BREAKING NEWS

Thursday, 19 March 2015

Hutan Jompie, Antara Pelestarian Mistik dan Pelestarian Alam

Parepare adalah salah satu kota pantai di Sulawesi Selatan dengan keunikan alam pantainya yang melegenda sebagai bandar transaksi perdagangan internasional masa lampau. Selain pemandangan alam pantainya yang menyenangkan, kota ini juga memiliki hutan kota bernama hutan Jompie, sebuah hutan alami seluas 13,5 hektar dengan berbagai ragam biota dan habitat yang fantastik. Dalam kawasan hutan banyak terdapat jenis pohon langka yang sudah berumur ratusan tahun. Sumber airnya melimpah dan mengalir bening membawa kesejukan hutan yang asri. Uniknya, Hutan Jompie dengan habitat alami ini tepat berada ditengah kepadatan kota Parepare.

Di Indonesia, hanya ada dua kota di Indonesia yg memiliki kawasan hutan kota alami yg luas, yaitu Bogor dan Parepare. Pelestarian hutan kota yang kini trend sebagai pendukung pembangunan ruang hijau perkotaan selebihnya sudah merupakan hutan rekayasa. 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat masih menjabat presiden Indonesia senantiasa mempertegas bahwa hutan alami Jompie di Parepare ini harus di perhatikan baik-baik. SBY sadar, Hutan Jompie merupakan salah satu lingkungan alami yang mewakili pencitraan Indonesia dalam pengelolaan lingkungan hijau global khususnya dalam hegemoni pengembangan kota. Hutan Jompie ini pula yang pernah menobatkan Kota Pare-pare sebagai salah satu kota terbaik yang mendapatkan penghargaan tertinggi dalam bidang pengelolaan lingkungan yakni piala Adipura.

Ironis, ketika keberadaan hutan alami yang luar biasa ini belakangan terabaikan oleh masyarakat dan pemerintahnya sendiri. Sejak tahun 90-an, habitat alami hutan Jompie diobrak abrik pemerintah kotanya dengan berbagai pola pengembangan instan, penataan kawasan yang amburadul tanpa perencanaan yang matang. Tanpa estetika. Bahkan beberapa situs bersejarah dalam kawasan hutan dibongkar hanya untuk sekedar membuat kolam renang dan gerbang tiketing. Hutan Jompie berjalan dengan fungsi yang tidak semestinya. Konsep naturalnya distorsi dengan aktivitas yang sekedar mendapatkan keuntungan kecil yang tidak ada artinya.

Sejak penataan yang memporak porandakan kawasannya, hutan Jompie akhirnya terabaikan. Terlupakan sama sekali. Terjadi distorsi sosial. Hutan Jompie tiba-tiba muncul dengan berbagai cerita mistik yang konyol, bahwa didalam hutan itu bermukim banyak makhluk aneh yang mengganggu manusia, banyak tuyul dsb. Beberapa titik dalam kawasan, ditemukan embel ritual berupa sisa lilin, daun-daun yang terlipat serta sisa pembakaran dupa. Hutan Jompie menjelma menjadi kawasan yang menakutkan utamanya buat anak kecil. Cerita-cerita mistik menyeramkan dilestarikan dengan baik oleh sekelompok warga yang punya kepentingan tertentu dengan hutan ini hingga pada akhirnya membuat leluasa orang-orang yang tidak bertanggung jawab berbuat sekenanya. Beberapa kawasan hutan Jompie mulai diterobos pemukiman liar, ironisnya, pemerintahnya malah tidak peduli sama sekali.





Untungnya, dalam keterpurukan hutan Jompie, sekelompok anak muda peduli lingkungan yang tergabung dalam komunitas Bumi Lestari, Kapas dan beberapa komunitas lokal lainnya mulai melirik potensi alam kotanya yang terpendam di hutan Jompie. Mereka sadar jika hutan Jompie ini terus menerus terabaikan, akan menjadi objek pembalakan untuk pemukiman liar yang berpotensi menghancurkan habitat alaminya. Masa depannya hanya akan menjadi sekedar kisah bahwa di dalam kota ini pernah ada lingkungan hutan yang alami.  

Tanpa dukungan dari mana pun, komunitas relawan ini beraksi membersihkan kawasan hutan Jompie utamanya sampah-sampah non organik, sumber dan saluran air di kuras, serta menata pedestariannya. Aksi peduli lingkungan di hutan jompie yang dilakukan secara bertahap itu pun akhirnya mulai dilirik masyarakat umum khususnya sekolah dan lembaga swadaya.



Terlibatnya komunitas peduli lingkungan dan berbagai elemen masyarakat muda di kota Parepare akhirnya mampu menjawab misteri pelestarian hutan yang menjadi teka teki bagi masyarakat. Aksi tersebut bisa membuka wawasan dan pemahaman masyarakat bahwa keberadaan hutan jompie-lah yang memberi keseimbangan dalam konsep pembangunan perkotaan. Pengelolaan yang baik tentu akan menciptakan berbagai peluang bagi masyarakat untuk menciptakan potensi ekonomi kreatif seperti halnya yang sudah dilakukan pendahulunya, Kebun Raya Bogor. 

foto: Syahrani Said, Wardi Kapas


Share this:

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates