BREAKING NEWS

Monday, 12 March 2018

Asal Usul Tana Duri di Enrekang Sulsel




Sejak abad XIV, kabupaten Enrekang dikenal dengan nama MASSENREMPULU yang artinya daerah pinggiran gunung atau menyusur gunung. Sebutan Enrekang berasal dari kata ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT merupakan asal mulanya sebutan ENDEKAN.

Sedangkan versi lain mengatakan bahwa kata ENREKANG berasal dari bahasa Bugis yang berarti daerah pegunungan. Penamaan itu lantaran lokasi kabupaten Enrekang ± 85 % dari seluruh luas wilayah dikelilingi oleh gunung dan bukit yang membentang di sepanjang wilayah kabupaten Enrekang dengan luas wilayah ± 1.786.01 Km².

Penduduk Enrekang mayoritas adalah orang Tana Duri. Dalam sejarah dan hikayatnya, Tana Duri berasal dari kisah tentang keturunan salah seorang Arung Bamba Puang yang bernama Pacancang di Rura. Saat Puang Pacancang telah merasa sudah sangat berumur, sementara ia hanya memiliki anak tunggal perempuan bernama PUANG MALLULUNGAN. Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar kepemimpinannya di Bamba Puang tidak terlepas dari keturunannya.

Maka ia pun berupaya mencarikan jodoh anaknya yang sepadan karena kelak menantunya yang akan menggantikan posisinya mengingat anak tunggalnya adalah perempuan. Diutuslah beberapa orang untuk mencari jodoh yang layak. Ternyata banyak putra raja yg datang bahkan hampir semua masih kerabatnya karena semua keturunan WELLANG LANGI yang tersebar di berbagai Kerajaan sekitarnya. Karena banyak yang ingin menjadi menantunya maka Arung Bamba Puang Bingung dan akhirnya memutuskan untuk melakukan ADU PAKE ( perang tanding ilmu kanuragan).

Saat akan dimulai adu pake maka datanglah seorang melaporkan tentang sebuah kejadian aneh di mana salah seorang yang akan ikut dalam sayembara adalah seseorang misterius bernama Puang Salumbun yang datang dari arah timur. Dikabarkan bahwa ia keluar dari dalam sebuah pohon CENAK DURI. Mendengar akan keajaiban kemunculan Puang Salumbun maka semua peserta adu pake mengundurkan diri karena segan dan kuatir.

Akhirnya yang berhak menjadi suami dari PUANG MALLULUNGAN adalah PUANG SALUMBUN. Singkat cerita, di saat Arung Bamba Puang meninggal maka yg menggantikan beliau adalah Puang Salumbun.

Ketika Puang Salumbun jadi Arung maka SALASSA( istana arung/raja) pun dibangun di area tumbuhnya pohon Cenak Duri tempat puang salumbun muncul yaitu di sekitar MALUA, (sekarang Kec. Malua). Selaku Arung, Puang salumbun dikenal sangat pemberani, cerdas, bijaksana dan mengayomi. Seluruh rakyat yang hidup di daerahnya saat itu sangat mencintai pemimpinnya dan memberinya gelar ARUNG I CENAK DURI atau disingkat Arung Duri.

Mereka pun mengindentifikasi diri dan keturunan mereka sebagai pengikut Arung i Duri serta menamakan kampung mereka sebagai Tanah Duri, untuk memastikan wilayah kekuasaan Arung Duri adalah TANA DURI. Nama yang diambil dari nama pohon tempat keluarnya Puang Salumbun yaitu pohon Cenak Duri.

Pohon Cenak Duri adalah tumbuhan jenis Rumput namun mirip pohon Bonsai. Orang jaman dahulu meyakini bahwa tumbuhan tersebut dahulu kala berjenis Pohon. Buktinya adalah sampai sekarang masih ada satu tiang rumah adat di KALUPINI yang di yakini dari batang pohon cenak duri.

Puang Salumbun adalah Arung Pertama di Malepong Bulan Tana Duri yang sebelumnya dikenal sebagai Malepong Bulanna to Manurung Bamba Puang. Ada 7 Arung ke bawah hingga terbentuknya TALLU BATU PAPAN di mana saat pemerintahan Arung Ke VII Tana Duri membagi Tiga Wilayah Duri terhadap ketiga anaknya yang dikenal dengan istilah Tallu Batu Papan yaitu BUNTU BATU, MALUA DAN ALLA.

(dikutip dari catatan Aii Zhiier Sinaja Kondongan)

Share this:

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates