BREAKING NEWS

Thursday, 24 May 2018

Pengakuan Mantan Teroris, Ahli Perakit Bom, Ali Fauzi Manzi


Ratusan burung beterbangan di dalam sangkar di halaman rumah. Perasaannya tak enak. Dia sadar ada orang yang masuk ke rumahnya. Dia lalu keluar melalui pintu samping. Di depan pintu utama rumahnya, Dia mendapati sebuah kotak terbungkus rapi. Instingnya mengatakan, ini.... Bom.

***
Sekelompok orang tidak senang saat dirinya menyatakan berhenti dari dunia teroris. Dia lalu diteror. Di media sosial dan di dunia nyata. Oleh mantan kelompoknya, Dia dipanggil dengan sebutan murtad. Lebih syetan dari thoghut. Namanya Ali Fauzi Manzi. Adik dari terpidana mati kasus bom Bali, Amrozi dan Ali Imran ini dianggap sebagai penghianat.

Suatu ketika Ali Fauzi mendapat kiriman bom di depan rumahnya. Bom high explosive. Siap meledak dengan pemicu tekanan tertentu. Beruntung Ali Fauzi memiliki latar belakang keilmuan tentang bom. Dengan sigap dan hati-hati, mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) ini mengurai rangkaian bom itu. Satu per satu kabel dia runut. Hanya menggunakan alat seadanya. Kaos tangan, gunting dan pisau cutter. Dia mendapati wire yang berhubungan dengan  detonator yang dipasang di pintu utama rumahnya. "Pemicunya adalah tekanan pintu rumah. Jika saya mendorong pintu itu, bom ini akan meledak. Mungkin mereka lupa, klo saya ini mantan guru perakit bom",ungkapnya dengan sedikit tertawa. Setelah merasa aman dia lalu menghubungi petugas jihandak.

Sepenggal cerita itu menjadi bahan ceramah Ali Fauzi. Mantan teroris jaringan Al Qaeda di Asia Tenggara. Dia berceramah di hadapan ribuan prajurit TNI AD di Masjid Sultan Hasanuddin Makodam XIV Hasanuddin, Selasa, 22 Mei. Pangdam XIV Hasanuddin dan Kasdam XIV Hasanuddin, Mayjend TNI Agus Surya Bakti dan Brigjen TNI Budi Sulistijono turut hadir, duduk bersila di saf depan. Para prajurit begitu antusias. Mereka ingin mendengar langsung pengalaman hidup seorang teroris paling diburu. Masjid besar itu bahkan tak cukup menampung semua prajurit. Beberapa diantaranya menggelar tikar di halaman masjid.

"Kakak saya --Amrozi dan Ali Imran, dieksekusi di Nusakambangan. Saya sendiri yang memandikan, mengkafani, men-salat-kan, dan kirim jenazahnya pulang ke kampung saya, Lamongan", ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Dia menceritakan bahwa rangkaian teror dalam kurun waktu tahun 1999 - 2010 di Indonesia merupakan ulah jaringan kelompoknya. Termasuk serangkaian ledakan ribuan kilogram bahan peledak di Kuta dan Jimbaran, Bali, yang menewaskan ratusan orang. "Kami memang mengincar orang bule (turis asing), simbol-simbol barat, kedutaan atau konjen", tegas mantan pasukan elit camp militer Moro Islamic Liberation Front (MILF) ini. MILF adalah pasukan elit yang dilatih khusus ilmu kemiliteran di Mindanao, Filipina Selatan. Teroris tenar macam, Noordin M Top dan DR Azhari alumninya.

Ali Fauzi menceritakan, saat keluar dari penjara dia tak tahu harus berbuat apa. Pengangguran, tidak ada penghasilan. "Saya merasa terpuruk. Keluarga saya, istri dan anak saya tidak bisa makan", kenangnya. Hidupnya kembali ke titik nol. Bahkan minus. Namun ibarat kata, setelah hujan badai akan ada pelangi. Dia kemudian bertemu Agus Surya Bakti. Kala itu, Agus masih menjabat sebagai Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT RI.

"Di sinilah titik balik kehidupan saya", sebutnya.
"Saya bahkan menganggap beliau sebagai seorang Brama Kumbara. Sosok pejuang, yang berwibawa, penolong dan baik hati". Dia menambahkan, "Dahulu ia musuh saya, sekarang sahabat saya", sambung dosen STIT Lamongan ini disambut tawa dan tepuk tangan ribuan prajurit seakan mencairkan suasana.

Saat ini Ali Fauzi sering tampil di televisi. Diundang sebagai pembicara pengamat bom dan terorisme. Pernah menjadi pembicara di Lemhanas. Diangkat menjadi Duta Google Ideas Save, Didaulat menjadi Duta Perdamaian Aliansi Indonesia Damai, dan menjabat sebagai Direktur Lingkar Perdamaian.

Bagi Ali Fauzi, tak ada orang baik yang tak punya masa lalu, begitupun tak ada orang jahat yang tak punya masa depan.

Sumber :
Abe Bandoe/Wartawan Foto Harian FAJAR

Thursday, 10 May 2018

Minimnya Inovasi Manajemen Pengolahan Sampah di Sulsel


Perkembangan kota di Sulsel khususnya Makassar sebagai kota metropolitan terbilang cukup pesat di Indonesia Timur. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan tidak inovatif. Polanya masih tergolong kuno dan konservatif.
Ketua Forum Studi Energi dan Lingkungan, Anwar Lasapa mengungkapkan, “Manajemen persampahan kita tidak memiliki desain manajemen yang jelas. Pengelolaannya masih menggunakan paradigma lama yaitu dengan cara mengumpul, mengangkut lalu membuang ke TPA,” katanya.
Manajemen persampahan modern selayaknya kota besar seharusnya sudah menggunakan pola recovery (pemulihan) sampah melalui konsep daur ulang sampah. Kota makassar merupakan kota metropolis yang tingkat volume sampahnya sangat tinggi sehingga membutuhkan penanganan sampah yg lebih modern dan berkelanjutan.
Lebih ironis lagi, armada pengangkut sampah sangat minim. Fasilitas mobil pendukungnya n belum ada rencana penambahan armadanya. “Ini menunjukan bahwa pemkot tidak serius dalam mengelolah sampah di kota makassar,” tegas Anwar Lasappa. Tidak heran, sampah di Kota Makassar masih sering kita jumpai di sejumlah sudut kota.
Kota Ma­kassar adalah salah satu kota besar yang menghasilkan produksi sampah kurang lebih 60 ribu kubik atau setara 250 – 300 ton per harinya. Jumlah penduduk kota Makassar saat ini mencapai sekitar 1,3 juta jiwa, diperkirakan menghasilkan sekitar 3800 m3 sampah perkotaan setiap harinya. Dengan perkiraan jumlah penduduk yang akan mencapai sekitar 2,2 juta jiwa pada tahun 2015, diperkirakan produksi sampah tiap orang sekitar 0.3 m3 per hari, menghasilkan total 4,500 m3 sampah tiap hari. Ini akan menjadi masalah yang serius apabila tidak terdapat rencana dan pengelolaan sampah padat perkotaan yang memadai.

Terjadi Pengerusakan Lingkungan parah di Bantaran Sungai Jawi-jawi Parepare


Sejak pembangunan perumahan di sepanjang sisi bantaran sungai Jawi-jawi, kota Parepare, habitat alami dan keseimbangan sungai itu akhirnya terganggu. Minimnya pemantauan serta terabaikannya wawasan lingkungan menjadikan para pengembang swasta di kota Parepare telah menjadi momok yang mengerikan bagi lingkungan alami di kota pelabuhan itu.
Ironisnya, pohon-pohon besar yang selama ini menjaga abrasi bantaran sungai Jawi-jawi, sudah ditebang habis-habisan untuk pelebaran lahan. Kondisi tersebut membuat beberapa lahan pinggir sungai mengalami abrasi parah. Sedimen lumpur menumpuk dan ukuran sungai mengecil.
Ada pun pembangunan tanggul sepanjang sungai hanya dibuat standar seperti pada umumnya tanggul bantaran sungai yang menggunakan pola trap dan jaring. Kondisi tanggul tersebut dipastikan tidak akan mampu menampung sedimen lumpur sungai, utamanya di musim hujan.
Menurut beberapa aktivis alam yang selama ini menyoroti pengerusakan lingkungan di bantaran sungai Jawi-jawi, selain kegiatan penebangan pohon, pembangunan perumahan para pengembang di pinggir sungai Jawi-jawi tidak mengikuti kaidah standar yang mendukung habitat alami. Justru malah menambah daya rusak lingkungan alami sungai Jawi-jawi. Sementara diketahui, sungai Jawi-jawi selama ini merupakan sumber air yang menunjang kegiatan.ekonomi bagi warga yang menghuni wilayah hulunya.
Dinas terkait seperti KLH dan dinas kehutanan setempat, ketika dihubungi cenderung tidak ambil peduli dengan kondisi sungai Jawi-jawi. Alasannya, lahan sepanjang bantaran sungai Jawi-jawi adalah milik pribadi. Sehingga kegiatan penebangan pohon dan pengerusakan lingkungan alami sungai menjadi hak pemilik lahan sepenuhnya.

Lihat foto-fotonya :
https://fotosulawesi.blogspot.co.id/2018/05/foto-ketika-pepohonan-bantaran-sungai.html?m=1

Tuesday, 8 May 2018

Pertama Kalinya Atlet Pemanjat Tebing Indonesia No.1 di Dunia


Aries Susanti Rahayu hanyalah gadis sederhana dari pelosok Grobogan, Jawa Tengah sana. Namun hari Minggu (5/5/2018) kemarin Ia mengejutkan dunia.

Untuk pertama kalinya Merah Putih berkibar di level tertinggi olahraga Panjat Tebing setelah Aries Susanti Rahayu berhasil menjadi juara dan menyabet emas  di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing - IFSC World Cup 2018 di China.

Indonesia yang seringkali dipandang sebelah mata dan relatif sebagai pendatang baru di dunia panjat tebing internasional  langsung menggebrak lewat performa Aries dengan mencatat waktu tercepat di babak kualifikasi Speed Climbing. Performa gadis tersebut terus meningkat dan mengalahkan lawan-lawan tangguh di babak berikutnya antara lain dari Perancis, Kanada, Jepang dan berbagai negara lainnya yang sudah lebih dahulu populer menekuni olahraga ini. Hingga akhirnya di final Ia berhadapan dengan atlet tangguh dari Russia, Elena Timofeeva. Elena adalah peringkat 3 kejuaraan dunia sebelumnya di Moscow.

Di depan ribuan penonton yang memadati Huayan Climbing Park, Chongqing, dengan luar biasa mbak Aries meniti poin demi poin di papan panjat. Gadis berkerudung yang biasanya gemulai ini begitu perkasa melesat bagaikan spiderman melawan gravitasi hingga akhirnya mencapai puncak papan panjat setinggi 50 ft dengan catatan waktu 7.51 detik saja !

Sedangkan atlet Russia harus puas dengan perak dengan catatan waktu 9.01 detik. Aries pun menjadi juara dan Indonesia Raya bergema di China. Ia pun kini bertengger di puncak teratas seri Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2018. Hebatnya lagi, Aries nyaris memecahkan rekor dunia 7.46 detik yg saat ini dipegang oleh atlet berpengalaman Iulia Kaplina. Ini berarti hanya selisih sangat tipis 0.05 detik saja !

Tak kalah membanggakan, rekannya Puji Lestari juga menyabet juara ke-3.

(Ferry Hakim)

Monday, 26 March 2018

Video: Dua Pelaku Pelecehan Adat Tana Toraja diadili Secara Adat


Dua pelaku pelecehan adat Toraja, "injak Tengkorak” yakni Kiki serta teman prianya bernama Randy tiba di Toraja. Kedua pelaku berangkat dari makassar dan tiba pada Senin, (26/3) dinihari, didampingi keluarganya.
Informasi yang dihimpun rencananya hari ini akan diadakan pertemuan dengan pemangku adat serta keluarga di Ke’te Kesu. Pertemuan itu akan dihadiri pihak kepolisian, Forum Pemerhati Budaya Toraja dan unsur terkait.
“Kedua pelaku sudah tiba di Toraja tadi subuh. Ini sementara akan pertemuan di Ke’te Kesu,” ujar Ketua Forum Pemerhati Budaya Toraja, Edi Pasang Sura’ saat dikonfirmasi Torajadaily.com, 26/3/2018.
Sebelumnya kedua pelaku diamankan di Mapolsek Panakukang Makassar. Keduanya datang menyerahkan diri untuk diamankan pihak berwajib.
Kasus pose “Injak Tengkorak” ini diketahui membuat geram masyarakat Toraja. Foto ini dinilai sebagai pelecehan terhadap leluhur Toraja. Apalagi foto yang berseliweran di jagad maya ini viral.

Sumber: torajadaily.com
Video: Kareba Toraja

Sunday, 25 March 2018

Video: Lihat Antusias Masyarakat Jepang dengan Coklat dari Sulawesi Barat


Selama ini, Jepang dikenal sebagai negara yang sangat selektif dan ketat mengimport bahan baku dari luar negaranya. Mereka sangat memperhatikan kualitas dan kandungan kimia terutama menyangkut impor pangan.
Namun produksi coklat hasil pertanian dari Polewali Mandar yang dikelola oleh komunitas Indonesia Hijau, disambut dengan baik oleh mereka. Puluhan akademisi bahkan sangat antusias untuk merekomendasi hasil pertanian coklat dari petani Polman untuk menjadi konsumsi negara mereka.

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates