BREAKING NEWS

Friday, 8 March 2019

Asal Mula Munculnya Nama Sorowako di Luwu Timur


Sorowako di daerah Luwu Timur merupakan wilayah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Sorowako juga memiliki danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Danau Matano terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter di bawah permukaan laut.

Sorowako masuk di wilayah Kecamatan Nuha. Ini kota kecil, di Kabupaten Luwu Timur. Luas seluruh wilayah untuk kecamatan sekitar 863 km­­ persegi, jumlah penduduknya 19.778 jiwa (data pemerintah Kecamatan Nuha, Maret 2007). Beberapa pendapat menyebutkan luas Sorowako hanya sekira 2 km persegi.

Perekonomian Sorowako ditopang oleh PT. Vale (dahulu PT. inco) salah satu perusahaan tambang nikel terbesar dunia dengan investasi Kanada. Inco melepas 60 persen saham miliknya pada tahun 2008 ke Vale. Pelepasan saham itu, menurut beberapa catatan, karena alasan krisis Amerika pada tahun yang sama dan harga nikel jatuh di pasaran dunia. Vale adalah perusahaan gas dan mineral dari Brasil.

Di kota ini, sulit mencari orang-orang asli Sorowako. Mereka adalah minoritas. Entah di warung rumahan, warung-warung makan yang berjejer di pasar Magani serta pasar Sorowako dekat danau Matano, yang ditemukan adalah orang dari Rongkong, Toraja, Bugis, atau Jawa.

Sorowako adalah kota asing dari identitas utama mereka. Serbuan para pendatang membuat ruang sosial berubah. Ada penjual sayuran keliling, penjual makanan, pemilik toko, hingga penjual ikan di pasar, selalu menyapa dengan kata ‘Mas’.

Tahun 1950-an ketika DI/TII bergejolak di Sulawesi Selatan, wilayah Sorowako tak lepas dari gempuran. Suku-suku asli melarikan diri karena tak tahan pemaksaan untuk memeluk Islam. Orang Sorowako pada mulanya memeluk kepercayaan animisme.

Jika ingin mengklasifikasi populasinya dengan perkiraan realita, diperkirakan saat ini suku yang paling banyak mendiami Sorowako adalah Rongkong, Toraja, Jawa, Bugis, yang mendiami beberapa daerah sekitar.

Sebenarnya saya rindu mendengar dialeg Sorowako asli. Saya bahkan buta sama sekali dengan bahasa Sorowako. Referensi saya tentang daerah ini sangat sedikit, hanya membaca sepintas, diantara laporan OXIST di buku Kedatuan Luwu dan Cristian Pelras di Manusia Bugis-nya.

Beberapa waktu lalu saya menelpon, Iwan Sumantri, seorang Arkeolog Universitas Hasanuddin. Dia sahabat dan kawan saya, sekaligus mentor pribadi yang kawakan. Menurut Iwan, kata Sorowako berasal dari ucapan pasukan bantuan dari Rongkong – sekarang Kabupaten Luwu Utara. Pada masa itu, terjadi peperangan di daerah Sorowako melawan Mekongga dari Sulawesi Tenggara.


Kala itu orang-orang lokal terpukul mundur dan mulai kalah. Bantuan Rongkong datang dan menyeru, "Jangan ada yang mundur" atau dalam bahasa Suku Rongkong adalah SOROAKO. Seruan itu bersifat tekanan, harus berani dan tak boleh lari. Apapun yang terjadi.

Kini orang-orang Sorowako itu semakin sedikit. Realitanya, disaat wilayahnya berkembang dengan pesat, malah sungguh sudah terpukul mundur. Suaranya kini semakin tak terdengar.

(Eko Rusdianto)


Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates