bergerak secara horizontal.

Menurut Phil Cummins, seorang profesor bencana alam di Australian National University, gempa bumi seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah itu biasanya hanya menyebabkan tsunami yang sangat lemah.

Telah dikemukakan bahwa gempa bumi tersebut menyebabkan tanah longsor bawah laut yang besar dan menggantikan beban air. Tanah longsor bawah laut ini diperkirakan terjadi di teluk Palu, dekat dengan pantai, atau lebih jauh ke laut.

Umumnya tsunami disebabkan oleh gempa bumi ratusan mil dari pantai, dan getarannya jarang dirasakan di darat. Seperti yang dicatat oleh Cummins mengenai bencana di Palu, “Adalah tidak biasa untuk melihat bencana ganda seperti ini.” Dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bawah air untuk menentukan penyebabnya.

Ada klaim bahwa badan meteorologi dan geofisika Indonesia, BMKG, telah menghapus peringatan tsunami terlalu dini, sebelum gelombang menghantam pantai Palu. Dikabarkan pula bahwa pelampung laut yang mendeteksi gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dari sistem peringatan dini belum diperbaiki selama enam tahun tidak berfungsi.

Namun, Cummins dan Adam Switzer, ketua sekolah lingkungan Asia di Nanyang Technological University di Singapura, sepakat bahwa bencana itu bukan kegagalan teknologi tetapi minimnya edukasi.

Berbeda dengan tsunami 2004 yang menghancurkan Asia selatan, gelombang ini tidak didorong oleh gempa bumi yang terjadi ratusan mil di laut. Sebaliknya yang terjadi di Palu adalah tsunami lokal akibat gempa dekat pantai. Diperkirakan bahwa gelombang tsunami menghantam Palu hanya 30 menit setelah gempa. "Bagi orang-orang di pantai dan di kota, gempa itu seharusnya menjadi peringatan dini," kata Switzer.

Switzer mengatakan bahwa dampak awal tsunami menyebabkan kerusakan paling besar, meskipun pergerakan puing ketika gelombang ditarik kembali juga terbukti mematikan. “Kehancuran terbesar dari tsunami umumnya adalah kekuatan air yang menabrak benda-benda ketika menghantam pantai. Air tsunami yang mengalir di antara bangunan juga mempercepat kerusakan, ”katanya.


Switzer mengatakan: "Ada sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu, yang panjangnya sekitar 200km. Peristiwa seperti ini pernah terjadi pada tahun 1937 dan peristiwa lainnya di awal 1900-an. Meskipun tidak jelas apakah itu menyebabkan tsunami. Sebuah makalah yang pernah diterbitkan pada tahun 2013 di mana disebutkan bahwa bentuk sesar Palu, lurus dan sangat panjang, memiliki potensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak. Namun dokumen tersebut seolah terabaikan.

Dr Kerry Sieh, dari Earth Observatory of Singapore, mengatakan: "Telah diketahui bahwa patahan di Palu telah menyimpan strain dan mengakumulasi regangan pada beberapa sentimeter setiap tahun. Kondisi ini merupakan kesalahan sistematik yang sangat cepat terjadi selama bertahun-tahun."

Cummins mengatakan: “Fokus pada titik kegagalan teknologi di sini adalah salah arah karena ini adalah tsunami lokal. Dalam hal ini tidak dapat mengandalkan sistem peringatan agar orang-orang bisa menyelamatkan diri. Mereka tidak sanggup menunggu sirene atau peringatan, mereka harus bergerak cepat. Masalahnya adalah, dari apa yang saya lihat dari rekaman, banyak orang tampaknya tidak melakukan itu. ”

Dia menambahkan: “Entah mereka tidak tahu apakah perlu melakukan itu atau mereka tidak percaya apa pun yang akan terjadi? dalam kasus yang mengatakan orang-orang di Sulawesi tidak berpendidikan tentang apa yang perlu mereka lakukan dalam situasi ini. Itulah yang membunuh orang. ”

Pertanyaan tentang seberapa jauh jarak laut dimana tsunami berasal, dan seberapa besar kecepatannya? beberapa perkiraan telah menyebutkan bahwa tsunami di Palu bergerak di 500km/jam di teluk Palu dan melambat secara substansial sebelum menghantam pantai. Ombak setinggi enam meter di beberapa tempat dan mencapai hingga satu kilometer ke daratan.

Telah disebutkan bentuk sempit teluk Palu terkonsentrasi dan diperkuat kekuatan gelombang. "Bentuk teluk di Palu memainkan peran," kata Cummins. “kondisi ini dapat menyalurkan energi tsunami makin besar dan berpusat di ujungnya. Membuat tsunami bisa bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sumber: The Guardian

Saturday, 29 September 2018

Data manual SAR, Data Korban Gempa dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah







Friday, 7 September 2018

Sisemba : Tradisi saling Menendang dalam Masyarakat Toraja


Matahari pagi masih redup mengintip di antara pekat kabut yang menyelimuti pegunungan Tikala Kandeapi kabupaten Toraja Utara. Di saat udara masih sangat dingin, tampak ratusan orang berbondong-bondong jalan beriringan di tengah hamparan sawah yang baru saja usai di panen.

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyaksikan sebuah perayaan tahunan panen raya yang dikenal dengan pesta Sisemba ', Sisemba adalah sebuah tradisi masyarakat Toraja yang unik dimana melibatkan orang banyak saling terjang dan menendang secara massal. Umumnya pesta rakyat Sisemba ini dihadiri ratusan orang yang datang dari berbagai desa di kawasan tersebut.

Di Tikala Kande Api kabupaten Toraja Utara, tradisi budaya Sisemba masih dilestarikan dengan baik terutama dalam merayakan panen raya.

Para wanita yang juga datang dengan membawa berbagai jenis makanan tradisi khas Toraja. Salah satu yang utama adalah nasi bambu atau Piong. Nasi bambu merupakan penganan utama dalam pesta-pesta besar masyarakat Toraja. Begitu pesta panen raya akan digelar, berbagai makanan khas menjadi wajib untuk disajikan, pertunjukan tari-tarian Toraja, serta tradisi menumbuk padi yang dikenal sebagai ma'lambuk. Semua keunikan tradisi tersebut menjadi serangkaian acara utama.

Puncak dari pesta panen yang paling ditunggu adalah Sisemba'. Sisemba' dalam bahasa Toraja berarti saling menendang. Prosesnya dilakukan oleh ratusan orang dalam sebuah lapangan terbuka. Uniknya, tradisi ini seolah berlangsung tanpa aturan dan terkesan brutal dimana orang saling menerjang dan menendang untuk menjatuhkan lawannya.

Sepanjang sejarah pertunjukan Sisemba, banyak orang yang sudah menderita luka dan patah tulang. Meski begitu, tradisi Sisemba masih terus memikat generasi-generasi selanjutnya.

Ketika Sisemba digelar, semua orang pasti datang dari berbagai daerah. Mereka berkumpul dan membentuk sendiri kelompoknya masing-masing. Tidak ada kegiatan pembuka yang macam-macam. Setelah aba-aba dari panitia, spontan semua orang langsung saling terjang. Bunyi pukulan pun terdengar di sana sini tanpa henti disertai dengan teriakan keras.

Tradisi sisemba mengandalkan kuda-kuda serta kekuatan kaki untuk masing-masing saling menjatuhkan lawan. Masing-masing peserta berpasangan dan berpegangan tangan untuk mendapatkan kekuatan terjangan. Mereka mencoba menjatuhkan lawan dari berbagai arah dan posisi bahkan saling memukul secara bersamaan.

Meski terkesan brutal, tradisi Sisemba memiliki aturan ketat yang tidak tertulis dan telah disepakati secara adat. Salah satu aturannya adalah ketika lawan sudah terjatuh di tanah, ia tidak bisa lagi diserang sampai ia kembali berdiri.

"Ketika saya kena tendangan, 100%, tubuh pasti sakit, tetapi tidak apa-apa, ini jelas merupakan risiko jika ikut acara Sisemba," kata Yohanis, salah satu peserta Sisemba‘.

Tradisi Sisemba merupakan tuntutan adat bagi masyarakat di kawasan Tikala. Tujuannya adalah meneguhkan hati yang memberi keyakinan untuk panen berlimpah di masa depan. Jika Sisemba tidak dilakukan, pesta panen berikutnya diyakini akan gagal. “Ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada alam yang susah dilakukan sejak nenek moyang. Jika ma’semba ditiadakan, biasanya hasil panen padi berikutnya akan menurun ”kata Isaak Padang Sulle, tokoh masyarakat Kandeapi.

Para pemimpin masyarakat tradisional selalu turun campur tangan jika ada peserta Sisemba' yang dianggap melanggar aturan. Makanya, meski banyak peserta yang terluka, tetapi emosi mereka hanya sebatas dalam arena Sisemba'. Jika acara sudah berakhir, para peserta akan bubar tanpa membawa kebencian satu sama lain.

Budaya Sisemba' adalah bentuk tradisi di mana sportivitas ditegakkan secara nyata. Kekerasan dalam prosesnya adalah bentuk filsafat yang menunjukkan bagaimana manusia harus menghadapi hidup dengan keras, tetapi tetap harus berjalan sesuai dengan aturan.

(reporter: Yahya maulana / editor: Indra Mae / photo: letmeshowyouaround)

Friday, 31 August 2018

Ada Apa dengan Langkanya Tabung Gas 3 kg?


Belakangan ini mulai tampak kelangkaan gas elpiji 3 kg di berbagai daerah di Indonesia. Banyak konsumen rumah tangga menjerit karena harus mengantri cukup lama bahkan tidak mendapatkannya. Hal ini sebenarnya lagu lama yang acap terjadi dan terbukti merugikan konsumen karena harus membeli dengan harga yang melambung. Pernyataan Pertamina bahwa kelangkaan ini dipicu oleh permintaan yang naik menjelang Natal dan Tahun Baru, adalah tidak cukup rasional.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dan musabab apa sehingga gas elpiji 3 kg menjadi langka?

Ada beberapa hal untuk menyorot hal itu, baik dari sisi harga, distribusi dan juga kebijakan subsidi.

Pemicu pertama kelangkaan gas elpiji 3 kg adalah adanya disparitas harga yang sangat jomplang antara gas elpiji 3 kg dengan gas elpiji 12 kg. Akibat dari disparitas harga yang seperti ini adalah banyak pengguna gas elpiji 12 kg berpindah menjadi pengguna gas elpiji 3 kg. Selain murah, banyak konsumen 12 kg yang berpindah ke 3 kg karena dianggap praktis, mudah dibawa. Konsumen menengah keatas pun tak malu-malu menggunakan gas elpiji 3 kg karena alasan ini.

Penyebab kedua, terjadi penyimpangan distribusi gas elpiji 3 kg. Semula pola distribusi gas elpiji 3 kg bersifat tertutup, artinya konsumen yang berhak saja yang boleh membelinya. Sekarang distribusi tersebut bersifat terbuka/bebas, sehingga siapa pun bisa membelinya. Ini menunjukkan adanya inkonsistensi pola distribusi oleh pemerintah.

Akibat dari disparitas harga dan penyimpangan distribusi itu maka terjadi migrasi/perpindahan dari pengguna 12 kg menjadi pengguna 3 kg. Tak kurang dari 20 persen pengguna 12 kg yang berpindah ke 3 kg, karena harga 12 kg dianggap sangat mahal sementara harga 3 kg sangat murah, karena disubsidi.

Kondisi ini makin parah manakala terjadi penyimpangan/pengoplosan oleh distributor dan atau agen nakal. Mereka mengoplos demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Dari sisi kebijakan subsidi kelangkaan ini juga dipicu oleh sinyal bahwa pemerintah akan mencabut subsidi gas elpiji 3 kg. Hal ini diawali dengan pemangkasan slot kuota gas elpiji 3 kg yang semula sebanyak 6.5 metrik ton dipangkas menjadi 6.1 metrik ton, berkurang 400 ribuan metrik ton. Sementara permintaan gas elpiji 3 kg malah naik mengakibatkan suplai berkurang alias langka. Pemerintah makin limbung saat subsidi gas elpiji 3 kg terus melambung karena penggunaan gas elipiji 3 kg terus meningkat.

Oleh karena itu, jika pemerintah memang serius untuk memasok konsumen menengah bawah dengan subsidi gas elpiji, maka pengawasan terhadap potensi penyimpangan distribusi mesti dimaksimalkan. Pemda harus harus turun kelapangan untuk melakukan pengawasan lebih intensif, jangan hanya berpangku tangan saja.  Berikan sanksi tegas bagi oknum distributor yang terbukti melakukan malpraktik distribusi dan melakukan pengoplosan. Kepolisian harus lebih tegas untuk melakukan law enforcemen. 

PT Pertamina juga harus tegas untuk memutus kerjasama dengan distributor nakal. Tanpa hal itu maka penyimpangan distribusi dan pelanggaran hak-hak konsumen menengah akan semakin besar. Mendapatkan gas elpiji dengan harga terjangkau adalah hak konsumen yang harus dijamin keberadaannya.

Referensi : YLKI

Sunday, 19 August 2018

SURAT SEORANG PEMBENCI PRESIDEN DARI KAMP PENGUNGSIAN GEMPA LOMBOK UTARA


Kepada bpk presiden RI

Saya bukan pendukungmu, bahkan sy pembencimu. Sy tak rela engkau kembali jadi presiden.
Bukan karna harga2 pada mahal spt kata orang, toh kami masih pada mampu untuk belanja, padahal kami bukan orang mampu.
Sy menolakmu karna masalah idiologi, masalah kapasitasmu dan semua predikat tentangmu spt yg sy yakini selama ini.
Maka ketika gempa menimpa kami, dan engkau datang berkunjung. Sy tetap tdk respek. Toh itu tugasmu pak presiden.
Maka ketika engkau datang ke Lombok Utara dan masyarakat pada menyambutmu, sy diam saja dan hanya melihatmu dari jauh dgn rasa sinis. Bahkan sy melarang anak istri untuk ikut larut dlm euforia kegembiraan menyambutmu. Padahal sy lihat istri sy pengen juga mendekat, ikut salaman bahkan berfoto2 spt yg dilakukan masyarakat lainnya.
Sampai datang waktu sholat. Kulihat bapak presiden tetap ingin sholat jamaah bersama kami walau diingatkan sarana yg tdk memungkinkan.
Dgn tenang bpk presiden menuju gentong biru tempat penampungan air untuk berwudhu. Sangat hati2 dan memakai air sedikit sekali, mungkin karna tahu air bersih sulit kami dapatkan. Dan agar jamaah lainnya tetap kebagian air untuk berwudhu.  Lalu menyilahkan orang lain berwudhu di tempat itu.
Sampai pada saat sholat sy masih mencari2 kesalahannya. Bacaannya standar2 saja spt imam lainnya.
Orang2pun bersalaman dgn bpk presiden  tanpa canggung. Tapi sy tetap menjauh dan tdk peduli.
Ketika bapak presiden ikut tidur di tenda, sy diam2 mulai memperhatikannya. Sosok yg mungkin sudah letih malam itu, tetap tampil penuh perhatian, menyapa rakyatnya dan berdiskusi pendek entah apa yg ditanyakan.
Tubuh pemimpin itu rela merebahkan tubuhnya di bawa tenda beralaskan karpet di lapangan sepak bola ini dgn kondisi yg sangat memprihatinkan.
Sejak tidur ditenda ini. Sy tdk pernah pulas, selalu was was dan terbangun begitu mendengar bunyi apapun. Khawatir dgn gempa susulan, khawatir dgn semua kemungkinan buruk yg siap menimpa kami.
Tapi malam ini,  alampun seperti diam memberi kenyamanan untuk kami beristirahat. Begitu syahdu, begitu damai perasaan keluarga sy.
Baru kali ini sy pulas tertidur seperti ada seseorang yg melindungi kami, menjaga istirahat kami, berada ditengah2 kami seperti rakyat lainnya.
Sebelum tertidur, sy masih melihat dari jauh sosok pemimpin itu terbangun duduk. Mengitari pandangannya melihat dgn seksama pada rakyatnya yg bergelimpangan diatas tikar.
Bapak presiden ikut merebahkan badannya, ikut bersama kami merasakan dinginnya malam,.
Malam ini begitu damai dan tenang. Bahkan suara tangis anak2 yg biasanya berisik malam ini tdk terdengar. Anak sy juga tidak rewel. Malam yg begitu tenang. Seakan tidur kami di nina bobokkan oleh seorang ayah pada anak2nya.
Ya, seorang presiden pada rakyatnya.
Sewaktu bapak presiden pamit untuk melanjutkan perjalanannya, barulah sy  mendekat untuk ikut menjabat tangan itu.
Dgn lirih sy ucapkan terimakasih dan kata maaf yg mungkin tdk dimengerti oleh bapak presiden.
Dalam hati sy memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yg sangat kejam membenci pemimpinnya ini.
Kulihat ketulusan pada wajah kurusnya, kulihat keteduhan pada matanya. Kulihat senyum tipisnya yg ikhlas sambil menjabat tangan sy. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus yg keletihan itu sambil memohon maaf, ampun atas kesalahan2 yg kulakukan.
Tapi sy hanya bisa berkata pelan " maafkan sy pak."
Hanya itu yg keluar dari mulut sy, karna bapak presiden dgn cepat menjabat tangan2 yg lain.
Sy melihat punggung itu menjauh ditemani bapak gubernur kami TGB.
Sosok pemimpin2 yg baru saja memperlihatkan jatidirinya, tabiat dan karakternya, bukan pencitraan spt yg selama ini sy tuduhkan...
Maafkan sy bapak presiden. Maafkan rakyatmu yg tdk tahu diri, yg hanya mengenalmu dari opini2 dan sosial media.
Walau sy masih bersyukur, masih sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput dan mempertanggung jawabkan semua dosa2 sy terhadap sang ulil amry kepada sang Khalik Allah SWT...
 
Tanjung, Lombok Utara. Agustus 2018
Muh. K. Anwar

Monday, 13 August 2018

Sulsel Mulai diguncang Gempa


Selasa, tanggal 14 Agustus 2018 pukul 05:27:24 Wita telah terjadi gempabumi tektonik di daerah Luwu Timur dan sekitarnya.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi yang terjadi berkekuatan M = 3.4 Skala Richter. Lokasi pusat gempa berada di darat, 18 Km Barat laut Luwu Timur pada koordinat 2,42 LS – 121.15 BT pada kedalaman 10 km. Ditinjau dari lokasi episentrum dan kedalaman sumber gempa penyebab gempa ini diperkirakan akibat aktivitas Sesar Matano.
Dari hasil pemodelan shakemap, getaran gempabumi diperkirakan dirasakan pada skala I SIG (Skala Intensitas Gempabumi) BMKG atau setara I – II MMI di Sorowako dan daerah disekitarnya yang berdekatan dengan lokasi sumber gempabumi. Pada skala ini digambarkan getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.
Berdasarkan informasi masyarakat yang diterima di BMKG, getaran gempabumi dirasakan lemah-sedang (I SIG BMKG / I-II MMI) di Sorowako.
Terkait dengan peristiwa gempabumi tersebut, masyarakat disekitar lokasi sumber gempa bumi dihimbau tetap tenang dan tetap menunggu informasi dari BMKG.
(Fado mbojo/ foto: dronestagram)

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates