Grup legendaris K-Pop, BTS, pada tahun 2026 akhirnya resmi melakukan comeback setelah hampir 4 tahun menghilang. Mereka muncul kembali dalam formasi lengkap dan merilis album baru berjudul “Arirang” untuk memuaskan para penggemarnya. BTS atau Bangtan Sonyeondan adalah boyband terbesar Korea Selatan yang sukses merajai industri musik pop global sejak debut 2013, dengan penjualan album terbanyak di dunia yang mencapai 137 juta unit dan memiliki jaringan fandom terbesar di dunia bernama Army yang tersebar diberbagai negara.
Ketika kabar kemunculan BTS diumumkan secara resmi, jutaan fans-nya di seluruh dunia spontan bereaksi penuh antusias. Semua platform media sosial selama berhari-hari diramaikan dengan berita tentang mereka. Tidak heran jika event launching, BTS Comeback yang digelar secara besar-besaran di Gwanghwamun, Seoul, sebagai konser pembuka tur dunianya, langsung diserbu jutaan orang. Kota Seoul pun dipadati turis dari berbagai negara dan berdampak besar terhadap ribuan hotel, restoran, toko dan moda transportasinya dalam waktu sekejap. Saking Populernya BTS ini, hampir semua produksi bisnis di Seoul bisa mendapatkan keuntungan besar hanya dari satu even konser saja.
Keuntungan itu belum dihitung jika tur dunia BTS yang kabarnya akan digelar di 80 kota besar di seluruh dunia dalam rangkaian tur promosinya. Dampak positifnya sangat besar terhadap pencitraan budaya Korea Selatan dan mengakomodir strategi diplomasinya secara efisien. Disamping itu, akan banyak produk turunan Korsel yang bakal ikut menuai hasil selama promosi boyband itu berlangsung.
Soft Power: Bentuk Penjajahan?
Meski boyband BTS ini sangat terkenal, saya bukan fansnya. Secara musik, hip-hop dan RnB kontemporer yang rata-rata diusung musisi K-Pop bukan genre yang saya sukai. Di samping itu, perspektif gaya visual mereka menurut saya terlalu berlebihan karena merupakan produk hasil rekayasa fashion. Saya lebih tertarik melihat konsep agensi mereka yang profesional dalam mengolah promosi dan mengembangkan performa sumber daya manusianya. Efisiensi media yang mereka maksimalkan adalah platform sosial—murah, efektif, dan tentu saja masif. Sejak kasus Covid melanda seluruh dunia pada tahun 2020 lalu, promosi K-Pop seolah menemukan jalan terang untuk menguasai pasar global.
Satu hal yang menarik, kesuksesan boyband BTS ini tidak lepas dari peran pemerintah Korea Selatan yang sukses mengadopsi konsep ekspansi Barat dalam mencitrakan hegemoni budaya mereka sebagai negara yang beradab, modern, dan dinamis pada era 70 hingga 90-an. Era 90 hingga 2000-an, hal serupa dilakukan oleh Jepang, dan kini diadopsi kembali oleh Korea Selatan dimana karya seni dijadikan sebagai strategi diplomasi. Desain strategi ini dikenal dengan istilah soft power.
Soft power adalah konsep dalam hubungan internasional yang merujuk pada kemampuan suatu negara memengaruhi negara lain tanpa paksaan, tetapi melalui daya tarik. Istilah ini dipopulerkan oleh Joseph Nye, seorang ilmuwan politik asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai profesor dan pakar hubungan internasional yang pernah memberi pengaruh kuat dalam konsep strategi geopolitik modern Amerika Serikat.
Fenomena global seperti BTS bukan sekadar keberhasilan industri musik atau refleksi gemerlap dunia hiburan. Itu adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar: strategi negara dalam membentuk pengaruh global melalui hegemoni budaya. Untuk memahami ini, kita tidak bisa melihat BTS sebagai artis semata. Itu adalah senjata rahasia Korea Selatan untuk melancarkan soft power ke berbagai belahan dunia, dengan BTS sebagai ujung tombak globalnya.
Kita hidup di zaman di mana penjajahan tidak lagi datang dengan senjata, kapal perang, atau ekspansi wilayah. Soft power datang dengan serangan yang jauh lebih halus—melalui film, musik, dan cerita. Semua itu adalah bentuk senjata yang paling mematikan dalam mode untuk menguasai peradaban.
Jejak Lama: Barat sebagai Arsitek Awal
Sebelum Jepang dan Korea, dunia sudah lebih dulu “dibentuk” oleh Amerika Serikat. Generasi tahun 70 hingga 90-an di seluruh dunia menjadi saksi bagaimana gerakan ekspansi karya seni Barat, mulai dari musisi, film Hollywood, hingga budaya MTV, mampu membentuk cara berpikir dan standar hidup generasi muda dunia untuk mendefinisikan bahwa peradaban yang “keren” adalah dunia Barat.
Tanpa disadari, generasi tersebut menyerap nilai individualisme, kebebasan, dan gaya hidup urban global. Ini bukan kebetulan. Ini adalah arsitektur pengaruh melalui budaya.
Setelah pengaruh Jepang di tahun 90 hingga 2000-an, masuklah Korea Selatan. Mereka tidak menciptakan sistem ini dari nol. Mereka belajar dari Barat dan Jepang, lalu menyusun ulang, menyesuaikan konsep global, kemudian mengeksekusinya dengan disiplin tinggi. Hasilnya, muncullah K-pop, drama Korea, film global, dan tentu saja BTS. Jika dunia Barat menciptakan sistem, Jepang sebagai eksekutor, maka Korea adalah penyempurnaannya.
Target yang Sebenarnya
Banyak orang mengira tujuan dari fenomena ini adalah popularitas. Padahal, inti sebenarnya jauh lebih dalam, yaitu mengontrol persepsi global tentang siapa mereka.
Melalui BTS dan gelombang budaya lainnya, Korea Selatan berhasil mengubah citra dari negara pasca perang menjadi pusat budaya global. Mereka merancang strategi untuk masuk ke dalam kehidupan sehari-hari generasi muda dunia dan secara tidak langsung menciptakan kedekatan emosional lintas negara, khususnya pada generasi mudanya.
Mengapa anak muda? Karena mereka lebih terbuka dan merupakan pembentuk tren. Potensi mereka adalah menjadi pemimpin masa depan di negaranya.
Ketika jutaan anak muda mendengarkan, menonton, mengikuti, dan mengidentifikasi diri dengan budaya Korea, maka yang terjadi bukan sekadar konsumsi, melainkan internalisasi identitas. Ironisnya, dampak yang muncul dalam situasi tersebut adalah krisis identitas. Budaya dan kearifan lokal secara sistematis akan tersingkir dengan sendirinya.
Bayangkan satu hal sederhana: jika sebagian dari jutaan anak muda itu suatu hari nanti menjadi pejabat, pembuat kebijakan, atau pemimpin di negaranya, apa yang akan terjadi?
Mereka mungkin tidak sadar secara sistematis telah familiar dengan budaya Korea karena memiliki persepsi positif, sehingga tidak memiliki resistensi. Hasilnya, kebijakan tidak harus pro-Korea, tetapi hampir pasti tidak akan anti-Korea. Inilah bentuk paling halus dari pengaruh jangka panjang.
Apakah ini sebuah bentuk penjajahan? Dalam teori klasik, tidak. Karena tidak ada paksaan dan tidak ada kekerasan. Namun efeknya mirip penjajahan: budaya lokal tergeser, identitas dikaburkan, dan cara berpikir dipengaruhi.
Maka istilah yang lebih tepat dalam perspektif global adalah “dominasi”—mendominasi budaya global untuk membentuk dan menguasai ruang imajinasi generasi muda.
Posisi Indonesia dalam Hal ini?
Indonesia dikenal sebagai fanbase budaya K-Pop dan drama Korea terbesar di dunia. Bahkan saat ini kabarnya sudah berada di peringkat satu. Betapa ironisnya nasib negara ini yang dikenal sangat kaya dengan seniman, kebudayaan beragam, serta keindahan alam yang luar biasa, namun jutaan masyarakatnya justru bertekuk lutut dan memuja hegemoni budaya dari bangsa luar.
Jika belajar dari Korea dan Jepang, maka pemerintah Indonesia seharusnya membangun ekosistem kreatif dan mendukung penuh aktivitas yang berkaitan dengan industri seni budaya. Pemerintah tidak perlu membuat karya, tetapi menyediakan jalan bagi setiap karya seni untuk bertumbuh dan menyebar, serta memiliki arah narasi yang jelas dan konsisten dalam jangka panjang.
Sejauh ini, Indonesia belum memaksimalkan program dukungan terkait pengembangan industri kreatif sebagai kekuatan strategi diplomasi. Meskipun beberapa kementerian sudah mengaplikasikan konsepnya, implementasinya berjalan tidak maksimal karena sudah menjadi rahasia umum bahwa programnya dikendalikan oleh segelintir komunitas eksklusif yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya.
Selama itu pula, persoalan yang terjadi hanya berputar pada masalah teknis seperti sistem distribusi dan alokasi anggaran yang tidak merata. Akibatnya, aktivitas program seni dan budaya berjalan sendiri dan tidak terkonsentrasi. Padahal, banyak sekali karya seni budaya Indonesia dan pelaku seni yang berpotensi untuk berkembang lebih besar lagi. Itu adalah peluang industri yang sangat besar, namun sampai saat ini belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah. Sangat naif jika mereka tidak mengetahui besarnya kontribusi ekonomi industri kreatif jika digarap dengan serius.
Lihat kontribusi ekonomi industri Hallyu (K-Pop, drama, film) yang menjadi salah satu penopang utama ekonomi Korea Selatan, menghasilkan dampak ekonomi yang setara dengan industri berat. Industri kreatif Korea Selatan, terutama K-Pop dan drama Korea (Hallyu), menyumbang lebih dari US$30,6 miliar atau sekitar Rp470 triliun per tahun, mencapai 7,5% dari total PDB pada 2022. K-Pop sendiri menyumbang sekitar US$10 miliar atau sekitar Rp150 triliun per tahun.
Untuk boyband BTS saja sudah mampu menghasilkan lebih dari 3,54 miliar dolar AS atau Rp51 triliun bagi perekonomian Korea Selatan setiap tahun. Angka tersebut setara dengan kontribusi 26 perusahaan skala menengah.
Seni dan budaya selayaknya memang harus dimanfaatkan sebagai alat pengaruh global jangka panjang, minimal menjadi perisai peradaban bagi generasi penerus.
Dari Barat ke Jepang dan Korea, kita bisa melihat pola yang sama: mereka masuk lewat hiburan yang mampu membentuk emosi, mengarahkan persepsi, dan pada akhirnya memengaruhi identitas generasi.
Dalam konsep bertahan setiap bangsa hari ini, siapa yang mampu menguasai imajinasi, akan memengaruhi masa depan peradaban.

0 Comments