BREAKING NEWS

Wednesday, 31 August 2016

Industri Film di Sulawesi Selatan, Bangun dari tidurnya


Film-film produksi Makassar pernah berjaya di jajaran papan atas industri perfilman nasional era tahun 70 – 80-an. Beberapa karya sineas Makassar yang booming saat itu di antaranya Pendekar Sumur TujuhSanrego, dan Senja di Pantai Losari. Di masa kejayaan industri film Makassar itu muncul satu sosok seniman Makassar dengan “aroma semerbak” bernama Rahman Arge.
Memasuki era tahun 90, dunia film Makassar menjadi lesu sejalan dengan lunglainya industri film nasional. Sebagian besar pelaku perfilm-an beralih ke layar kaca (pada masa itu stasiun tv hanya TVRI). Selepas produksi film Lelaki dari Tanjung Bira yang di rilis tahun 1992, hampir tidak terdengar lagi gaung produksi film dari Makassar. Dunia film Makassar pun “mati suri”, suram dan tidak berdaya.
Awal tahun 2000, produksi film di Makassar kembali bermunculan namun sebagian besar digarap dalam format Indie. Rilisnya pun hanya memenuhi kanal Youtube. Tahun 2003, sebuah stasiun televisi lokal yaitu Fajar TV, bekerjasama dengan Ichwan Persada, mencoba menggugah pelaku industri film lokal dengan program televisi, “Sinemania”, namun tidak memberi pengaruh sama sekali.
Hampir satu dekade kondisi itu berjalan hingga suatu ketika sebuah karya film layar lebar pada tahun 2010 berjudul Aliguka, mulai membuka ruang. Kendati belum terhitung komersil, film “idealis” besutan Arman Dewarti yang digarap dengan biaya minim ini mulai menjawab dominasi ruang kreatif bagi sederet produksi film nasional yang selama ini identik dengan Jakarta, Bandung atau pulau Jawa dan sekitarnya. Dunia film dibuat tersentak, ada film yang muncul dari Makassar.
Film Aliguka dikemas bernuansa Makassar kental dengan gaya lokal yang khas. Film berdurasi sekitar 70 menit ini merekam berbagai realita paradoksal kehidupan warga kota, mulai dari rumah susun kumuh yang sumpek, Perjuangan kaum miskin kota hingga kehidupan malam para pelacur di kota ini. Aliguka dianggap sebagai awal kebangkitan dunia per-filman Makassar yang sekian lama berkarat.
Meski tidak terlalu populer, gaung film Aliguka mampu memberikan pengaruh terhadap seorang sineas ternama indonesia, Riri Riza untuk balik ke kampung halamannya. Ia kemudian membangun komunitas Rumata’ dan membuka peluang untuk ikut mendukung bangkitnya produksi film lokal di Makassar. Sejak itu, produksi film-film berkualitas mulai bermunculan. Banyak sineas keluar dari sarangnya.
Catatan prestasi produksi film lokal yang mengagumkan mulai ditoreh ketika seorang sutradara muda Makassar, Andrew Parinussa menjuarai sebuah festival film internasional di jepang tahun 2013. Film pendek garapannya yang berjudul Adoption, sukses menyingkirkan 11.657 karya film dari seluruh dunia dan berhak meraih penghargaan “first prize”. Makassar masuk dalam 6 film terbaik dunia.
Setahun dari kesuksesan di Jepang, menyusul film pendek karya sineas muda Makassar lainnya, Aditya Ahmad berjudul “Sepatu Baru” berhasil memenangkan penghargaan internasional Special Mention untuk Film Pendek Terbaik kategori Generation KPlus di Berlinale, sebuah perhelatan Festival Film Internasional ke-64 yang diselenggarakan di Berlin, Jerman, 16 Februari 2014.
Tahun 2014 merupakan fase dimana produksi film Makassar sudah mulai menemukan kembali nafasnya. Beberapa produksi film dari sineas Makassar yang mendapat apresiasi dan penghargaan berskala nasional.
Pada masa transisi itu, sebuah produksi film ber-genre drama fiksi dari kelompok Art2tonic dengan judul “Bombe” akhirnya berhasil menerobos industri film komersil dengan menggandeng jaringan bioskop nasional, XXI. Kendati kental nuansa politik, film Bombe mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Sulawesi Selatan. Art2tonic yang digawangi sutradara bernama Rere ini sukses melepas dahaga panjang industri film di Makassar dan membuat produksi film lokal menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Art2tonic tercatat sebagai pembesut film lokal yang paling subur di Indonesia Timur. Deretan produksi filmnya antara lain Bombe, Bombe2, Dumba-dumba, Sumiati dan terakhir, Cinta Rasa Coklat, semuanya mendapat respon yang luar biasa dan mampu menembus pasar hingga ke pulau Jawa ditengah gempuran film barat dan film nasional.
Tahun 2016, sebuah perusahaan film lokal Makassar, Makkita Cinema Production, juga berhasil menciptakan terobosan baru dengan besutan film yang berjudul “Uang Panai”. Film ber-genre drama komedi yang mengusung tema kehidupan sosial masyarakat Sulsel ini mencatat sejarah baru dalam industri film komersil di Makassar. Bekerjasama dengan jaringan XXI, 21 kota di Indonesia menayangkan film ini dimana sebagian besar bioskopnya harus membuka dua layar lantaran jumlah penonton yang membludak. Film Uang Panaik yang di produseri oleh Amril Nuryan ini melibatkan penyanyi populer Katon Bagaskara sebagai artis pendukungnya. Sejak dirilis 25 Agustus 2016, film ini sukses mengangkangi beberapa film nasional.
Industri film Makassar yang mulai menggeliat dan sukses menguasai pasarnya dikandang sendiri, kini telah membuka mata para pelaku industri kreatif di Indonesia bahwa industri per-filman Makassar sudah bangun dari tidurnya yang panjang. Ketika jalan dan ruangnya sudah terbuka, dunia per-filman Indonesia bersiap untuk menikmati kembali serbuan warna kreatifitas para sineas Makassar yang pada umumnya memiliki karakter khas yang kental dengan kekuatan lokalnya. Ewako.

Share this:

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diary. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates