BREAKING NEWS

Thursday, 30 November 2017

Komunitas Mahadipa, Menanam Cinta di Gunung Bawaraeng


Saya menemukan sebuah kalimat di Mongabay.com yang bernada satire, menuliskan, “Di Jepang, bicara tentang Gunung Fuji semua masyarakat sangat antusias. Bagi orang Makassar, bicara Bawakaraeng pun sama membanggakan. Bedanya hanya di mulut. Hampir sama sekali tak ada perhatian,".

Itulah kenyataan sosial yang terjadi dalam masyarakat kita tentang gunung Bawakaraeng. Sampai saat ini, sulit menemukan informasi mengenai kondisi terakhir menyangkut vegetasi dan kondisi habitat gunung yang berada di Kabupaten Gowa ini, bahkan di Google sekalipun, selain dari ribuan artikel yang berlomba-lomba menceritakan kebanggaan para pendaki gunung dengan beraneka macam gaya foto selfie-nya. Dari data faktual di lapangan, ratusan orang mengunjungi gunung Bawakaraeng setiap minggunya. Bahkan setiap tahun menjelang bulan Agustus, kerap dilaksanakan pendakian massal dan massif dari ribuan komunitas pendaki yang beramai-ramai menapak kawasannya. Ribuan orang ini datang untuk sekedar seremoni upacara bendera dan membuat foto sendiri untuk dipamerkan di media sosial. Efeknya? Sungguh ironis. Saat ini, jumlah sampah yang bertahun-tahun terabaikan dalam kawasan gunung Bawakaraeng disinyalir sudah mencapai volume ribuan ton. Dampaknya sangat buruk terhadap habitat dan ekosistem yang sejak dulu tidak pernah dijaga dengan baik. Ditambah dengan maraknya pembalakan liar dan alih fungsi lahan perkebunan mengakibatkan kondisi hutan Bawakaraeng kini berada dalam titik kritis yang mengkhawatirkan.

Bawakaraeng adalah sumber utama ketersediaan air di tujuh wilayah kabupaten antara lain: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Bawakaraeng adalah hulu. ia seperti payung dalam menjaga wilayah-wilayah itu. Jutaan orang bergantung padanya setiap waktu. Hingga ketinggian 2.000 m dpl, hutan Bawakaraeng adalah vegetasi hutan sekunder. Beberapa saksi mata mengungkapkan, vegetasi hutannya mulai tak berbentuk, terlihat lapang dan mulai tandus. Banyak pohon kering dan mati. Jika vegetasi sudah terbuka, pasokan air ke DAS akan bermasalah. 

Dikutip dari hasil penelitian WALHI, Dalam satu dekade terakhir, luasan hutan di Sulawesi Selatan terus berkurang dari 2,1 juta hektar menjadi 1 juta hektar. Degradasi lahan itu dipicu alih fungsi dan pembalakan liar. Salah satu alih fungsi lahan secara besar-besaran terjadi di areal hulu Sungai Jeneberang, dimana hutan di lereng Gunung Bawakaraeng dikawasan tersebut kini tinggal 8.259 hektar atau hanya 13,3 persen dari total luas wilayahnya. Meski defisit areal hutannya sudah mencapai jutaan hektar, pemerintah setempat malah tidak menempatkan perlindungan hutan sebagai prioritas. Beberapa komunitas Pecinta Alam di Makassar yang pernah melakukan kegiatan penghijauan di Bawakaraeng juga nampak berakhir dengan kesan sekedar seremonial belaka.

Beruntung masih ada segelintir pemerhati alam peduli dengan nasib buruk gunung Bawakareng itu, salah satunya adalah Mahadipa, Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam di STIMIK Dipanegara Makassar. Mahadipa mewujudkan ide menanam pohon di Bawakaraeng yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Rencana besar itu diwujudkan pada pertengahan bulan november 2017. Sebelumnya, rutinitas Mahadipa adalah program mangrove, dimana beberapa hektar pesisir pantai kritis di kabupaten Jeneponto sukses direhabilitasi dengan penanaman Mangrove secara kontiniu.

Tahun 2017, program rehabilitasi alam itu dialihkan ke gunung Bawakaraeng. Mahadipa mengkampanyekan slogan "Menanam cinta di Bawakaraeng" sebagai bentuk pernyataan prihatin atas kondisi gunung Bawakaraeng. Ratusan anggota Mahadipa merespon program ini dengan sukacita, hingga angkatan almamaternya. Tema  "Menanam cinta di Bawakaraeng" dikampanyekan untuk menggugah elemen pemerintah dan semua pelaku penggiat alam agar mengalihkan perhatian ke gunung Bawakaraeng dalam bentuk kegiatan yang nyata berupa penghijauan massal dengan menanam pohon serta menyalurkan donasi sebagai bentuk dukungan.





Pelaksanaan kegiatan "Menanam Cinta di Bawakaraeng", dilakukan oleh ratusan anggota Mahadipa melalui tradisi pendakian bersama di gunung Bawakaraeng, ditengah musim hujan bulan November yang kelabu serta maraknya even-even seremonial beraroma "penghabisan anggaran" akhir tahun. Di video kegiatan yang dirilis di Youtube, nampak kegiatan para anggota Mahadipa menyusur jalur pegunungan mulai dari kawasan pos (shelter) 3 Bawakaraeng, dimana para anggota Mahadipa menyebar di setiap area yang dianggap berpotensi terancam tandus. Aksi penanaman pohon Mahadipa juga sekaligus melakukan aksi bersih gunung dengan menyingkirkan sampah-sampah yang berserakan dijalur-jalur utama. Untuk memudahkan mobilisasi ribuan bibit pohon yang akan ditebar di kawasan gunung, Mahadipa membuka sebuah jalur khusus dari Bulu Ballea ke Pos 5 bawakaraeng. Dari pos 5 itulah, Bibit-bibit pohon berjumlah 5000 bibit ditebar ke wilayah-wilayah hutan yang kritis. Jenis bibit pohonnya adalah Sengon dan Pinus yang menjadi target awal bisa menghijaukan kawasan seluas 7 hektar.



Dalam Fanspage Mahadipa, dijelaskan bahwa kegiatan  "Menanam cinta di Bawakaraeng" bukan satu hal yang serta merta bisa membalik keadaan yang terjadi di gunung Bawakareng. Bibit pohon yang jumlahnya kurang lebih 5000-an yang ditanam, juga tidak bisa dikatakan dapat mengganti kerusakan yang sudah bertahun-tahun mengendap. Tapi  "Menanam cinta di Bawakaraeng" adalah bagan dari ihktiar, dari pada terus menerus mengungkapkan rasa prihatin, mengeluh, berwacana, maka  "Menanam cinta di Bawakaraeng" adalah wujud nyata. Menanam satu pohon, itu jauh lebih baik daripada terus menerus menyalahkan keadaan. Tema cinta yang dikampanyekan Mahadipa bukan tanpa sebab, dasarnya adalah tidak ada satupun yang sanggup menolak jika atas nama cinta, dan kecintaan manusia pada alam adalah wujud rasa syukur terhadap penciptaNya.


BUMI LESTARI, ALAM DAN MANUSIA DAMAI

Sumber foto : Grup FB Mahadipa

Share this:

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates