Slank hari ini bukan lagi sekadar band legendaris Indonesia, melainkan simbol kemapanan yang lahir dari euforia politik. Framing terhadap mereka seketika berubah ketika lagu terbaru berjudul “Republik Fufufafa” dirilis—menjadikan Slank cermin retak tempat publik bercermin sambil melempar batu. Band yang dulu dipuja karena keberaniannya kini diseret ke pengadilan digital, dituduh menjilat kekuasaan, seolah sejarah harus dibekukan dalam satu pose paling heroik agar layak dikenang. Di negeri ini, masa lalu kerap berubah menjadi borgol: siapa pun yang pernah melawan diwajibkan terus melawan, bahkan ketika usia menua dan dunia telah berganti wajah.
Saya
adalah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah menjadi penggemar band
ini—meski tidak pernah sampai pada taraf fanatik. Di luar lirik-liriknya yang
nakal dan liar, selera saya justru tertambat pada keberanian musikal mereka:
sebuah keberanian untuk keluar dari pakem band Indonesia pada masanya. Slank
hadir dengan bunyi yang berbeda, sikap yang lepas, dan energi yang terasa
jujur. Karya-karyanya dipuja karena dianggap mewakili suara hati, terutama
generasi muda yang kritis dan resah. Lagu-lagu yang memuat kritik sosial dan
fenomena politik Indonesia menempatkan Slank sebagai simbol perlawanan rakyat.
Simbol itulah yang kemudian mengangkat popularitas mereka, menjulang jauh
melampaui band-band lain sezamannya.
Namun
rasa hormat itu hilang ketika Slank terseret ke dalam pusaran politik praktis.
Popularitas yang dulu lahir dari kegelisahan jalanan kini dimanfaatkan sebagai
medium kampanye, menyokong kebijakan pemerintah dan kepentingan para pejabat
kelas atas. Bahkan, salah satu personelnya diberi jabatan khusus di perusahaan
milik negara. Reaksi pun tak terelakkan: sebagian besar penggemar fanatik
mereka keberatan, marah, dan melontarkan cacian. Mereka menghendaki Slank tetap
berdiri sebagai simbol perlawanan—ikon yang tak boleh disentuh, apalagi
dikotori, oleh kepentingan politik siapa pun. Mereka merindukan sosok pahlawan
yang murni, yang berani berdiri berseberangan dengan ketidakadilan dan
ketidakpastian sosial di negeri ini.
Saya
bisa memahami, hingga batas tertentu, mengapa band sebesar Slank akhirnya
memilih berbelok arah dan menentang kondisi pemerintah Indonesia saat ini.
Mungkin saja, setelah lebih dari satu dekade menetapkan keberpihakan pada salah
satu petinggi negara, mereka menyadari bahwa diri mereka telah dimanfaatkan.
Kesadaran idealis itu bisa saja datang. Awal tahun 2026, lagu berjudul "Republik Fufufafa" pun dirilis. Lagu itu mengindikasikan bahwa ada keinginan Slank untuk
kembali ke rel lama—menjadi simbol perlawanan rakyat seperti dahulu. Namun
pertanyaannya sederhana sekaligus ironis: apakah itu masih mungkin?
Hampir sebagian besar orang Indonesia tahu, telah
puluhan tahun Slank menikmati limpahan materi, akses, dan posisi yang nyaman karena keberpihakan. Apakah mungkin seseorang—apalagi sebuah band besar—tiba-tiba berbalik arah dan kembali
menjadi penentang? Di mata sebagian masyarakat, perubahan sikap Slank yang terkesan instan itu, justru
dibaca sinis: mereka malah menilai karena tak lagi kebagian “jatah”, Slank harus
“turun gunung” dan kembali berteriak menuntut hak. Entah itu hak pribadi, atau
klaim mewakili suara rakyat. Yang jelas, tafsir publik tak lagi ramah. Netizen
tumpah dalam amarah yang nyaris serempak. Bukannya sukses, lagu "Republik Fufufafa" yang
dirilis Slank akhirnya malah menuai caci maki dan komentar pedas : Penjilat
yang kehilangan tuan.
Hari ini, Slank berdiri di sebuah persimpangan jalan yang
bising. Di satu sisi, mereka telah terlanjur dicap sebagai pengkhianat—ikon
yang harus menanggung dosa masa lalu. Di sisi lain, mereka dikutuk karena
dianggap marah bukan karena tuntutan idealisme, melainkan oleh kehilangan
privilese. Dalam posisi serba salah ini, Slank bukan lagi sekadar band, melainkan
simbol yang diperebutkan tafsirnya: antara penebusan dan kutukan, antara
perlawanan yang terlambat dan dosa yang tak mudah diampuni.
Ironinya, yang paling lantang berteriak “penjilat” seperti tak benar-benar ingin mendengar lagi musik Slank. Mereka lebih sibuk menghitung jarak
Slank dengan istana ketimbang mendengar jarak nada dengan kegelisahan. Di era
algoritma, sikap dibaca lebih cepat daripada makna, dan simbol lebih penting
daripada isi. Maka Slank tak lagi dinilai sebagai karya, melainkan sebagai
posisi: berdiri di mana, foto dengan siapa, hadir di panggung apa. Musik
dikalahkan oleh caption.
Dulu,
ketika Slank menyanyikan kegaduhan jalanan, mereka dielu-elukan sebagai suara
rakyat. Kini, ketika mereka memilih berbicara dengan bahasa yang lebih
rapi—atau bahkan diam—mereka dianggap berkhianat. Seolah kedewasaan adalah
dosa, dan perubahan adalah pengkhianatan. Padahal yang sering tak diakui
netizen adalah kenyataan pahit ini: idealisme tidak selalu dengan teriakan;
kadang kita memilih bertahan dengan cara yang kadang kurang dipahami.
Ada
semacam kenikmatan sadis dalam membongkar berhala lama. Menjatuhkan ikon
memberi rasa kuasa: seakan dengan menyebut “penjilat”, seseorang otomatis
menjadi lebih murni. Netizen lupa bahwa kemurnian yang tak pernah diuji waktu hanyalah
ilusi. Mereka ingin Slank tetap kurus, tetap marah, tetap hidup di gang Potlot
yang bebas dan liar—sementara mereka melontarkan marah sembari menikmati Wi-Fi
dan minuman manis yang dingin.
Mungkin masalahnya bukan pada Slank, melainkan pada
ekspektasi yang tak mau berdamai dengan kenyataan. Bahwa band, seperti manusia,
menua. Bahwa perlawanan punya banyak bentuk—dan tidak semuanya enak difoto.
Tapi di linimasa, nuansa adalah musuh. Yang laku hanyalah vonis cepat, satu
kata, satu label.
Maka
Slank pun terjebak di tengah paradoks: terlalu besar untuk diampuni, terlalu
tua untuk dimaafkan, dan terlalu hidup untuk dibekukan. Mereka bukan lagi milik
panggung kecil, tapi juga tak sepenuhnya diterima panggung besar. Di situlah
sinisme bekerja: ketika sejarah ditulis ulang oleh kemarahan singkat, dan musik
dipaksa tunduk pada tafsir moral yang berubah tiap hari.
Pada
akhirnya, dan mungkin, seperti saya, sebagian dari kita hanya sedang belajar
menerima bahwa tidak semua pahlawan sanggup tetap suci di usia tua. Tuduhan
“penjilat” lebih banyak bicara tentang yang menuduh ketimbang yang dituduh.
Tentang kerinduan akan pahlawan yang tak pernah salah, tentang ketakutan
menghadapi kenyataan bahwa tidak semua perlawanan berakhir indah. Slank mungkin
telah berubah—atau mungkin hanya berhenti memenuhi fantasi sebagian orang
sehingga mereka harus berhadapan dengan Indonesia, sebuah negeri yang gemar
mengutuk, dimana hukuman dan sanksi sosial seolah tidak pernah cukup untuk dosa
lama.

0 Comments