Dalam beberapa bulan terakhir, linimasa media sosial dipenuhi video para konten kreator—selain selebriti dan selebgram, banyak di antaranya berasal dari Tiongkok atau diaspora Asia Timur—yang membagikan uang tunai, sembako, hingga hadiah mewah kepada orang asing di jalanan. Adegannya sederhana: seseorang diberi uang, terkejut, tersenyum, lalu berterima kasih. Video berakhir. Jutaan penonton menonton, ribuan komentar memuji “kebaikan hati”, dan algoritma bekerja tanpa henti.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan mekanisme yang jauh lebih kompleks.
Konten yang Terlihat Baik, tapi Sangat Terukur
Konten bagi-bagi uang bukan sekadar aksi spontan. Ia adalah format yang sangat terukur untuk platform video pendek. Emosi yang ditampilkan—kaget, haru, bahagia—mudah dipahami lintas bahasa dan budaya. Tidak perlu subtitle, tidak perlu konteks panjang. Dalam hitungan detik, penonton sudah “merasakan sesuatu”.
Bagi algoritma, ini adalah konten ideal:
- Retensi tinggi: penonton menonton sampai akhir untuk melihat reaksi.
- Interaksi cepat: like, share, dan komentar datang spontan.
- Rewatchable: reaksi emosional sering ditonton ulang.
- Dalam ekonomi perhatian, emosi adalah mata uang paling stabil.
Dari Pemberian ke Pencitraan
Dalam banyak budaya Asia Timur, tindakan memberi memiliki makna simbolik yang kuat. Ia bukan hanya tentang empati, tetapi juga tentang posisi sosial. Orang yang memberi ditempatkan sebagai pihak yang “sudah sampai”, mapan, dan berlimpah. Kamera hanya memperkuat pesan itu.
Di sinilah pergeseran terjadi: pemberian tidak lagi sekadar relasi antara dua individu, melainkan pertunjukan status di ruang publik digital. Penonton tidak hanya melihat orang lain dibantu, tetapi juga melihat figur pemberi sebagai pusat narasi—sumber kebaikan, sumber kelimpahan.
Amal yang Jadi Model Bisnis
Banyak kreator yang melakukan praktik ini tidak bergantung pada satu video. Mereka membangun serial, karakter, bahkan brand personal. Uang yang dibagikan sering kali kembali dalam bentuk:
- monetisasi platform,
- kerja sama merek,
- penjualan produk digital,
- atau penguatan reputasi untuk bisnis lain.
Dalam konteks ini, uang yang diberikan di jalanan berfungsi sebagai biaya produksi konten—setara dengan iklan. Bukan berarti tidak ada manfaat bagi penerima, tetapi relasi kuasa dan tujuan utama sudah bergeser.
Fantasi Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Popularitas konten ini juga tidak bisa dilepaskan dari situasi global. Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, konten yang menampilkan “rezeki tak terduga” menjadi pelarian psikologis. Ia menawarkan fantasi sederhana: bahwa hidup bisa berubah hanya dengan satu pertemuan kebetulan.
Masalahnya, fantasi ini bekerja satu arah. Penonton diberi emosi, bukan pemahaman. Yang dibagikan adalah momen, bukan solusi struktural.
Antara Kebaikan Nyata dan Konsumsi Emosi
Poin paling krusial dari fenomena ini bukan soal niat baik atau buruk, melainkan bagaimana kebaikan dikemas dan dikonsumsi. Ketika empati direduksi menjadi klip berdurasi 30 detik, ia berisiko menjadi komoditas—habis ditonton, lalu dilupakan.
Di titik ini, kita perlu bertanya:
Apakah kita sedang menyaksikan kebaikan, atau hanya mengonsumsi perasaan baik?
0 Comments