Gladian Nasional Pecinta Alam XV di Makassar: Mau Kemana?


Gladian Nasional adalah ajang pertemuan akbar pecinta alam dan pegiat alam bebas di Indonesia yang perhelatannya sudah dimulai sejak tahun 1970.

Gladian ini awalnya diadakan oleh organisasi pegiat alam bebas, WANADRI tahun 1970 di Jawa Barat yang sebenarnya diadakan khusus untuk internalnya saja. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di alam bebas seperti aktifitas pendakian gunung, pengenalan SAR, membangun kekeluargaan serta berbagi informasi dan pengalaman. Namun terlibatnya beberapa organisasi pecinta alam dari Jawa Timur pada saat itu akhirnya memunculkan ide untuk menjadikan gladian sebagai ajang pertemuan tahunan bagi para pecinta alam.

Dalam sejarah perhelatannya, gladian nasional yang fenomenal adalah Gladian Nasional IV di Sulawesi Selatan. Di gladian itulah lahir sebuah Kode Etik Pecinta Alam Indonesia yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai organisasi dan perkumpulan pecinta alam di Indonesia.

Embrio kode etik digagas pertama kali pada gladian pertama di Bandung yang akhirnya dikembangkan menjadi 12 butir Kode Etik pada gladian ke II di Malang. Selanjutnya pada gladian ke III yang diadakan di Pantai Carita, Kode Etik disempurnakan kembali menjadi 7 butir..

Tahun 1974, Gladian Nasional Pecinta Alam se-Indonesia ke IV dihelat di Pulau Kayangan Makassar yang dihadiri oleh organisasi dan perhimpunan pecinta alam se-Indonesia. Kode Etik Pecinta Alam Indonesia dibacakan, disahkan, dan dikukuhkan oleh para peserta yang hadir saat itu dengan harapan menjadi nilai-nilai yang  terus diperjuangkan oleh Pecinta Alam Indonesia. (artapalaindonesia.com)

Kita tidak menutup mata bahwa proses perjalanan gladian nasional dari waktu kewaktu memang sudah tampak tertatih-tatih. Esensinya lamban menyesuaikan diri seiring meredupnya agresifitas dunia kepecintalaman saat ini. Era keemasannya yang pernah membakar semangat komunitas pecinta alam untuk bergerak kini memudar. Semangat gladian malah seolah-olah hanya berkembang dalam ruangnya sendiri. Cenderung eksklusif dan nilai sosialnya minim adaptasi terhadap perubahan jaman.

Saat ini, ketika bicara gladian, orang malah mengidentifikasinya sebagai ajang berkumpulnya komunitas pecinta alam penganut ideologi tradisional. Visi dan misinya dinilai belum mampu menciptakan "social interest" yang universal terkait berbagai masalah humanity dan persoalan pelestarian alam yang saat ini semakin kritis. Perhelatannya pun terkesan dipaksakan semata-mata untuk sekedar membangun imej bahwa kaum pecinta alam konvensional ini masih bernafas.

Terbukti, beberapa tahun belakangan ini, pelaksanaan gladian selalu dirundung masalah. Pengunduran waktu, pembatalan dan benturan kepentingan. Apa masalahnya? Jawabannya yaa, karena minim dukungan dari donatur/sponsor terutama dari pihak penentu kebijakan. Untuk mendapatkan dukungan itu,  pertanyaannya cuma satu, apa manfaatnya?

Saya menyimpulkan berbagai opini yang berpendapat tentang gladian nasional ini, bahwa saatnya gladian membangun kembali dasar konsepnya dari kultur dan kearifan lokal. Karena dari situ, tujuannya akan bersinergi terhadap kondisi perubahan dan perkembangan sosial yang terjadi saat ini. Bukan konsep baru tapi menggali kembali konstruksi ide dan gagasan awal munculnya gladian ini. Jika perlu, undang khusus para perintisnya untuk kembali ikut merekonstruksi pondasinya.

Penyelenggaraan gladian ke 15 di Makassar tentu kembali menjadi harapan semua komunitas pecinta alam dan pegiat alam bebas untuk menemukan komposisi yang terbaik agar tujuannya bisa memberi manfaat yang universal dan edukafif bagi orang banyak. Setidaknya sudah mampu memberi jawaban terhadap sebuah pertanyaan besar selama ini: gladian nasional mau dibawa kemana?

Post a Comment

0 Comments