BREAKING NEWS

Wednesday, 13 March 2019

Pertama Kali dalam Sejarah, Server Facebook "Drop" di Seluruh Dunia


Sejak Rabu (13/03/2019), untuk pertama kali dalam sejarahnya, facebook dan pasangannya, Instagram mengalami masalah teknis yang serius. Kondisi ini merupakan bencana yang luar biasa bagi media sosial raksasa ini ketika semua pengguna di seluruh dunia, ramai-ramai melaporkan kejadian tersebut melalui media sosial kompetitornya sejak hari Rabu siang.

Meski demikian, pihak Facebook ikut memberi pernyataan yang juga diposting ke Twitter untuk meyakinkan pengguna bahwa situs itu akan kembali online. Mereka memastikan pemadaman sistem itu sama sekali tidak terkait dengan serangan DDoS (serangan hacker)

"Kami menyadari bahwa beberapa orang saat ini mengalami masalah dalam mengakses kumpulan aplikasi Facebook. Kami sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah sesegera mungkin," kata akun Facebook di Twitter.

Menurut downdetector.com, pengguna Facebook di Amerika Serikat melaporkan masalah dengan posting, fitur streaming langsung, dan banyak kesulitan teknis lainnya.

Peta pemadaman langsung di situs downdetector.com menunjukkan pemadaman yang tersebar di A.S.

Sebagian besar melaporkan mengenai waktu pemuatan yang lebih lambat atau ketidakmampuan untuk mengirim pesan, beberapa mengatakan mereka tidak bisa masuk ke situs sama sekali atau menggunakan aplikasi.

Pengguna Facebook diseluruh dunia pun ramai-ramai berkicau ke Twitter untuk melaporkan masalah (dan tentunya membuat lelucon #FacebookDown tradisional.)

Sejak rabu siang, pengguna Facebook yang masuk ke situs melaporkan menerima pesan yang menyatakan bahwa situs itu melakukan "pemeliharaan yang diperlukan." Menurut pesan itu, Facebook akan aktif dan berjalan "dalam beberapa menit" tetapi orang-orang masih melaporkan bahwa masalah dengan situs tersebut sudah melewati batas waktu yang disebutkan.

Beberapa yang melaporkan masalah dengan pemuatan aplikasi yang lambat, tidak bisa melakukan "refresh" dan beberapa tidak bisa masuk sama sekali. Kondisi yang sama juga terjadi pada Instagram, meski tidak separah Facebook.

Sebagian besar pengamat media berspekulasi bahwa besar kemungkinan server facebook melakukan "refresh" dengan tempo yang tidak semestinya menyesuaikan tekanan semakin tingginya arus lalu lintas data dari pengguna di seluruh dunia.

Friday, 8 March 2019

Sisa Peradaban Purba di Minahasa, Sulawesi Utara


Wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, sejak dahulu adalah merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996).

Pada masa lalu, wilayah ini menjadi bagian dari route perjalanan migrasi fauna dan manusia beserta kebudayaannya. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di dalam migrasi fauna prasejarah pernah melewati dan singgah di wilayah ini adalah ditandai dengan adanya fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara (Husni, 1996/1997, 1999), dan geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, serta fosil-fosil binatang purba lainnya di Cabenge di Sulawesi Selatan.

Sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi ditemukan di Liang Tuo Mane’e kabupaten Talaud dan di daerah lain di Sulawesi Utara. Disamping itu ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud dan di Bukit Kerang Passo di Minahasa, serta peninggalan budaya megalitik (kebudayaan yang mengenal penggunaan batu-batu besar) tersebar di wilayah kepulauan Sulawesi dan kepulauan Maluku Utara (Bellwood, 1978).



Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi, benda-benda yang terbuat dari batu-batu besar (megalitik) dan penguburan dengan menggunakan tempayan tanah liat.

Warisan budaya purba itu banyak ditemukan peninggalannya di Sulawesi Utara. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta yang sebelum pemekaran wilayah daerah itu termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara. Demikian juga benda-benda megalitik banyak ditemukan di Sulawesi Utara dalam bentuk kubur batu waruga, batu bergores watu pinabetengan, menhir ‘watu tumotowa’, kubur tebing batu Toraut dan lesung batu, yang umumnya ditemukan di Tanah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Sedangkan kubur tempayan tanah liat ditemukan di beberapa daerah seperti di Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas Minahasa, di Liang Buiduane Salibabu, di Tara-tara, Kombi dan di beberapa daerah lainnya.


Kapak Lonjong Kapak zaman ini disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong. Ukurannya ada yang besar ada yang kecil. Alat digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan memotong kayu atau pohon. Jenis kapak lonjong ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.


Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di gua Liang Sarru di Pulau Salibabu.

Bukti yang lain menunjukkan adanya kehidupan sekitar 6.000 tahun lalu di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas dan 4.000 tahun yang lalu sampai awal Masehi di gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa di Pulau Karakelang. Kemudian muncul kebudayaan megalitik berupa kubur batu ‘waruga’, menhir ‘watutumotowa’, lumpang batu dan lain-lain sejak 2.400 tahun yang lalu sampai abad 20 Masehi di Bumi Minahasa.

Ada sembilan sub-etnis di Minahasa, yang menjelaskan jumlah 9 di Manguni Maka-9 yakni Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan pasan (Bentenan), Ponosakan, Babontehu, Bantik.

Delapan dari kelompok-kelompok etnis juga kelompok-kelompok linguistik terpisah. Nama Minahasa itu sendiri muncul pada saat Minahasa berperang melawan Bolaang Mongondow.

Sumber : Aun Islandar

Asal Mula Munculnya Nama Sorowako di Luwu Timur


Sorowako di daerah Luwu Timur merupakan wilayah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Sorowako juga memiliki danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Danau Matano terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter di bawah permukaan laut.

Sorowako masuk di wilayah Kecamatan Nuha. Ini kota kecil, di Kabupaten Luwu Timur. Luas seluruh wilayah untuk kecamatan sekitar 863 km­­ persegi, jumlah penduduknya 19.778 jiwa (data pemerintah Kecamatan Nuha, Maret 2007). Beberapa pendapat menyebutkan luas Sorowako hanya sekira 2 km persegi.

Perekonomian Sorowako ditopang oleh PT. Vale (dahulu PT. inco) salah satu perusahaan tambang nikel terbesar dunia dengan investasi Kanada. Inco melepas 60 persen saham miliknya pada tahun 2008 ke Vale. Pelepasan saham itu, menurut beberapa catatan, karena alasan krisis Amerika pada tahun yang sama dan harga nikel jatuh di pasaran dunia. Vale adalah perusahaan gas dan mineral dari Brasil.

Di kota ini, sulit mencari orang-orang asli Sorowako. Mereka adalah minoritas. Entah di warung rumahan, warung-warung makan yang berjejer di pasar Magani serta pasar Sorowako dekat danau Matano, yang ditemukan adalah orang dari Rongkong, Toraja, Bugis, atau Jawa.

Sorowako adalah kota asing dari identitas utama mereka. Serbuan para pendatang membuat ruang sosial berubah. Ada penjual sayuran keliling, penjual makanan, pemilik toko, hingga penjual ikan di pasar, selalu menyapa dengan kata ‘Mas’.

Tahun 1950-an ketika DI/TII bergejolak di Sulawesi Selatan, wilayah Sorowako tak lepas dari gempuran. Suku-suku asli melarikan diri karena tak tahan pemaksaan untuk memeluk Islam. Orang Sorowako pada mulanya memeluk kepercayaan animisme.

Jika ingin mengklasifikasi populasinya dengan perkiraan realita, diperkirakan saat ini suku yang paling banyak mendiami Sorowako adalah Rongkong, Toraja, Jawa, Bugis, yang mendiami beberapa daerah sekitar.

Sebenarnya saya rindu mendengar dialeg Sorowako asli. Saya bahkan buta sama sekali dengan bahasa Sorowako. Referensi saya tentang daerah ini sangat sedikit, hanya membaca sepintas, diantara laporan OXIST di buku Kedatuan Luwu dan Cristian Pelras di Manusia Bugis-nya.

Beberapa waktu lalu saya menelpon, Iwan Sumantri, seorang Arkeolog Universitas Hasanuddin. Dia sahabat dan kawan saya, sekaligus mentor pribadi yang kawakan. Menurut Iwan, kata Sorowako berasal dari ucapan pasukan bantuan dari Rongkong – sekarang Kabupaten Luwu Utara. Pada masa itu, terjadi peperangan di daerah Sorowako melawan Mekongga dari Sulawesi Tenggara.


Kala itu orang-orang lokal terpukul mundur dan mulai kalah. Bantuan Rongkong datang dan menyeru, "Jangan ada yang mundur" atau dalam bahasa Suku Rongkong adalah SOROAKO. Seruan itu bersifat tekanan, harus berani dan tak boleh lari. Apapun yang terjadi.

Kini orang-orang Sorowako itu semakin sedikit. Realitanya, disaat wilayahnya berkembang dengan pesat, malah sungguh sudah terpukul mundur. Suaranya kini semakin tak terdengar.

(Eko Rusdianto)


Thursday, 7 March 2019

Sistem Pemerintahan Raja-raja di Bone


Bone sebagai satu kerajaan diperintah oleh seorang raja yang disebut Mangkau'e ri Tana Bone (yang berdaulat di Bone).

Nama-Nama Raja/Mangkau Bone :

1. Manurungnge ri matajang/ Mata Silompo'e, 1326-1358.
2. La Umasse' Petta Panre Bessie To mulaiye Panreng, 1358-1424.
3. La Saliyu Kerempeluwa Pasadowekki Arung Palakka, 1424-1496.
4. We Banri Gau Daeng Marowa Arung Majang Makkaleppie Mallajangnge Ri Cina, 1496-1516.
5. La Tenri Sukki Mappajungnge, 1516-1543.
6. La Uliyo Botee Matinroe Ri Itterrung, 1543-1568.
7. La Tenri rawe' Bongkangnge Matinroe ri Gucinna, 1568-1584.
8. La Inca Matinroe ri Addenenna, 1584-1595.
9. La Pattawe Daeng Soreang Matinroe ri bettuing, 1595-1602.
10. We Tenri Patuppu Matinroe Ri Sidenreng, 1602-1611.
11. La Tenri Rua Arung Palakka Matinroe ri Bantaeng, 1611- 3 bln Arung Pattiro masuk Islam.
12. La Tenri Pale To Akkapeang Matinroe ri Tallo, 1611-1625.
13. La Maddaremmeng Opunna Pakokoe Matinroe ri Bukaka, 1625-1640.
14. La Tenri Aji To Sanrina Matinroe ri Siang , 1640-1643.
15. Jennang To Bala, 1643-1660.
16. La Saketti Arung Amali, 1660-1667.
17. La Tenri Tatta To Unru Arung Palakka Petta To Ri Sompae Datu Mario Ri Wawo/ Sultan Saaduddin Daeng Serang Malampe'e Gemme'na ri Bone Matinroe ri Bontoala, 1667-1696.
18. La Patau Matanna Tikka Matinroe Ri Nagauleng, 1696-1714.
19. We Batari Toja Daeng Talaga Matinroe ri Tippulu'na, 1714-1715.
20. La Padassajati To Appaware Matinroe ri Beula, 1715-1718.
21. La Pareppai To Sappewali Matinroe Ri Somba Opu, 1718-1721.
22. La Panaongi To Pawawoi, 1721-1724.
23. We Batari Toja Daeng Talaga Matinroe Ri Tippulu'na ( per 2), 1724-1749.
24. La Tammassonge To Appewaling, 1749-1775.
25. La Tenri Tappu To Appewaling, 1775-1812.
26. La Mappasessu To Appatunru, 1812-1823.
27. I manning Arung Data, 1823-1835.
28. La Mappaselling Arung Panyili, 1835-1845.
29. La Parenrengi Arung Ugi', 1845-1857.
30. We Tenri Waru Pancaitana, 1857-1860.
31. La Singkerru Rukka Arung Palakka, 1860-1871.
32. We Fatimah Banri Gau, 1871-1895.
33. La Pawawoi Petta Sigeri, 1895-1905.
34. La Tenri Sukki Mappanyukki, sampai 1946.
35. La Pabbenteng Petta Lawa, 1946-1951.
(Sketsa Wajah Para Mangkau Bone dapat di Lihat di beranda saya.)

Kemudian dilanjutkan Masa Pemerintahan Kepala Daerah Yaitu :
1.Abdul Rahman Daeng Mamangung 1951.
2. Andi Pangerang Petta Rani, 1951-1955.
3. Ma'Mung Daeng Mattiro, 1955-1957.
4. H. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Matinroe Ri Gowa, 1957-1960.
5. Kol. H. Andi Suardi, 1960-1966.
6. Andi Djamuddin, 1966.
7. Andi Tjatjo, 1966-1967.
8. Andi Baso Amir, 1967-1969.
9. H. Suaib, 1969-1976.
10. H. P. B. Harahap, 1976-1982.
11. H. Andi Made Ali, 1982-1983.
12. Andi Syamsu Alam, 1983-1988.
13. Andi Syamsoel Alam, 1988-1993.
14. Andi Muhammad Amir, 1993-2003
15. H. Andi Muhammad Idris Galigo, 2003-2013.
16. Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Pajalangi, M.si, 2013- sekarang.

(Jika ada kesalahan atau kekeliruan mohon di kritik dan di benarkan.)

Raja menjalankan kekuasaan sehari-hari di dampingi oleh pembesar-pembesar kera­jaan, serupa dengan menteri - menteri kerajaan yang terdiri dari :

1. To makkadangie Tana, adalah semacam
Mangkubumi, atau Perdana Menteri.
Dialah yang memimpin  penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan dan membagi kekuasaan untuk diselenggarakan atau dijalankan oleh pêmbesar-pembesar lainnya  dalam kerajaan Dia pulalah  bertindak sebagai Wakil Raja,
2. To-marilaleng, dialah yang memim­pin Dewan exekutif kerajaan yang disebut "Ade' pitu Tana Bone".
3. Ade' pitu, pada' awal kejadiannyaadalah 7 kepala wanua (negeri) yangmenggabungkan negerinya masing-masing, membentuk Tana Bone pada perkembangan selanjutnya, ke-7 kepala wanua itu, dengan membawa nama wanuanya duduk dalam dewan kerajaan
dengan membagi tugas pemerintahan
sbb :
1.) Arung Macege', urusan pemerintahan/administrasi umum kerajaan.
2.) Arung Ponceng, urusan keamanan/
pertahanan kerajaan.
3.) Arung Tibojong. 'urusan kehakiman.
4.) Arung Tanete ri Attang. urusan-
Pembangunan/Pekerjaan forum.
5.) Arung Tanete ri Awang. imigrasi ge-
uangan/Ekonomil "
6.) Arung Ta', urusan pendidikan dan pengajaran.
7.) Arung ujung urusan Agama dan Penerangan.

4. To marilaleng Lolo. dia mengawasi daerah-daerah bawahan yang diperintah oleh Raja - raja bawahan (Arung Palili).
5. Ponggawa, Panglima Angkatan Perang Kerajaan, menyusun kekuatan perta­hanan dan perlawanan.

Nama-Nama Ponggawa Lompoe Ri Bone.

1.Baso Abdul hamid pagilingi Petta Ponggawa.
2. La Ballo pasalai ri bulu pattimpa.
3. Petta PonggawaE laowe ri luwu (La Massellomo).
4. La Temmu Page Arung Paroto Ponggawa Bone.
5. Petta Ponggawae matinroe ri kaluku bodo.
6. Syarif maulana Iskandar al aydid petta janggo
7. La Palettei pasalai ri ajatappareng.
8. La Temmasonge Datu Baringeng.
9. La Pottokati Datu Baringeng.
10. La Mandacini Petta Ponggawa Pakkenyarang.
11. La Tenri sau Arung Mare.
12. Opu To Juma'.
13. Generale Van Bontoriu.
14. Karaeng Kanjilo.
15. Karaeng Popo.
16. La Patau Matanna Tikka.
17. Larumpang megga arung lamuru.
18. Karaeng pakkanre ate matinroe ri Sigeri.
19. Syech Ahmad (Alif Putih).
20. Lapawawoi Karaeng Sigeri.
21. Raja Lewa arung amali.
22. La Massarassa Arung Pallengoreng.
23. La Gau’ Arung Pattojo Ponggawa Bone.
24. To Ancalo Arung Amali.
25. La Kasi Daeng Majarungi Puanna La Tenro Ponggawa Bone.
26. La Cibu To LebaE Ponggawa Bone.
27. La Mappaewa Arung Lompu To Malompo ri Bone.

Jadi nama-nama tersebut belum berurut cuma saya berusaha mencari semua nama-nama Ponggawa Bone, mulai dari masa Raja Pertama sampai terakhir. (Dan jika ada kesalahan dalam penulisan nama silahkan dikoreksi  dan dilengkapi).
Dibawah pimpinan Ponggawa ini. terdapat tiga orang Panglima bawahan, yang disebut Dulung, antara lain :
1.Dulung Awang Tangka'.
2.Dulung Ajang Ale.
3.Dulung Lamuru.
Wilayah Tana Bone dibagi kedalam
beberapa Negeri (bawahan ) yang disebut Wanua. Kepala-kepala wanua itu disebut Arung Palili. Wanua—wanua itu dibagi atas desa.
Desa - désa di Bonè itu disebut pada umumnya Kampong. Kampong itu' dipimpih oleh seorang Kepala Kampüng, yang biasanya disebut Jennang, Macóa, Kapala, To'do dsbnya.
Dalam kekuasaan Hindia Belanda, Bone
menjadi daerah Swapicaja Zelfbesturende lansohappen dalam status administratif Onder afdeling Bone, dalam lingkungan Afdeling Bone.  Raja Bone dalam menja­lankan pemerintahan disamping terdapat seorang pengontrol Belanda yang menjadi superviser.

(Andi Muhammad Zulkarnain)

Thursday, 28 February 2019

Kisah Bergabungnya Pasukan Bugis Makassar dalam Perang Kerajaan Mataram


Sejarah mencatat, perang Trunajaya melawan Mataram dan Kompeni (1670-1679) ternyata melibatkan prajurit-prajurit Bugis- Makassar. Dua bangsawan dari Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Galesong dan Daeng Naba, berada di dua kubu yang berbeda. Karaeng Galesong membantu Trunajaya, sedangkan Daeng Naba yang ”menyusup” kedalam kesatuan Kompeni-Belanda menopang kekuatan Mataram.

Galesong yang bernama lengkap I Maninrori Karaeng Galesong adalah satu di antara sekian banyak bangsawan Bugis- Makassar yang pergi dari negerinya karena tidak puas atas penerapan Perjanjian Bongaya (1667), menyusul jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan Belanda. Semula ia mendarat di Banten, menyusul rekannya sesama bangsawan yang telah lebih dahulu tiba di sana, yakni Karaeng Bontomarannu.

Situasi genting di Banten memaksa Galesong dan Bontomarannu berlayar ke timur, ke daerah Jepara, kemudian menetap di Demung, tak jauh dari Surabaya sekarang. Bersama sekitar 2.000 pengikutnya, Galesong bersekutu dengan Trunajaya untuk berperang melawan Mataram. Persekutuan itu juga ditandai ikatan perkawinan antara Galesong dan putri Trunajaya, Suratna, pada Desember 1675.

Ketika pemberontakan Trunajaya benar-benar berkobar, di bawah komando Galesong dan Bontomarannu, orang-orang Bugis- Makassar mulai menyerang dan membakar pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara bagian timur Jawa. Mataram kian terdesak. Bahkan, dalam serbuan ke pedalaman, pusat kekuasaan Mataram di Plered sempat direbut Trunajaya.

Baru setelah campur tangan Belanda, pemberontakan Trunajaya bisa diredam. Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan Mataram mengakhiri pemberontakan Trunajaya adalah Karaeng Daeng Naba. Berkat usaha Daeng Naba membujuk Galesong—yang disebut Naba sebagai adiknya— agar menghentikan perang dengan Mataram, pemberontakan Trunajaya akhirnya bisa ditumpas.

Drama sejarah ini berakhir tragis. Galesong yang mematuhi saran Daeng Naba dianggap berkhianat dan dibunuh mertuanya, Trunajaya. Adapun Trunajaya akhirnya tewas di tangan Amangkurat II pada tahun 1679.

Akan halnya Daeng Naba yang bernama lengkap I Manggaleng Karaeng Daeng Naba, putra I Manninroi J Karetojeng, seterusnya dipercaya menjadi bagian pasukan Mataram. Dengan kekuatan 2.500 kavaleri, laskar Daeng Naba yang terdiri atas orang- orang Bugis-Makassar tersebut menjadi pasukan inti Kerajaan Mataram ketika itu, dan sampai saat ini nama laskar Daeng masih dapat kita jumpai sebagai nama salah satu Laskar di kerajaan Jogjakarta.

(Fidel Sastroe)

Wednesday, 27 February 2019

Bagaimana Arung Palaka Bersekutu dengan VOC?


MENINJAU KEMBALI PERAN ARUNG PALAKA DARI ORANG BUGIS DAN PAHLAWAN BAGI ORANG BUGIS
(Muhammad Ihsan Harahap)

DI bulan Desember ini, 350 tahun yang lalu, suasana tegang masih menyelimuti hati setiap orang di Benteng Somba Opu. Sebuah perjanjian yang sangat penting bagi Kerajaan Gowa-Tallo baru saja ditandatangani sebulan sebelumnya, tepatnya pada 18 November 1667. Perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Bungaya itu terpaksa disetujui oleh pihak Kerajaan Gowa-Tallo setelah berkonflik dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie ) selama setengah abad.

Sejak paruh pertama abad ke-17, berbagai perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di Kepulauan Maluku dianggap sebagai ancaman serius. Saat itu Kompeni melakukan berbagai cara untuk memantapkan monopoli perdagangan di kawasan timur Nusantara tersebut.

Kompeni yang melihat banyaknya palili’ (daerah/kerajaan bawahan) yang dimiliki Gowa, serta dengan mempertimbangkan suasana politik yang panas antara palili’ dan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa, akhirnya menemukan celah dengan menjalin koalisi tak terduga dengan Arung Palakka, seorang bangsawan nan cerdas dari Bone yang dibawa sebagai tawanan ke Gowa pada akhir 1644.

Meski Arung Palakka pernah menjadi pelayan Karaeng Pattingngalloang, Tuma’bicara Butta (Perdana Menteri) Kerajaan Gowa-Tallo, tetapi kekuasaan dan kesewenangan Gowa atas Bone merupakan siri’ baginya. Suatu masa antara Juni dan Agustus 1660, Arung Palakka, Arung Kaju, Arung Maruangeng, Daeng Pabila, dengan dibantu oleh Tobala’ –yang terakhir ini merupakan regent Bone yang ditunjuk oleh Gowa– memutuskan melarikan diri dan pulang ke kampung halaman mereka. Ini terjadi setelah Karaeng Karunrung memerintah 10.000 orang Bugis Bone untuk menggali kanal di dekat Benteng Panakkukang karena benteng tersebut berhasil dikuasai oleh Kompeni.

Pelarian itu segera menggagas persekutuan dengan mengajak Kerajaan Soppeng untuk bersekutu dengan Bone. Di tengah ketidaksetujuan sebagian bangsawan Soppeng, akhirnya terbentuk juga persekutuan tersebut melalui Pincara Lopie ri Attapang (Perjanjian Rakit di Attapang).

 Kerajaan Wajo sebagai salah satu palili’ Gowa yang diajak oleh Arung Palakka dalam persekutuan tersebut menolak bergabung. Meski akhirnya setelah itu persekutuan tersebut kalah dalam beberapa perang melawan Gowa yang mengakibatkan Arung Palakka lari ke Butung (Buton) dan Batavia (Jakarta), namun pelan tapi pasti api telah membakar sumbu yang akan menghancurkan Gowa dan memaksanya menandatangani Perjanjian Bungaya enam tahun kemudian.

Arung Palakka Kembali
Setelah berpindah dari Buton ke Batavia atas bantuan Kompeni, Arung Palakka diminta untuk memadamkan pemberontakan orang Minangkabau di pantai barat Sumatera. Arung Palakka setuju dan berangkat bersama
Toangke , julukan bagi sekitar 400 orang Bugis yang berdiam bersamanya di sekitar Sungai Angke. Pada 30 Agustus 1666, ia tiba di Padang bersama dengan Kapten Joncker yang memimpin tentara Ambon. Ini adalah medan pembuktian bagi Arung Palakka agar Kompeni semakin yakin bahwa dirinya bisa diandalkan. Kemenangan diraih oleh Arung Palakka, bahkan ia digelari sebagai ‘Raja Ulakan’ oleh orang-orang Ulakan karena keberaniannya di sana. Keyakinan Kompeni bahwa Arung Palakka mungkin merupakan kunci untuk mengalahkan musuhnya di timur, yaitu Gowa, semakin menguat ketika pasukan Aceh dikalahkan oleh Arung Palakka di Pariaman.

Tidak lama setelah itu, Dewan Hindia di Batavia mengeluarkan resolusi untuk mengirimkan ekspedisi ke Makassar dan kawasan timur pada 2 November 1666 dengan tujuan “mengumumkan perang kepada orang Makassar”. Meski begitu, sebenarnya Kompeni masih berharap masalah dengan Gowa masih bisa diselesaikan dengan jalan damai.
 Bagaimanapun Kompeni sangat sadar bahwa Gowa adalah kerajaan terbesar di bagian timur Nusantara. Selama setengah abad konfrontasi yang terjadi antara Gowa dan Kompeni tidak menghasilkan kemenangan signifikan bagi Kompeni. Memerangi Gowa sekali lagi adalah jalan pintas menuju kehancuran bagi Kompeni dan semua kepentingannya di timur.

Namun, mau tidak mau akhirnya Kompeni berangkat ke Gowa dan menunjuk Cornelis Janzoon Speelman, seorang pegawai Kompeni yang kontroversial, untuk memimpin ekspedisi tersebut. Ia berangkat bersama dua pemimpin perang yang baru saja sukses di pantai barat Sumatera: Arung Palakka dan Kapten Joncker. Tugas utama Speelman adalah mengupayakan perdamaian dan meminta Gowa untuk meminta maaf, terutama atas kasus terbunuhnya orang-orang Belanda di Pulau Don Duango dan ‘perampokan’ terhadap kapal Leeuwin yang karam, meski tidak menutup kemungkinan melancarkan perang jika Gowa menolak. Ekspedisi ke Makassar yang dipimpin Speelman itu berlayar pada 24 November 1666 dengan membawa dua puluh kapal yang mengangkut 1870 orang.

Pada 17 Desember 1666, armada ini tiba di sekitar Pulau Tanakeke dan sampai di pantai Makassar dua hari kemudian. Tuntutan yang diajukan oleh Kompeni dibalas dengan kunjungan dua bangsawan penting Gowa bersama dua penerjemah sambil membawa 1056 koin emas dan 1435 coprijksdaalders sebagai ganti rugi atas kejadian Don Duango dan kapal Leeuwin. Semua barang ini ditolak oleh Speelman. Dua hari kemudian, utusan Belanda telah datang kembali dari Somba Opu, istana Kerajaan Gowa, dengan membawa kegagalan: tuntutan Belanda ditolak oleh Sultan Hasanuddin. Maka sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal, Speelman mendekati pelabuhan Makassar hingga setengah kilometer dari pantai dan mulai membombardir wilayah tersebut.

Peristiwa tersebut menandai dimulainya Perang Makassar. Perlawanan sengit dilancarkan oleh Gowa yang tidak menyangka adanya serangan tiba-tiba, bukan hanya dari armada Kompeni yang menyerang dari laut, tapi juga oleh serbuan darat pasukan Bugis di bawah komando Arung Palakka yang menyerang dari arah selatan. Pertempuran terjadi selama 11 bulan sebelum akhirnya kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Mereka bertemu pada 13 November 1667 untuk menyepakati sebuah paket perjanjian damai di Bungaya, sebuah kampung di dekat Barombong.

Perjanjian Bungaya
Pertemuan pun dilaksanakan di sebuah tanah lapang di Bungaya. Para pemimpin penting seperti Speelman, Arung Palakka, Sultan Hasanuddin dan Karaeng Karunrung hadir di sana. Awalnya mereka berkomunikasi melalui perantara penerjemah, tetapi karena cara ini dianggap tidak efektif, maka Karaeng Karunrung sebagai orang yang paling pandai dalam soal bahasa menjadi juru runding Gowa. Perundingan antara Speelman dan Karaeng Karunrung itu berlangsung dalam bahasa Portugis. Hasil dari perundingan yang tidak selesai dalam waktu sehari ini disebut sebagai Perjanjian Bungaya.

Perjanjian Bungaya mengubah total arah sejarah yang seharusnya terjadi di Sulawesi Selatan. Perjanjian yang terdiri dari 26 pasal ditambah tiga pasal tambahan ini bukan hanya menjadi momentum jatuhnya Kerajaan Gowa, tetapi juga menandai awal kekuasaan penuh dari Kompeni di bagian timur Nusantara. Empat bulan sebelumnya, berakhirnya Perang Kedua Inggris-Belanda membuat Belanda mendapatkan Pulau Run, penghasil utama pala di Kepulauan Banda, setelah menukarkannya dengan Niew Amsterdam yang kelak menjadi New York.

Perjanjian Bungaya juga menimbulkan kerugian besar bagi kelompok pedagang internasional lain yang telah lama berdagang di Somba Opu, terutama pedagang Inggris. Perjanjian tersebut memutuskan bahwa semua pedagang Eropa (kecuali pedagang Belanda), India/Moor, Jawa, Melayu, Aceh dan Siam dilarang berdagang di Makassar. Sehari setelah poin-poin Perjanjian Bungaya akhirnya disepakati pada 18 November 1667, para pedagang dari berbagai bangsa, terutama Inggris dan Portugis, mulai meninggalkan Somba Opu. Dua hari setelahnya, Speelman memasuki Benteng Jumpandang yang kelak diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

Bagi pihak kerajaan kembar Gowa-Tallo sendiri, perjanjian ini seolah menjadi penutup kejayaan Makassar sebagai kekuatan paling besar di bagian timur Nusantara sejak awal abad ke-17. Perjanjian Bungaya mengharuskan agar semua benteng yang dimiliki oleh kerajaan tersebut, kecuali Somba Opu dan Jumpandang, dihancurkan. Pada 24 Juni 1669, Sompa Opu yang menampung istana Kerajaan Gowa ikut jatuh akibat kekalahan perang susulan yang diinisiasi oleh Karaeng Karunrung setelah Perjanjian Bungaya.

Dengan begitu jatuhlah seluruh benteng Kerajaan Gowa-Tallo ke bawah kekuasaan Kompeni. Kenyataan ini digunakan oleh Kompeni untuk menguatkan kembali isi Perjanjian Bungaya yang telah disepakati dua tahun sebelumnya. Pada 15 Juli 1669, perwakilan Tallo datang ke Fort Rotterdam untuk mengakui kembali perjanjian tersebut, disusul dengan perwakilan Gowa yang datang pada 27 Juli 1669. Mereka menaruh senjata dan bersumpah dengan Alquran, meminum air serta menghunus keris untuk mengakui kembali perjanjian itu.

Paradoks
Arung Palakka tidak butuh waktu terlalu lama untuk menjadi pemimpin baru di Sulawesi dan seluruh bagian timur Nusantara. Speelman menempati Fort Rotterdam dan menjadikannya sebagai kantor Kompeni dan rumah tinggalnya sendiri. Sedangkan Arung Palakka tinggal di istana Bontoala, sekitar dua kilometer dari Fort Rotterdam. Beberapa tahun kemudian, kedua orang ini mencapai puncak karirnya: Speelman diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pada 1680, Arung Palakka diangkat menjadi Raja Kerajaan Bone pada 1672.

Dalam bentangan peristiwa selama abad ke-17 di Sulawesi Selatan, banyak sekali ditemukan paradoks yang kadang menimbulkan kebingungan bagi pembaca sejarah. Ini merupakan kombinasi dari sifat dan karakter yang dimiliki oleh orang-orang Makassar dan Bugis, misalnya kecintaan pada ilmu, toleransi kepada perbedaan, keinginan untuk bebas merdeka, dengan ambisi politik yang mengharuskan konflik, perang atau bahkan penaklukan kepada saudara sendiri.

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Gowa-Tallo sebelum kekalahan itu begitu terbuka kepada bangsa lain. Puluhan kantor perwakilan dagang dari berbagai bangsa terdapat di Somba Opu. Demikian juga dengan berbagai tempat ibadah yang dimiliki bangsa-bangsa Eropa bebas berdiri atas izin penguasa Gowa. Hal ini menunjukkan kecintaan pada ilmu dan toleransi kepada perbedaan. Namun pada saat yang sama, perintah Karaeng Karunrung agar 10.000 orang Bugis Bone mengerjakan kerja paksa berupa penggalian kanal di dekat Benteng Panakkukang merupakan hal paradoks dari sifat toleransi. Hal inilah yang membuat Arung Palakka dan beberapa bangsawan Bugis lain melarikan diri dari Gowa.

Paradoks dalam sejarah di Sulawesi Selatan ini tidak hanya pada hal di atas. Keinginan Arung Palakka untuk bebas merdeka itu mengantarkannya untuk menerima tawaran Kompeni untuk bersama-sama memerangi Gowa. Ketika Kompeni dan Arung Palakka mengalahkan Gowa, paradoks terjadi lagi, yaitu keputusan Kompeni untuk mengusir berbagai bangsa yang berdagang di Makassar. Di sini, bukan hal yang sederhana untuk bisa memisahkan antara sifat dan karakter orang-orang Makassar dan Bugis dengan ambisi politik mereka masing-masing.

Refleksi
Kehancuran Kerajaan Gowa-Tallo akibat dari koalisi Kompeni dan Arung Palakka ini sering dijadikan bukti oleh banyak orang untuk mengatakan bahwa orang-orang Bugis adalah kawan dan hamba penjajah. Harus diakui, ada beberapa pihak yang ingin terus mengobarkan perang antara orang-orang Makassar dan Bugis. Namun dengan membaca sejarah, kita bisa memperbaiki pandangan kita kepada orang Bugis –jika anda orang Makassar– dan kepada orang Makassar –jika anda orang Bugis. Sejarah yang terjadi selama 350 tahun setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya telah membuktikan itu.

Arung Palakka meninggal pada 6 April 1696 dan dikebumikan di Gowa. Makam Arung Palakka tersebut kini terletak di tengah pemukiman warga yang hampir seluruhnya adalah orang-orang Makassar. Tiga abad telah membuktikan makam tersebut telah dijaga dengan baik oleh orang-orang yang dulu ditaklukkan olehnya. Setelah ia meninggal, Aruppitu (Dewan Adat Bone) memilih sendiri pengganti Arung Palakka, yaitu La Patau Matanna Tikka dan segera berangkat ke Rotterdam untuk melaporkan keputusan tersebut. Van Thije, perwakilan Kompeni di sana, menyambut dan memberitahu bahwa keputusan itu akan dikirim ke Batavia agar disetujui Dewan Hindia. Aruppittu itu bergeming, dan juru bicaranya mengatakan: “Kami datang ke sini bukan untuk membicarakan tentang pemilihan. Kami datang ke sini untuk memberitahu anda tentang apa yang telah kami putuskan.”

Penulis adalah alumni Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Pernah bekerja sebagai Monitoring Officer di Indonesian Interfaith Weather Station (IIWS) dan sebagai Academic Fellow on International Civil and Human Rights di Kennessaw State University, Georgia, Amerika Serikat.

Oleh: Iswadi Arif Jabril
Foto: Atlas of Mutual Heritage dan Koninklijke Bibliotheek Dutch National Library/wikimedia.org.

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates