Pertengahan tahun 2022, saya mendapat peluang untuk menulis sebuah buku biografi tentang seorang aktivis sosial Toraja sekaligus pengelola kawasan wisata Kete Kesu. Sebuah pekerjaan yang tidak hanya menantang, tetapi juga menyenangkan—karena memberi kesempatan untuk menyelami langsung ruang budaya yang selama ini dikenal luas hingga mancanegara.
Selama kurang lebih tiga bulan, saya bersama tim akhirnya menyelesaikan produksi buku tersebut. Buku ini berjudul A Soul for Toraja, dicetak terbatas dalam edisi eksklusif.
Buku biografi A Soul for Toraja menghadirkan kisah hidup almarhum Ely Pamalingan—bukan sekadar menelusuri perjalanan kariernya sebagai pejabat pemerintah, tetapi juga mengungkap visi besar dan dedikasinya dalam membangun wajah baru pariwisata Toraja.
Berbeda dari kebanyakan buku biografi yang cenderung berat dan berdesain konservatif, buku ini hadir dengan pendekatan yang lebih segar: naskah ringan, narasi hangat, serta desain visual full color bergaya majalah dengan balutan hard cover minimalis. Kemasannya sederhana namun elegan, memudahkan pembaca untuk larut dalam kisah perjuangan Ely mengembangkan Kete Kesu sebagai ikon budaya Toraja yang kini dikenal luas.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, Ely Pamalingan juga mendorong pemberdayaan UMKM lokal, menghadirkan ruang-ruang spiritual sebagai simbol toleransi antarumat beragama, serta menggagas berbagai event berskala internasional. Upaya-upaya ini menjadikan Kete Kesu tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat interaksi budaya yang hidup.
Buku ini menampilkan potret seorang pemimpin visioner yang mampu merangkai nilai budaya, ekonomi kerakyatan, dan spiritualitas dalam satu arah pembangunan. Secara tidak langsung, kiprahnya juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan menguatkan identitas Toraja—yang sempat terpinggirkan oleh dominasi narasi pariwisata daerah lain di Indonesia.
Dengan gaya penulisan yang mengalir dan reflektif, A Soul for Toraja bukan hanya sebuah biografi, melainkan juga manifesto tentang kecintaan terhadap tanah kelahiran, dedikasi kepada masyarakat, dan keberanian untuk mengangkat martabat budaya lokal ke panggung dunia.
Singkatnya, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang percaya bahwa perubahan besar selalu lahir dari visi yang tulus—dan keberanian untuk mewujudkannya.


0 Comments