Di Banjarmasin, kota yang dahulu tumbuh dari pelukan sungai, generasi baru seolah tak lagi menoleh ke arah aliran air yang sejak dulu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat mereka. Padahal jika mereka paham, alam sungai Barito adalah dunia mereka. Atmosfirnya sarat dengan nuansa peradaban dan tradisi orang sungai. Meski mengalami degradasi sosial dan berbagai persoalan lingkungan, keindahan dan pesonanya tak memudar. Temaram senjanya selalu indah jika bias-biasnya menggurat bayangan kapal besar dan perahu kecil bagai siluet dalam lukisan. Cantik sekali.
Sungai Barito sebagai Akar Peradaban Banjar
Sungai Barito bukan sekadar bentangan air lebar yang memisah dan menyambung pulau-pulau kecil. Ia adalah saksi bisu peradaban: tempat nelayan melempar jala, ibu-ibu mencuci kain sambil berbincang, dan anak-anak menyelam dengan tawa tanpa beban. Dari sanalah kehidupan selalu mengalir; dari situ pula hasil bumi, kayu, bahkan batu bara diangkut keluar, menyambung industri besar dari sejuta impian yang kian menjulang.
Tahukah kita? banyak yang berjalan tanpa sempat menengok ke sungai. Terlalu sibuk dengan gemerlap daratan, masyarakat Banjarmasin perlahan seperti kehilangan ikatan batinnya dengan Barito. Sungai itu laiknya sekedar pemandangan yang lewat begitu saja di balik kaca kendaraan, hilang ditengah riuhnya kesibukan, dan dipandang bukan lagi ruang hidup yang bermakna.
Barito River Cruise: Wisata yang Menyimpan Makna Budaya
Di tengah kepudaran itu, muncul secercah cahaya dari sebuah inisiatif yang diam-diam menghidupkan kembali ingatan kolektif: Barito River Cruise. Program wisata sosial ini lahir dari kolaborasi Pinisi Pusaka Indonesia, PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers), dan segelintir aktifis membawa misi mulia — menyadarkan kembali bahwa sungai bukan hanya masa lalu, melainkan masa depan yang menjanjikan.
Even peresmian Barito River cruise.
Barito River Cruise membawa Pinisi menyusuri sungai Barito yang sudah lama penat dengan kesibukan. Jenuh dari lelah didera kepentingan industri. Padahal setiap kali menjelang senja, kita selalu menyaksikan pesona langit yang berbalur jingga, cahayanya memantul di permukaan air seperti lukisan tak berbingkai. Namun keajaiban sungai Barito yang selama ini tersembunyi, terabaikan di balik hiruk-pikuk kota.
Barito River Cruise mengajak masyarakat mulai kembali menatap Barito — tak lagi sekadar lalu lintas angkutan komoditas dan hiruk pikuk manusia, tapi menciptakan ruang bebas yang bisa menata kehidupan sosial yang lebih ramah dan familiar dengan cara yang lebih arif.
Menjaga Sungai Barito, Menjaga Identitas
Sebagian warga Banjarmasin berusaha memahami potensi Barito dan mencoba membuka layanan wisata perahu dengan mengandalkan klotok meski tanpa fasilitas memadai. Tidak heran jika pengalaman wisatawan kerap berujung tanpa kesan. Tapi dari keterbatasan itu, ada kesadaran yang terjaga, bahwa potensi ini nyata, dan hanya menunggu disentuh dengan cara yang bijak dan penuh cinta.
Barito River Cruise menjadi jendela baru yang memperlihatkan betapa besarnya berkah sungai jika dikelola tak hanya untuk mengeksploitasi, tapi untuk menghargai dan merayakan. Jika ekosistemnya dijaga, tradisi dilestarikan, sungai Barito bisa menjadi sumber kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.
Pinisi Barito River Cruise menghadirkan keleluasaan yang tak sekadar kenyamanan, melainkan pengalaman menyeluruh. Sarana dan fasilitasnya dirancang bukan hanya untuk melayani, tetapi untuk merangkul siapa saja yang ingin menyelami nuansa sungai yang agung ini. Dari situ, siapa pun akan mengerti: keindahan, jika dinikmati dengan layak, akan menciptakan nilai cinta—hangat dan melekat di hati. Mereka hanya perlu membuka diri, mengenal alam Barito dengan saksama, dan perlahan, rasa cinta itu akan tumbuh, datang dengan sendirinya, seperti arus tenang yang tak pernah berhenti mengalir.
Dan lebih dari itu, sungai Barito mengundang kita semua untuk mengenal kembali jati diri. Di arusnya tersimpan sejarah peradaban Banjar, budaya pasar terapung, cerita penyebar dakwah kebaikan, dan leluhur yang menganyam hidup dari air. Kini, tinggal kita — maukah membuka hati, menoleh, lalu mendayung kembali menuju akar yang lama kita abaikan?
Karena sejatinya, Barito tidak pernah pergi. Kita saja yang terlalu lama berpaling.

0 Comments