BREAKING NEWS

Wednesday, 31 August 2016

Tidak ada Kebun Binatang di Indonesia Timur


Para pencinta binatang dalam lembaga-lembaga resmi sejak dulu telah menyalahkan prosedur untuk mendapatkan hewan yang sebelumnya ditangkap dari sebagian besar spesimen mereka untuk kebutuhan komersil. Mereka langsung ditangkap dari alam liar, serta adanya pertukaran hewan melalui program penangkaran dari kebun binatang lain. 
Kebun binatang adalah bisnis yang mengandalkan penghasilan dari penjualan tiket dan penjualan barang dagangan untuk dapat tetap berjalan. Agar biaya tetap rendah, banyak kebun binatang mengurangi staf dan minim pelatihan dan keterampilan untuk benar-benar peduli terhadap satwa yang sensitif. Kesejahteraan hewan ditempatkan pada prioritas yang rendah saat pengelolaan kebun binatang mencoba tetap dalam posisi untung.
Pengelolaan kebun binatang yang ideal pada dasarnya mengutamakan konservasi yang menjamin keberadaan satwa untuk dijaga dan pada waktu tertentu bisa dikembalikan ke habitatnya. Di Indonesia, pola tersebut adalah sesuatu yang langka dan tentu menjadi sebuah masalah mengingat satwa-satwa liar yang mereka pelihara itu di eksploitasi untuk keuntungan semata.

Kenapa kebun binatang di Indonesia dominan berada di wilayah Barat?
Pengadaan kebun binatang pada dasarnya adalah media konservasi dan penangkaran yang tujuannya untuk menggugah masyarakat akan pentingnya habitat satwa. Di Indonesia bagian barat, sebagian besar hutannya telah dibabat untuk kepentingan industri kehutanan dan perkebunan. Kehidupan satwa-satwa liarnya terancam dan lingkungan habitat alaminya telah rusak. Selain itu, banyak satwa langka diburu dan diperdagangkan utamanya di Sumatera. Tidak heran jika kebun binatang lebih banyak ditemukan di Sumatera yang berbasis donasi lembaga asing yang digunakan sebagai media kampanye perlindungan satwa.
Begitupun di wilayah Jawa dan sekitarnya, dimana habitat alami satwa liar telah terusik dengan pembukaan lahan perkebunan besar-besaran. Kondisi ini menuntut pemerintah setempat untuk membuat sebuah wahana yang bisa memberi wawasan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga pelestarian satwa langka.

Kebun Binatang tidak ditemukan di Indonesia Timur?
Tahun 80-an, Makassar pernah memiliki kebun binatang, namun pemerintah daerah kurang memperioritaskan APBD-nya untuk kelangsungan pengelolaannya. Selain petugas yang belum terlatih, kawasan kebun binatang yang terletak di jalan utama kota, digusur karena penataan kota, sehingga butuh biaya besar untuk membangun taman di tempat yang baru. Pengelolaan kebun binaang bisa menguras APBD hingga puluhan milyar hanya untuk biaya operasionalnya. Apalagi jika melengkapi propertinya, jumlah biaya bisa sampai ratusan milyar.
Sejak kebun binatang di kota Makassar tidak dilanjutkan, sampai saat ini belum ada satu pun pembangunan kebun binatang hingga ke wilayah timur indonesia. Meski ada investor swasta yang mencoba untuk menawarkan komposisi baru yang mempertontonkan satwa liar berupa burung-burung langka di Gowa Discovery park, namun belum diperhitungkan sebagai kebun binatang yang ideal karena tidak menampung hewan-hewan langka seperti pada umumnya yang ada di kebun binatang.

Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan lebih memilih mengelola dana dari pemerintah pusat untuk mendanai taman nasional dan pelestarian satwa liar dibanding pembangunan kebun binatang. Dengan program pelestarian yang melibatkan semua elemen dalam masyarakat, kawasan Indonesia timur tidak membutuhkan kampanye pelestarian satwa yang berselubung kebun binatang dan ujung-ujungnya hanya menjadi orientasi keuntungan.
Selain penanganan alam dan habitat yang masih terpantau, kampanye pelestarian satwa dalam bentuk kebun binatang di indonesia timur dianggap belum menjadi hal yang penting, mengingat sebagian besar hutan di wilayah timur Indonesia sampai saat ini masih dalam kondisi yang baik, tidak mengalami kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di wilayah barat. Hutannya yang lestari menjamin habitat alami satwa-satwa liarnya tetap terjaga dengan baik dan dilindungi sepenuhnya oleh masyarakat.

Share this:

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates